Ponorogo (beritajatim.com) – Di tengah dominasi Reog sebagai identitas budaya Ponorogo, masih tersimpan kesenian tradisional yang keberadaannya nyaris tidak diketahui publik luas. Kesenian itu adalah Tari Keling, warisan budaya yang hingga kini hanya ada dan bertahan di Dukuh Mojo, Desa Singgahan, Kecamatan Pulung. Tarian tersebut tetap dilestarikan secara turun-temurun oleh warga setempat meski zaman terus berubah.
Pertunjukan Tari Keling memiliki ciri khas yang berbeda dari kesenian daerah lainnya. Sejumlah penari laki-laki berjalan beriringan membawa tombak, pedang, dan gada. Tubuh mereka diwarnai hitam pekat, sementara iringan kentongan dan kendang mengatur ritme langkah para penari yang tampil layaknya pasukan perang.
Di belakang rombongan prajurit, para penari perempuan bergerak mengikuti alunan musik tradisional. Kostum sederhana berbahan karung goni justru menjadi identitas yang membedakan kesenian tersebut dari pertunjukan rakyat lainnya di Ponorogo. Unsur visual yang unik itu membuat Tari Keling mudah dikenali sekaligus menyimpan daya tarik tersendiri.
Sesepuh Dukuh Mojo, Wiyoto, mengatakan masyarakat setempat meyakini Tari Keling telah ada sebelum lahirnya Reog Ponorogo. Keyakinan tersebut diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari cerita rakyat yang hidup di tengah masyarakat. Meski demikian, hingga kini belum ada penelitian yang secara pasti membuktikan usia kesenian tersebut.
“Tarian ini sudah ada sejak nenek moyang kami. Di dusun ini bahkan diyakini lebih dulu ada daripada Reog,” kata Wiyoto, ditulis Minggu (12/7/2026).
Sejumlah sumber menyebut Tari Keling telah dikenal sejak 1922. Dalam penelitian berjudul Koreografi Tari Keling Gunojoyo di Dukuh Mojo, Singgahan, Pulung, Ponorogo yang dilakukan Kustantina Mutiaraningrum dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, disebutkan kesenian tersebut sempat mengalami masa vakum akibat kemiskinan yang melanda masyarakat. Tari Keling kemudian kembali dipentaskan pada 1942 dan terus bertahan hingga sekarang.
Tari Keling mengangkat kisah Raja Bagaspati dari Kerajaan Tambas Keling yang menculik putri kembar Kerajaan Ngerum setelah pinangannya ditolak. Dalam cerita tersebut, kedua putri berhasil diselamatkan oleh Joko Tawang dari Padepokan Waringin Putih. Kemenangan itu kemudian dirayakan melalui arak-arakan yang diyakini menjadi awal mula pertunjukan Tari Keling.
Selain kisah kerajaan, masyarakat Mojo juga mengenal versi lain mengenai asal-usul tarian tersebut. Cerita rakyat menyebutkan bahwa pada awal abad ke-20 wilayah itu pernah dilanda kekeringan panjang yang menyebabkan paceklik. Saat itu, warga menggelar prosesi menuju sumber mata air Kucur sebagai bentuk doa dan harapan agar terhindar dari kesulitan hidup.
Menurut Wiyoto, keberadaan Tari Keling hingga kini masih sangat terikat dengan masyarakat Dukuh Mojo. Regenerasi penari dilakukan secara turun-temurun dalam lingkungan dusun. Upaya dari daerah lain untuk mengembangkan kesenian serupa pernah dilakukan, namun tidak berlanjut.
“Tari Keling ini memang hanya anak-anak Dusun Mojo. Dulu pernah ada daerah lain mencoba membuat kesenian seperti ini, tapi hanya sekali tampil lalu berhenti,” ungkapnya.
Dalam satu kali pementasan, Tari Keling melibatkan 22 penari. Mereka terdiri dari 12 prajurit Keling, 2 pujangga, 6 abdi kinasih yang berperan layaknya jathil, serta 2 emban sepuh. Setiap tokoh memiliki fungsi tersendiri dalam membangun alur cerita yang selama ini diwariskan secara lisan.
Keunikan lain terlihat pada penari laki-laki yang seluruh tubuhnya dihitamkan menggunakan campuran bubuk arang dan minyak kelapa. Tradisi tersebut menjadi bagian penting yang tidak dapat dipisahkan dari identitas Tari Keling. Bahkan saat tampil di luar daerah, para penari kerap harus memberikan penjelasan kepada masyarakat mengenai proses pewarnaan tubuh tersebut.
“Kalau tampil di luar daerah sering harus menjelaskan dulu karena proses mewarnai badan dianggap mengotori tempat,” pungkas Wiyoto. [end/suf]





Komentar (0)