Medan (ANTARA) - Malam itu, riuh tepuk tangan pengunjung mengiringi gerakan para penari yang membawakan tarian khas Kabupaten Nias Selatan di panggung Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU).
Busana adat, irama musik tradisional, dan lantunan lagu daerah berpadu menghidupkan suasana penuh budaya dari wilayah di ujung barat Pulau Sumatera tersebut.
Secara bergantian beragam tarian tradisional ditampilkan, yang mengisyaratkan kebersamaan, penghormatan kepada leluhur, serta semangat masyarakat dalam menjaga warisan leluhur.
Suasana kian semarak ketika atraksi lompat batu ditampilkan. Tradisi itu, yang telah menjadi ikon Nias dan dikenal hingga ke mancanegara, menjadi salah satu penampilan yang paling menyita perhatian pengunjung.
Di sisi panggung, layar menampilkan panorama Nias Selatan, mulai dari pantai yang menjadi tujuan peselancar dunia, bentang perbukitan yang hijau, hingga kehidupan masyarakat yang tetap menjaga adat dan tradisi.
Baca juga: Kemen UMKM minta Pekan Raya Sumut jadi ajang 'business matching' UMKM
Perpaduan seni pertunjukan dan visual itu menghadirkan gambaran utuh mengenai potensi budaya dan pariwisata setempat.
Di tempat terpisah, Paviliun Kabupaten Deli Serdang menyambut pengunjung dengan tarian Melayu. Di tempat itu, beragam produk unggulan dipamerkan, mulai dari busana tradisional, cendera mata, makanan khas, sampai potensi wisata alam.
Seakan tak mau kalah, Kabupaten Langkat menawarkan kerajinan tangan, produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), dan ikan hias lokal, dan penutup kepala tanjak. Dipamerkan pula sejarah Kesultanan Langkat dan berbagai destinasi wisata unggulan yang menjadi daya tarik daerah itu.
Tidak hanya pemerintah daerah, pelaku ekonomi kreatif juga memanfaatkan PRSU sebagai ruang promosi. Stan 061 Apparel, misalnya, memamerkan cendera mata resmi PRSU hasil karya pelaku usaha lokal asal Medan.
"061 berkolaborasi dengan PRSU. Kami membuat official merchandise PRSU. Kebetulan kami merupakan produk lokal asal Medan, sehingga ingin terus berinovasi," kata M Arief Siregar, pemilik jenama itu.
Partisipasi juga datang dari PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divisi Regional I Sumatera Utara yang memberikan potongan harga tiket kereta api hingga 20 persen bagi pengunjung PRSU. Mereka juga bisa memesan tiket perjalanan antar kota, termasuk di Pulau Jawa.
Stan-stan kuliner di Pekan Raya Sumatera Utara. (ANTARA/M.Sahbainy Nasution). PRSU telah digelar secara rutin selama setengah abad. Tahun ini, pekan raya itu berlangsung di Medan pada 3 Juli hingga 2 Agustus. Daya tariknya tidak melulu soal hiburan dengan menampilkan talenta-lokal dan nasional, tetapi juga bisnis.
Wakil Gubernur Sumatera Utara Surya mengatakan penyelenggaraan PRSU ke-50 tahun ini bukan sekadar menghibur masyarakat. Pekan raya itu juga menjadi wadah strategis untuk mempromosikan pembangunan daerah, menarik investasi, dan menggerakkan ekonomi lokal.
"PRSU ke-50 menjadi penanda perjalanan sejarah pembangunan Sumatera Utara. Ini bukan hanya panggung hiburan, tetapi ruang pertemuan investasi, promosi potensi daerah, kekayaan budaya, pariwisata, hingga pengembangan sumber daya manusia," katanya.
Baca juga: Gubernur Sumut mendukung PRSU masuk Karisma Event Nusantara
Senada dengan Surya, Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Evita Nursanty mengatakan PRSU ke-50 diharapkan bukan sekadar menjadi agenda tahunan, tetapi juga etalase promosi potensi daerah, UMKM, ekonomi kreatif, perdagangan, investasi, budaya, dan pariwisata.
Maksimalkan potensi daerah
Bagi wisatawan asal Amerika Serikat, Aliest, PRSU menjadi salah satu pengalamannya yang berkesan. Ia mengunjungi pekan raya itu untuk mengenal lebih dekat budaya dan produk unggulan dari berbagai kabupaten dan kota di Sumatera Utara.
"Ya, tentu saya ingin belajar lebih banyak tentang kebudayaan Sumatera Utara," katanya.
Di Paviliun Kabupaten Dairi, dia melihat secara langsung Kopi Sidikalang yang telah lama dikenal sebagai salah satu kopi unggulan Indonesia, serta berbagai produk tenun yang menjadi identitas daerah tersebut.
Tradisi lompat batu dipertunjukkan oleh Pemerintah Kabupaten Nias Selatan di Pekan Raya Sumatera Utara di Medan. (ANTARA/M.Sahbainy Nasution) Pengalaman Aliest itu menunjukkan bahwa PRSU mampu menghadirkan beragam potensi daerah di satu tempat. Bagi wisatawan, ajang tersebut menjadi jendela untuk mengenal kekayaan alam, budaya, dan produk lokal Sumatera Utara.
Pekan raya itu telah menjadi salah satu daya tarik wisatawan asing. Badan Pusat Statistik (BPS) setempat mencatat jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Sumatera Utara mencapai 28.124 orang pada Mei 2026, naik 13,33 persen dibandingkan 24.815 orang pada bulan sebelumnya.
Akademisi Universitas Islam Sumatera Utara Gunawan Benjamin menilai, PRSU dapat menjadi pintu masuk bagi investor untuk mengetahui potensi ekonomi setempat.
Menurut dia, kekuatan pariwisata Sumatera Utara menjadi modal penting untuk meningkatkan upaya mempromosikan potensi daerah di sana.
Baca juga: KAI hadirkan promo tiket 20 Persen di Pekan Raya Sumut
DIa menilai penyelenggara PRSU perlu melibatkan sektor perhotelan, biro perjalanan wisata, maskapai penerbangan, dan pelaku pariwisata agar wisatawan yang berkunjung ke Sumatera Utara bisa diajak mengunjungi pekan raya itu.
Harapannya, turis tidak hanya berwisata dan mengenal budaya, tetapi mengetahui pula produk-produk unggulan, peluang investasi, dan potensi usaha di berbagai daerah Sumatera Utara.
Kelak, PRSU bukan semata menawarkan kemeriahan panggung, keramaian paviliun, dan antusiasme pengunjung. Ajang itu menjadi ruang yang mempertemukan identitas budaya dengan aktivitas ekonomi.
Di tempat itulah, setiap kabupaten dan kota menunjukkan jati dirinya, sementara masyarakat dan pelaku usaha menemukan peluang yang dapat menggerakkan perekonomian Sumatera Utara.
Baca juga: Dinas KPTPH Sumut sosialisasikan penggunaan pupuk organik di PRSU
Baca juga: Disperindag sajikan komoditas ekspor asal Sumut di PRSU
Busana adat, irama musik tradisional, dan lantunan lagu daerah berpadu menghidupkan suasana penuh budaya dari wilayah di ujung barat Pulau Sumatera tersebut.
Secara bergantian beragam tarian tradisional ditampilkan, yang mengisyaratkan kebersamaan, penghormatan kepada leluhur, serta semangat masyarakat dalam menjaga warisan leluhur.
Suasana kian semarak ketika atraksi lompat batu ditampilkan. Tradisi itu, yang telah menjadi ikon Nias dan dikenal hingga ke mancanegara, menjadi salah satu penampilan yang paling menyita perhatian pengunjung.
Di sisi panggung, layar menampilkan panorama Nias Selatan, mulai dari pantai yang menjadi tujuan peselancar dunia, bentang perbukitan yang hijau, hingga kehidupan masyarakat yang tetap menjaga adat dan tradisi.
Baca juga: Kemen UMKM minta Pekan Raya Sumut jadi ajang 'business matching' UMKM
Perpaduan seni pertunjukan dan visual itu menghadirkan gambaran utuh mengenai potensi budaya dan pariwisata setempat.
Di tempat terpisah, Paviliun Kabupaten Deli Serdang menyambut pengunjung dengan tarian Melayu. Di tempat itu, beragam produk unggulan dipamerkan, mulai dari busana tradisional, cendera mata, makanan khas, sampai potensi wisata alam.
Seakan tak mau kalah, Kabupaten Langkat menawarkan kerajinan tangan, produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), dan ikan hias lokal, dan penutup kepala tanjak. Dipamerkan pula sejarah Kesultanan Langkat dan berbagai destinasi wisata unggulan yang menjadi daya tarik daerah itu.
Tidak hanya pemerintah daerah, pelaku ekonomi kreatif juga memanfaatkan PRSU sebagai ruang promosi. Stan 061 Apparel, misalnya, memamerkan cendera mata resmi PRSU hasil karya pelaku usaha lokal asal Medan.
"061 berkolaborasi dengan PRSU. Kami membuat official merchandise PRSU. Kebetulan kami merupakan produk lokal asal Medan, sehingga ingin terus berinovasi," kata M Arief Siregar, pemilik jenama itu.
Partisipasi juga datang dari PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divisi Regional I Sumatera Utara yang memberikan potongan harga tiket kereta api hingga 20 persen bagi pengunjung PRSU. Mereka juga bisa memesan tiket perjalanan antar kota, termasuk di Pulau Jawa.
Stan-stan kuliner di Pekan Raya Sumatera Utara. (ANTARA/M.Sahbainy Nasution). PRSU telah digelar secara rutin selama setengah abad. Tahun ini, pekan raya itu berlangsung di Medan pada 3 Juli hingga 2 Agustus. Daya tariknya tidak melulu soal hiburan dengan menampilkan talenta-lokal dan nasional, tetapi juga bisnis.
Wakil Gubernur Sumatera Utara Surya mengatakan penyelenggaraan PRSU ke-50 tahun ini bukan sekadar menghibur masyarakat. Pekan raya itu juga menjadi wadah strategis untuk mempromosikan pembangunan daerah, menarik investasi, dan menggerakkan ekonomi lokal.
"PRSU ke-50 menjadi penanda perjalanan sejarah pembangunan Sumatera Utara. Ini bukan hanya panggung hiburan, tetapi ruang pertemuan investasi, promosi potensi daerah, kekayaan budaya, pariwisata, hingga pengembangan sumber daya manusia," katanya.
Baca juga: Gubernur Sumut mendukung PRSU masuk Karisma Event Nusantara
Senada dengan Surya, Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Evita Nursanty mengatakan PRSU ke-50 diharapkan bukan sekadar menjadi agenda tahunan, tetapi juga etalase promosi potensi daerah, UMKM, ekonomi kreatif, perdagangan, investasi, budaya, dan pariwisata.
Maksimalkan potensi daerah
Bagi wisatawan asal Amerika Serikat, Aliest, PRSU menjadi salah satu pengalamannya yang berkesan. Ia mengunjungi pekan raya itu untuk mengenal lebih dekat budaya dan produk unggulan dari berbagai kabupaten dan kota di Sumatera Utara.
"Ya, tentu saya ingin belajar lebih banyak tentang kebudayaan Sumatera Utara," katanya.
Di Paviliun Kabupaten Dairi, dia melihat secara langsung Kopi Sidikalang yang telah lama dikenal sebagai salah satu kopi unggulan Indonesia, serta berbagai produk tenun yang menjadi identitas daerah tersebut.
Tradisi lompat batu dipertunjukkan oleh Pemerintah Kabupaten Nias Selatan di Pekan Raya Sumatera Utara di Medan. (ANTARA/M.Sahbainy Nasution) Pengalaman Aliest itu menunjukkan bahwa PRSU mampu menghadirkan beragam potensi daerah di satu tempat. Bagi wisatawan, ajang tersebut menjadi jendela untuk mengenal kekayaan alam, budaya, dan produk lokal Sumatera Utara.
Pekan raya itu telah menjadi salah satu daya tarik wisatawan asing. Badan Pusat Statistik (BPS) setempat mencatat jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Sumatera Utara mencapai 28.124 orang pada Mei 2026, naik 13,33 persen dibandingkan 24.815 orang pada bulan sebelumnya.
Akademisi Universitas Islam Sumatera Utara Gunawan Benjamin menilai, PRSU dapat menjadi pintu masuk bagi investor untuk mengetahui potensi ekonomi setempat.
Menurut dia, kekuatan pariwisata Sumatera Utara menjadi modal penting untuk meningkatkan upaya mempromosikan potensi daerah di sana.
Baca juga: KAI hadirkan promo tiket 20 Persen di Pekan Raya Sumut
DIa menilai penyelenggara PRSU perlu melibatkan sektor perhotelan, biro perjalanan wisata, maskapai penerbangan, dan pelaku pariwisata agar wisatawan yang berkunjung ke Sumatera Utara bisa diajak mengunjungi pekan raya itu.
Harapannya, turis tidak hanya berwisata dan mengenal budaya, tetapi mengetahui pula produk-produk unggulan, peluang investasi, dan potensi usaha di berbagai daerah Sumatera Utara.
Kelak, PRSU bukan semata menawarkan kemeriahan panggung, keramaian paviliun, dan antusiasme pengunjung. Ajang itu menjadi ruang yang mempertemukan identitas budaya dengan aktivitas ekonomi.
Di tempat itulah, setiap kabupaten dan kota menunjukkan jati dirinya, sementara masyarakat dan pelaku usaha menemukan peluang yang dapat menggerakkan perekonomian Sumatera Utara.
Baca juga: Dinas KPTPH Sumut sosialisasikan penggunaan pupuk organik di PRSU
Baca juga: Disperindag sajikan komoditas ekspor asal Sumut di PRSU






Komentar (0)