Bank Indonesia (BI) memastikan akan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sepanjang libur Lebaran 2026 di tengah tekanan global akibat konflik Timur Tengah. Mengutip Bloomberg, rupiah melemah 34 poin atau 0,20 persen di level Rp 16.971 pada penutupan perdagangan Rabu (18/3).
Tekanan terhadap rupiah dipicu meningkatnya ketidakpastian global, termasuk lonjakan harga energi dan eskalasi geopolitik. Kondisi ini membuat mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia, cenderung tertekan, terutama ketika likuiditas domestik menurun selama periode libur panjang.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan, BI telah menyiapkan langkah antisipatif untuk merespons dinamika tersebut, meskipun pasar keuangan domestik tutup selama libur Lebaran.
"Sebagai langkah antisipasi terhadap gejolak pasar global yang meningkat akibat konflik Timur Tengah, Bank Indonesia memastikan akan menjaga stabilitas rupiah sepanjang libur Lebaran 2026. Meskipun pasar keuangan domestik tutup selama libur Lebaran, perdagangan rupiah di pasar luar negeri tetap berjalan dan fluktuasinya dapat berdampak pada ekonomi Indonesia,” kata Destry dalam keterangan resminya, Kamis (19/3).
Ia menjelaskan, pergerakan rupiah di pasar offshore tetap menjadi perhatian karena dapat memengaruhi sentimen investor terhadap perekonomian domestik. Oleh karena itu, BI terus memantau kondisi global dan menjaga kesiapan instrumen kebijakan.
BI juga menegaskan akan mengoptimalkan bauran kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas eksternal di tengah potensi eskalasi konflik yang masih berlanjut.
"Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan moneter untuk memperkuat Ketahanan eksternal dari kemungkinan eskalasi perang Timur Tengah, termasuk menempuh langkah-langkah penyesuaian yg diperlukan guna tetap konsisten dalam menjaga stabilitas perekonomian nasional,” ungkapnya.





