Stok Minyak Global Menipis, Harga Melonjak usai Serangan Iran di Teluk

kumparan.com
7 jam lalu
Cover Berita

Harga minyak mentah melonjak tajam di tengah kekhawatiran stok global yang menipis setelah Iran melancarkan serangan ke sejumlah fasilitas energi di kawasan Teluk. Gangguan ini memicu lonjakan harga sekaligus menekan pasar saham global.

Mengutip AFP, harga minyak naik lebih dari lima persen pada Kamis (19/3), sementara bursa saham melemah akibat meningkatnya ketegangan geopolitik dan ancaman lanjutan terhadap infrastruktur energi.

Kenaikan terjadi setelah Iran mengancam akan menargetkan instalasi energi regional sebagai balasan atas dugaan serangan terhadap fasilitas yang melayani ladang gas South Pars. Serangkaian serangan kemudian dilaporkan mengenai beberapa titik penting di kawasan Teluk.

Abu Dhabi menghentikan operasi di fasilitas gas setelah adanya puing dari intersepsi rudal. Sementara itu, fasilitas Ras Laffan di Qatar juga terkena serangan yang menyebabkan kebakaran dan langsung ditangani tim darurat.

Televisi pemerintah Iran melaporkan serangan lanjutan kembali menghantam lokasi tersebut dan menyebabkan kerusakan luas. Situasi ini memperparah kekhawatiran terhadap terganggunya pasokan energi global.

"Kami sekali lagi memperingatkan Anda bahwa Anda telah melakukan kesalahan besar dengan menyerang infrastruktur energi Republik Islam," kata Korps Garda Revolusi dalam sebuah pernyataan yang dimuat oleh media Iran.

"Jika hal itu diulangi lagi, serangan lebih lanjut terhadap infrastruktur energi Anda dan sekutu Anda tidak akan berhenti sampai infrastruktur tersebut hancur total,” tambahnya.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian juga menegaskan dampak luas dari konflik ini. “Serangan di South Pars akan memperumit situasi dan dapat memiliki konsekuensi yang tidak terkendali, yang cakupannya dapat meliputi seluruh dunia,” kata dia.

Di sisi lain, tekanan terhadap pasokan semakin besar setelah Iran secara efektif menutup Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global. Penutupan ini membuat distribusi energi terganggu dan memperkuat kekhawatiran stok minyak dunia kian menipis.

Lonjakan harga energi juga memicu kekhawatiran inflasi global. Ketua Federal Reserve Jerome Powell mengatakan ketidakpastian masih tinggi.

"Kita baru berada di awal, dan kita tidak tahu seberapa besar dampaknya, kita tidak tahu seberapa besar dampaknya dan berapa lama akan berlangsung," kata Powell.

Kondisi ini membuat pelaku pasar mulai menurunkan ekspektasi terhadap pemangkasan suku bunga, seiring potensi tekanan inflasi dari kenaikan harga energi.

Di pasar, harga Brent sempat menyentuh USD 112,86 per barel, sementara West Texas Intermediate mendekati USD 99 per barel. Lonjakan ini terjadi di tengah pelemahan bursa saham global, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap krisis pasokan energi yang semakin dalam.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Breaking: Harga Minyak Kini Tembus US$ 111 Usai Qatar Dibombardir
• 10 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Lini Belakang Timnas Indonesia Tambah Sangar, Jay Idzes Akan Duet dengan Elkan Baggott di FIFA Series 2026
• 22 jam lalubola.com
thumb
Komisi III DPR Minta Kasus Penyiraman Air Keras Diungkap Tanpa Pandang Bulu
• 20 jam lalubisnis.com
thumb
6 Potret keseruan Bunga Citra Lestari siapkan rendang porsi gede untuk menu Idulfitri
• 7 jam lalubrilio.net
thumb
Badan Geologi Imbau Warga Jauhi Radius 3 Km Gunung Awu, Aktivitas Masih Level II Waspada
• 10 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.