Anutin Charnvirakul kembali terpilih menjadi Perdana Menteri (PM) Thailand berdasarkan pemilihan terbaru di parlemen. Anutin adalah keturunan dinasti perusahaan konstruksi dan seorang pilot jet amatir yang memperjuangkan dekriminalisasi ganja di Thailand dan menampilkan dirinya sebagai sosok yang dekat dengan rakyat.
Dilansir AFP, Kamis (19/3/2026), setelah kemenangan pemilu yang mengejutkan pada bulan Februari, parlemen menempatkan petahana kembali usai meraup suara melawati ambang batas 250. Politikus konservatif miliarder ini ditugaskan untuk mengatasi pertumbuhan yang lemah dan gejolak ekonomi lainnya di masa mendatang.
Anutin dikenali sebagai sosok yang menyukai makanan jalanan, dan muncul di media sosial mengenakan kaos dan celana pendek sambil menumis dengan wajan, atau memainkan musik pop Thailand tahun 1980-an dengan saksofon atau piano.
Pendekatan ini telah diterima dengan baik oleh para pemilih Thailand, yang melihatnya sebagai sosok yang efektif dan, yang terpenting, mandiri, tidak seperti beberapa pewaris elit lainnya. Pada saat yang sama, ia dipandang setia pada tatanan sosial tradisional Thailand--sebuah sikap yang beresonansi dengan banyak orang di masyarakat yang masih sebagian besar konservatif.
Pria berusia 59 tahun itu meraih kemenangan pemilu bulan lalu berkat gelombang patriotisme yang muncul dari konflik perbatasan dengan Kamboja yang menewaskan puluhan orang di kedua pihak tahun lalu dan menyebabkan lebih dari satu juta orang mengungsi.
Ia secara terbuka menyatakan pada hari pemilihan bahwa "Nasionalisme ada di hati setiap orang di Partai Bhumjaithai." "Anda bisa melihat warnanya," katanya, merujuk pada warna biru partainya dan bendera nasional Thailand.
Ia pertama kali menjadi perdana menteri pada bulan September 2025 setelah pendahulunya dan mantan mitra koalisinya, Paetongtarn Shinawatra, putri dari mantan pemimpin Thaksin Shinawatra yang kini dipenjara, digulingkan oleh perintah pengadilan.
Anutin menarik diri dari koalisi dengan partai Pheu Thai milik Shinawatra setelah Paetongtarn menyebut mantan pemimpin Kamboja Hun Sen sebagai "paman" dan menyebut seorang komandan militer Thailand sebagai "lawannya" dalam percakapan telepon yang bocor, yang menyebabkan reaksi keras yang meluas.
Segera setelah menjabat, Anutin memberi wewenang kepada angkatan bersenjata untuk mengambil tindakan apa pun yang mereka anggap tepat di perbatasan, tanpa terlebih dahulu berkonsultasi dengan pemerintah.
Militer Thailand menguasai beberapa wilayah sengketa dalam pertempuran terbaru pada bulan Desember, sebelum gencatan senjata saat ini diberlakukan. "Tidak ada yang menginginkan pertempuran, tidak ada yang menginginkan konflik," katanya kepada AFP saat kampanye. "Tetapi kita harus mempertahankan integritas dan kedaulatan kita."
Kekayaan keluarga Anutin berpusat pada Sino-Thai Engineering, sebuah perusahaan konstruksi yang telah mendapatkan kontrak pemerintah yang menguntungkan selama beberapa dekade, termasuk untuk bandara utama Bangkok dan gedung parlemen.
Ayah Anutin adalah perdana menteri sementara selama krisis politik tahun 2008 dan kemudian menjabat selama tiga tahun sebagai menteri dalam negeri. Perjalanan politiknya telah lama terkait dengan keluarga Shinawatra, baik sebagai sekutu maupun saingan.
(rfs/imk)





