Editorial MI: Ujian Pengendalian Diri

metrotvnews.com
6 jam lalu
Cover Berita

HARI ini, umat Hindu menjalani ritual keagamaan Hari Raya Nyepi. Kebetulan perayaan Nyepi berlangsung bersamaan dengan penghujung bulan puasa Ramadan. 

Ramadan dengan puasanya dan Nyepi dengan catur brata penyepiannya adalah dua jalan berbeda yang sama-sama menuju pada penguatan sikap pengendalian diri. Menahan diri dari syahwat, amarah, hingga egoisme pribadi adalah modal spiritual yang krusial. 

Di tengah khusyuknya doa Nyepi dan Ramadan, dunia di luar sana sedang tidak baik-baik saja. Ketegangan geopolitik antara poros AS-Israel melawan Iran telah mencapai titik didih yang mencemaskan. Belum diketahui kapan perang tersebut akan berakhir.

Baca Juga :

Menag Ajak Jadikan Nyepi Momentum Perkuat Persaudaraan Lintas Iman
Bagi Indonesia, konflik tersebut ancaman nyata bagi kedaulatan ekonomi. Kenaikan harga minyak mentah dunia, fluktuasi nilai tukar rupiah, hingga potensi disrupsi rantai pasok pangan global kini membayangi meja makan rakyat kita.

Spirit menahan diri yang terkandung dalam Nyepi dan Ramadan menjadi modal sosial dan ekonomi untuk menghadapi tantangan yang kian berat. Di tengah kondisi ekonomi yang kian menuntut masyarakat untuk hidup lebih prihatin, sangatlah elok jika para pejabat publik menjadi garda terdepan dalam mempraktikkan kesederhanaan. 

Umat Hindu melakukan ritual penyucian pada upacara Tawur Agung Kesanga di kawasan Patung Catur Muka, Denpasar, Bali. Foto: Antara/Nyoman Hendra Wibowo.

Istana Kepresidenan telah mengeluarkan instruksi yang melarang para pejabat bermewah-mewah, baik saat berbuka puasa bersama maupun dalam gelaran open house Lebaran. Larangan itu bukan sekadar imbauan administratif, melainkan panggilan moral untuk kembali pada inti kepemimpinan publik, yakni melayani rakyat. 

Instruksi tersebut sangat penting karena masih ada saja pejabat yang nyatanya tidak memiliki kepekaan sosial. Kasus Sekretaris Daerah (Sekda) Sidoarjo yang mengadakan acara buka puasa mewah menjadi potret buram betapa rendahnya empati sebagian pejabat kita.  

Baca Juga :

Ucapkan Selamat Hari Suci Nyepi, Menag: Satu Bumi, Satu Keluarga
Seorang pejabat publik adalah simbol negara. Ketika memamerkan kemewahan, ia sedang merobek rasa keadilan sosial. Menggunakan uang pribadi untuk kemewahan saat rakyat kesusahan bukan menunjukkan kemapanan ekonomi, melainkan memperlihatkan  kemiskinan empati dan ketiadaan fatsun politik.

Nyepi mengajarkan diam agar dunia kembali tenang, sedangkan Ramadan mengajarkan lapar agar hati menjadi peka. Semuanya bermuara pada pengendalian diri.

Mari kita jadikan spirit pengendalian diri ini sebagai benteng menghadapi ketidakpastian global. Indonesia membutuhkan para pemimpin yang tidak hanya menyampaikan imbauan tentang keprihatinan, tapi juga mampu mewujudkannya dalam tindakan nyata. Setelah itu, rakyat akan mudah meneladani mereka.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Identitas Penyiram Air Keras Andrie Yunus Versi Polisi dan TNI Beda, Ini Respons Kompolnas
• 18 jam lalukompas.com
thumb
Kuasa Hukum Terkejut TNI Tangkap Pelaku Penyiraman Andrie Yunus Dalam Waktu Singkat: Khawatir Bukan Pelaku yang Sebenarnya
• 10 jam lalutvonenews.com
thumb
Sampai Naik Motor di Tol, Ibu Pemudik Ini Panik Ditinggal Mobil Suami di Rest Area Tol Cipali, Hanya Berbekal Rp2 Ribu,
• 9 jam lalutvonenews.com
thumb
Inisial 4 Anggota Bais Terduga Penyiram Air Keras ke Aktivis KontraS
• 20 jam lalurctiplus.com
thumb
Liverpool vs Galatasaray: Misi Arne Slot Hapus Kutukan di Anfield
• 16 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.