Cerita Mengharukan Gary Iskak di Balik Film Lastri: Arwah Kembang Desa

tabloidbintang.com
7 jam lalu
Cover Berita

TABLOIDBINTANG.COM - Produser Lastri: Arwah Kembang Desa, Joe Richard, membagikan kisah perjuangan Gary Iskak selama menjalani proses syuting di Lumajang. Menurutnya, saat itu kondisi kesehatan Gary sudah tidak prima, tetapi semangatnya untuk menyelesaikan film tidak pernah surut.

Joe mengungkapkan bahwa setiap malam Gary harus menggunakan tabung oksigen agar tetap bisa bernapas dengan baik. Tim produksi bahkan beberapa kali harus mencari tempat pengisian oksigen demi memastikan proses syuting tetap berjalan.

"Bang Gary itu selama syuting memang dalam keadaan kurang sehat. Setiap malam dia harus membawa tabung oksigen untuk membantu napas. Kami harus keliling mencari pengisian oksigen saat habis agar dia tetap bisa syuting dengan baik," kenang Joe Richard dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (10/7).

Meski kesehatannya menurun, Gary tetap menunjukkan dedikasi tinggi sebagai seorang aktor. Joe menilai pemeran Turenggo itu selalu tampil maksimal begitu kamera mulai merekam, seolah mampu menyembunyikan rasa sakit yang dirasakannya.

"Selama kami syuting di Lumajang itu, dia (Gary) pribadi yang sangat tidak enakan sama orang, jadi dia diundang terus ke kanan ke kiri (selama di Lumajang) aku sampai bingung 'Ya ampun dia kapan istirahatnya gitu loh' tapi besoknya begitu syuting lagi dia on dia betul-betul yang kadang-kadang jalan juga agak susah tapi ketika take dia menunjukkan sebagai Turenggo yang kuat," jelas Joe.

Lastri: Arwah Kembang Desa menjadi warisan terakhir Gary Iskak di dunia perfilman Indonesia. Aktor tersebut meninggal dunia setelah seluruh proses syuting rampung akibat kecelakaan lalu lintas tunggal di kawasan Pesanggrahan, Jakarta Selatan, pada 29 November 2025. Berdasarkan keterangan kepolisian, sepeda motor Yamaha RX King yang dikendarainya kehilangan kendali hingga menabrak pohon dan membuatnya terjatuh ke jalan.

Sementara itu, sutradara Hendri Tivo menjelaskan bahwa Lastri: Arwah Kembang Desa hadir dengan pendekatan berbeda dibandingkan film horor pada umumnya. Ia memilih membangun rasa takut melalui atmosfer yang mencekam, bukan sekadar mengandalkan kemunculan hantu atau efek jumpscare.

"Memang film ini tidak kami hadirkan seperti horor kebanyakan yang penuh dengan jumpscare atau bermain dengan hantu seperti pocong atau kuntilanak. Kami di sini menghadirkan ketakutan lewat suasana-suasana yang mencekam," ujar Hendri dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (9/7).

Hendri menambahkan bahwa unsur drama menjadi kekuatan utama film tersebut. Menurutnya, konflik antartokoh dibangun agar penonton tidak hanya merasakan ketegangan, tetapi juga ikut terbawa emosi oleh jalan cerita.
"Fokus kami adalah pada drama yang kuat. Horor di sini sebagai penguat suasana, namun nyawa utamanya tetap pada cerita drama yang menyentuh hati," jelasnya.

Film ini mengisahkan Atmi yang diteror arwah Lastri, seorang perempuan yang semasa hidup dikenal sebagai kembang desa dan menikah dengan juragan tambang pasir bernama Turenggo. Berbagai fitnah dan hasutan yang lahir dari rasa iri akhirnya memicu rangkaian peristiwa tragis yang menjadi inti cerita dalam film bergenre drama-horor tersebut.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Komjak Awasi Penanganan Kasus Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
• 18 menit lalu
0
thumb
Berita Sepekan: Konser Soft Launching Ex-Hitech Ricuh hingga Eri Copot Lurah Tambak Wedi
• 7 jam lalu
0
thumb
Pertumbuhan E-Commerce Belum Merata, Jawa Masih Jadi Pusat Transaksi Digital
• 6 jam lalu
0
thumb
Kata Eks Ketua KPK Abraham Samad soal Pelimpahan Tiga Perkara Korupsi ke Kejaksaan
• 7 jam lalu
0
thumb
Islam Makhachev Sindir Kekalahan Conor McGregor dari Max Holloway di UFC 329, Ini Kata Anak Didik Khabib Nurmagomedov
• 5 jam lalu
0
Berhasil disimpan.