Serangan Ganda Guncang Baghdad: Kedutaan AS Dihantam Roket, Hotel Internasional Dihantam Drone!

erabaru.net
2 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Situasi keamanan di Irak kembali memanas setelah serangkaian serangan terjadi hampir bersamaan di ibu kota Baghdad pada Senin malam (16/3), menargetkan Kedutaan Besar Amerika Serikat serta sebuah hotel internasional yang kerap menjadi tempat menginap diplomat asing.

Serangan Terkoordinasi di Zona Hijau

Ledakan pertama dilaporkan terjadi di sekitar Zona Hijau, kawasan dengan pengamanan ketat yang menjadi lokasi berbagai fasilitas penting, termasuk Kedutaan Besar AS.

Pada waktu yang hampir bersamaan, sebuah drone bunuh diri menghantam Hotel Al-Rashid, hotel bintang lima yang dikenal sebagai salah satu pusat aktivitas diplomat, pebisnis internasional, serta kantor tim penasihat Uni Eropa di Irak.

Menurut laporan Reuters pada 16 Maret, drone tersebut menghantam bagian atas bangunan hotel, memicu kebakaran di area atap. Saksi mata menyebutkan bahwa suara ledakan terdengar hingga ke pusat kota Baghdad dan langsung memicu status siaga tinggi.

“Ledakannya sangat keras, kami bisa melihat asap dari kejauhan,” ujar salah satu warga yang berada tidak jauh dari lokasi kejadian.

Serangan Roket ke Kedutaan AS Digagalkan

Selain serangan drone, dua roket juga diluncurkan ke arah Kedutaan Besar Amerika Serikat di Zona Hijau.

Namun, sistem pertahanan udara yang melindungi kawasan tersebut dilaporkan berhasil mencegat kedua roket sebelum mencapai target, sehingga kerusakan besar berhasil dihindari.

Hingga saat ini, belum ada pihak yang secara resmi mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Dugaan Keterlibatan Milisi Pro-Iran

Meski belum ada klaim resmi, sejumlah analis keamanan menilai bahwa serangan ini kemungkinan besar dilakukan oleh kelompok milisi yang didukung Iran.

Serangan tersebut diduga merupakan aksi balasan atas operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran yang telah berlangsung selama beberapa pekan terakhir.

Irak sendiri berada dalam posisi yang sangat sensitif, karena wilayahnya kerap menjadi arena konflik tidak langsung antara kekuatan besar, khususnya Amerika Serikat dan kelompok-kelompok yang berafiliasi dengan Iran.

Pemerintah Irak Kecam Keras

Pemerintah Irak pada 16 Maret langsung mengeluarkan pernyataan resmi yang mengecam keras serangan tersebut.

Dalam pernyataannya, pemerintah menegaskan bahwa aksi ini tidak hanya mengancam stabilitas dalam negeri, tetapi juga berpotensi menyeret Irak ke dalam konflik regional yang lebih luas.

Meski beberapa bangunan mengalami kerusakan, hingga laporan terakhir dirilis, tidak ada korban jiwa yang dilaporkan.

Ketegangan Global: Trump Tekan Sekutu, NATO Terancam

Di tengah eskalasi yang terus meningkat, Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 16 Maret menyerukan kepada negara-negara sekutu untuk segera mengambil langkah konkret.

Dia meminta dukungan internasional untuk mengamankan jalur pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi nadi distribusi energi global.

Trump bahkan memberikan peringatan keras kepada NATO.

“Jika aliansi ini terus bersikap pasif, maka masa depannya akan sangat buruk,” ujarnya.

Pernyataan ini menandai meningkatnya tekanan Washington terhadap sekutu-sekutunya agar lebih aktif dalam menghadapi situasi Timur Tengah.

Eropa Pilih Jalur Diplomasi

Namun, respons dari negara-negara Eropa justru menunjukkan arah yang berbeda.

Uni Eropa pada 16 Maret menegaskan bahwa prioritas utama mereka adalah meredakan ketegangan, bukan memperluas konflik militer.

Perdana Menteri Inggris juga menyatakan bahwa Inggris tidak akan terlibat dalam perang skala besar, meskipun tetap mendukung upaya diplomatik untuk menjaga stabilitas kawasan, termasuk keamanan jalur pelayaran.

Perbedaan sikap ini mencerminkan retaknya pendekatan strategis antara Amerika Serikat dan sekutu Eropanya.

Selat Hormuz Lumpuh Sementara

Dampak dari meningkatnya ketegangan ini langsung terasa di sektor energi global.

Laporan pada 16 Maret menyebutkan bahwa lalu lintas kapal di Selat Hormuz sempat turun hingga nol, sebuah kondisi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Situasi ini menimbulkan kekhawatiran serius terhadap stabilitas pasokan minyak dunia serta potensi lonjakan harga energi global.

Uni Eropa Jatuhkan Sanksi ke Entitas Tiongkok

Masih pada 16 Maret, Uni Eropa juga mengumumkan langkah tegas di bidang keamanan siber.

Brussels menjatuhkan sanksi terhadap:

Perusahaan yang dikenai sanksi antara lain:

Sementara itu, dua individu yang turut dikenai sanksi adalah:

Keduanya diketahui telah lebih dulu masuk dalam daftar buronan Amerika Serikat sejak tahun sebelumnya, dengan imbalan hingga 10 juta dolar AS bagi siapa pun yang memberikan informasi yang mengarah pada penangkapan mereka.

Kesimpulan: Konflik Melebar, Dunia di Ambang Eskalasi

Serangkaian peristiwa pada 16 Maret 2026 menunjukkan bahwa konflik di Timur Tengah tidak lagi terbatas pada Iran dan Israel, tetapi mulai meluas ke negara lain seperti Irak.

Serangan terhadap target diplomatik, ancaman terhadap jalur energi global, serta meningkatnya tekanan geopolitik antara Amerika Serikat, Eropa, dan Tiongkok menandakan bahwa dunia kini berada dalam fase yang semakin tidak stabil.

Jika tidak segera dikendalikan, eskalasi ini berpotensi berkembang menjadi konflik regional yang lebih luas dengan dampak global.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Gejolak Minyak Dunia, Projo Usul Pemerintah Bentuk Badan Pengendali LPG Subsidi
• 7 jam laludetik.com
thumb
Arus Mudik di GT Kalikangkung Didominasi Kendaraan Pribadi
• 3 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Cara Menyimpan Kurma yang Benar agar Tetap Awet dan Tidak Cepat Rusak
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Bonus Peraih Medali ASEAN Para Games Cair, Total Rp 365 Miliar
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
Orleans Masters: Duel 3 Gim, Amri/Nita Singkirkan Wakil Thailand
• 5 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.