Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meledak setelah gencatan senjata resmi berakhir. Presiden AS, Donald Trump, secara sepihak membatalkan kesepakatan damai dengan menuding pihak Iran sebagai pembohong.
Menyusul pernyataan tersebut, Komando Pusat Militer AS langsung melancarkan serangan udara ke lebih dari 80 target di Iran. Gempuran yang menyasar kawasan pembangkit listrik nuklir Bushehr dan kota-kota pelabuhan ini diklaim sebagai balasan atas gangguan lalu lintas kapal komersial di Selat Hormuz.
Tidak tinggal diam, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) membalas dengan meluncurkan rudal balistik dan drone ke sejumlah pangkalan militer AS di Timur Tengah. Serangan ini menargetkan pangkalan Arifjan dan Ali Al Salem di Kuwait, Jufair dan Sheikh Isa di Bahrain, serta pangkalan udara Al-Azraq di Yordania.
Akibat saling serang ini, sirene peringatan udara meraung di berbagai negara sekutu AS. Militer Kuwait dan Bahrain melaporkan telah berhasil menghalau sejumlah rudal dan drone, meski serpihan proyektil sempat melukai satu orang di Kuwait. Pihak IRGC menegaskan akan ada serangan susulan jika agresi terus berlanjut.
Peningkatan eskalasi konflik berdarah ini terjadi di momen yang sangat emosional bagi rakyat Iran. Di saat rudal saling berbalas, jutaan warga Iran tengah mengiringi prosesi pemakaman mendiang Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei menuju tempat peristirahatan terakhirnya di Makam Imam Reza.





Komentar (0)