KARAWANG, KOMPAS — Jalur pantai utara Pulau Jawa atau Pantura pada Rabu (18/3/2026) terpantau ramai lancar. Kepadatan arus lalu lintas didominasi oleh kendaraan motor roda dua sejak sore hingga malam hari.
Dari pantauan Kompas, endaraan bermotor yang melintasi persimpangan Pos Polisi Pendeuy, Karawang, Jawa Barat, masih bisa melaju dengan kecepatan sekitar 40 kilometer per jam. Berbeda dengan Lebaran tahun sebelumnya, jalur ini selalu padat merayap ketika musim mudik sehingga kendaraan hanya bisa melaju dengan kecepatan maksimal 20 km/jam.
Persimpangan Pos Polisi Pendeuy merupakan jalan arteri yang menjadi pertemuan arus lalu lintas dari Kota Karawang dan Jakarta atau Bekasi menuju jalur Pantura. Jalur ini dipenuhi oleh kendaraan pribadi, baik roda empat maupun roda dua dan bus antarkota.
Awal kemacetan terjadi sekitar pukul 09.00 WIB hingga 11.00 WIB yang didominasi kendaraan roda empat. Meskipun sempat lancar, kemacetan dengan intensitas lebih tinggi terjadi sekitar pukul 16.00 hingga 17.00 WIB dengan didominasi kendaraan roda dua. Sempat kembali lancar, kemacetan terjadi lagi mulai sekitar pukul 19.00 WIB hingga malam.
Sejumlah kendaraan roda dua terlihat berpenumpang lebih dari dua orang dan anak kecil sehingga melaju pelan. Beberapa kendaraan roda dua juga terlihat mengalami kerusakan di jalur ini.
Beberapa pemudik dengan kendaraan roda dua pun memutuskan beristirahat di jalur ini setelah menempuh perjalanan dari Jakarta. Salah satunya adalah, Kafi (25).
Kafi memulai mudik dari Senen, Jakarta Pusat, dan memutuskan beristirahat setelah menempuh perjalanan sekitar tiga jam. Ia mudik bersama kedua rekan kerjanya, Deden (23) dan Tedi (20) menuju Subang, Jawa Barat.
Jalur ini merupakan satu-satunya jalan yang dapat mereka lewati untuk sampai ke kampung halamannya di Subang. Alhasil, mereka mesti bertarung dengan kemacetan di sepanjang jalan. Ketika letih muncul karena didera kemacetan, banyak pemudik yang memilih beristirahat di minimarket, pinggir jalan, atau warung dadakan yang muncul saat Lebaran.
Meskipun sudah terbiasa mudik naik motor lewat jalur ini, Kafi dan kawan-kawannya tetap merasa lelah sehingga perlu istirahat. Apalagi, mereka masih harus menempuh perjalanan hingga tiga jam lagi untuk sampai ke tujuan.
Sebenarnya, mereka bisa mudik menggunakan kendaraan umum. Namun, Kafi dan kedua rekannya memilih menggunakan motor karena lebih cepat dan irit, meskipun melelahkan.
“Pakai motor karena lebih cepat dan irit,” ujar Kafi.
Berbeda dengan pemudik pada umumnya yang banyak membawa bekal, mereka memilih hanya membawa pakaian saja untuk mengurangi beban. Bagi mereka, persiapan penting yang harus dilakukan adalah memastikan motornya dalam keadaan prima. Karena itu, mereka menyervis motornya mulai dari mengecek rem dan ganti oli sebelum berangkat.
Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memprediksi bahwa pada penyelenggaraan Angkutan Lebaran 2026, pergerakan terbesar pemudik berasal dari Jawa Barat sebanyak 30,97 juta orang, diikuti DKI Jakarta (19,93 juta) dan Jawa Timur (17,12 juta). Sedangkan dari sisi tujuan, arus terbesar mengarah ke Jawa Tengah sebesar 38,71 juta orang, disusul Jawa Timur (27,29 juta) dan Jawa Barat (25,09 juta).
Angka tersebut didapatkan berdasarkan hasil survei nasional yang dilakukan Badan Kebijakan Transportasi (BKT) Kemenhub. Menurut survei yang sama, prakiraan total pergerakan masyarakat selama masa Angkutan Lebaran 2026 adalah sebesar 50,60% penduduk atau 143,91 juta orang.
Sepeda motor masih menjadi salah satu moda transportasi utama yang digunakan masyarakat Indonesia. Kemenhub mencatat moda transportasi yang akan paling dominan digunakan adalah mobil pribadi sebesar 76,24 juta orang, disusul sepeda motor (24,08 juta orang) dan bus (23,34 juta orang).
Untuk jalur yang digunakan, mayoritas pengguna mobil memilih jalan tol sebesar 50,63 juta orang, dan untuk pengguna sepeda motor mayoritas memilih jalur alternatif selain jalur utama yaitu sebesar 8,65 juta orang.
Saat ditemui, Kepala Pos Pengamanan Peundeuy, Ajun Komisaris Polisi Supriono mengungkapkan, peningkatan kendaraan roda dua yang melintasi jalur ini terjadi pada sore hari. Hal serupa terjadi dalam waktu tiga hari terakhir karena menjadi jalur utama para pemudik dari Jakarta.
“Sebetulnya ada jalur alternatif selain arteri, tetapi kebanyakan lewat arteri,” jelas Supriono.
Supriono mengimbau para pemudik agar tidak membawa barang berlebihan. Sebab, hal itu bisa menyebabkan kecelakaan.
Ditemui secara terpisah, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Karawang, Usep Supriatna, mengimbau pemudik untuk melihat cuaca demi keselamatan perjalanan. “Seandainya hujan ya jangan memaksa lah. Yang kedua, istirahat lah di tenda-tenda posko yang tersedia,” kata Usep.
Usep pun mengakui jalur ini selalu dipadati pemudik karena menjadi jalur utama. Meskipun tersedia jalur alternatif menuju Subang, namun jalur tersebut tidak digunakan karena jalur arteri masih bisa dilewati pemudik tanpa terjebak kemacetan parah.





