Pawai Ogoh-ogoh di Mataram Tampilkan Harmoni Nyepi dan Ramadhan di Tengah Kemeriahan Budaya

pantau.com
10 jam lalu
Cover Berita

Pantau - Pawai ogoh-ogoh di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, menjadi simbol perpaduan tradisi, spiritualitas, dan kehidupan sosial masyarakat dengan melibatkan 105 karya dan ratusan pemuda di Jalan Pejanggik.

Kegiatan ini berlangsung menjelang Hari Raya Nyepi dan terasa istimewa karena bertepatan dengan bulan Ramadhan.

Harmoni Toleransi di Tengah Perayaan

Pawai ogoh-ogoh tidak hanya menjadi tradisi keagamaan, tetapi juga ruang sosial yang mencerminkan toleransi antarumat beragama.

Dua aktivitas keagamaan berjalan berdampingan tanpa saling mengganggu, menunjukkan kematangan sosial masyarakat setempat.

Penjadwalan kegiatan disesuaikan agar tidak mengganggu waktu berbuka puasa.

Rekayasa rute serta komunikasi lintas komunitas dilakukan untuk mencegah potensi konflik.

Sebanyak 850 personel gabungan diterjunkan untuk pengamanan dan pengalihan arus lalu lintas sepanjang 1,5 kilometer.

Fenomena ini memperkuat posisi Mataram sebagai miniatur Indonesia dengan keberagaman yang harmonis.

Tradisi, Kreativitas, dan Tantangan Modern

Dalam ajaran Hindu, ogoh-ogoh melambangkan bhuta kala atau energi negatif serta menjadi simbol perjalanan menuju keheningan sebelum Nyepi.

Tradisi ini juga berkembang menjadi ajang kreativitas generasi muda dengan berbagai bentuk, termasuk kritik sosial modern.

Sebanyak 105 banjar berpartisipasi menunjukkan tingginya keterlibatan masyarakat.

Namun kemeriahan tersebut memunculkan tantangan dalam menjaga nilai spiritual di tengah pengaruh kompetisi, media sosial, dan wisata.

Dinas Lingkungan Hidup menyiagakan 325 petugas untuk menangani sampah yang diperkirakan mencapai 6 hingga 7 ton.

Pemerintah, aparat, dan tokoh masyarakat melakukan pengelolaan secara kolaboratif untuk menjaga keseimbangan antara hiburan dan nilai budaya.

Sebanyak 77 narapidana beragama Hindu juga menerima remisi dalam rangka Nyepi sebagai bagian dari pemenuhan hak warga binaan.

Ke depan, diperlukan edukasi dan kurasi karya agar nilai filosofis ogoh-ogoh tetap terjaga serta penggunaan bahan ramah lingkungan semakin ditingkatkan.

Tradisi ogoh-ogoh menjadi simbol bagaimana masyarakat merawat perbedaan dan menjaga keseimbangan antara modernitas dan nilai budaya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Plt Bupati Pati Minta Maaf Tak Bisa Perbaiki Jalan Rusak Sebelum Lebaran
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
FIFA Resmi Gaet YouTube untuk Promosikan Piala Dunia 2026, Pemilik Hak Siar dan Konten Kreator Punya Privilege Ini
• 19 jam lalutvonenews.com
thumb
BGN Dorong Inovasi Menu MBG: Kualitas Bintang Lima dengan Harga Rp10 Ribu
• 2 jam lalumatamata.com
thumb
Ratusan Jamaah Majelis Taklim Raudhatul Mufakkirin Surabaya Gelar Salat Idulfitri Lebih Awal
• 4 jam lalutvonenews.com
thumb
Pemilik Klub Como 1907 dan Grup Djarum Michael Hartono Meninggal Dunia
• 1 jam lalucelebesmedia.id
Berhasil disimpan.