"Saya melihat drone dan rudal jelajah terbang rendah di atas kapal kami. Jika ditembak jatuh, serpihannya bisa menghantam dek.”
Kesaksian seorang pelaut tanker yang dikutip BBC News Indonesia menggambarkan situasi yang semakin mencekam di Selat Hormuz. Bagi para awak kapal yang melintasi jalur tersebut, ketegangan geopolitik kini bukan lagi sekadar berita dari daratan. Ancaman itu kini hadir di langit yang mereka lihat setiap hari.
Ketegangan di kawasan Teluk meningkat setelah konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel memicu ancaman terhadap kapal yang melintasi Selat Hormuz. Jalur laut ini menjadi semakin berbahaya bagi ribuan pelaut yang bekerja di kapal tanker minyak maupun kapal kargo. Mereka tetap harus menjalankan pekerjaan meskipun setiap hari menghadapi risiko serangan drone, rudal, maupun gangguan navigasi.
Selat Hormuz sendiri bukan jalur laut biasa. Dalam kajian geopolitik maritim, kawasan ini dikenal sebagai maritime choke point, yaitu jalur sempit yang memiliki peran sangat penting dalam perdagangan global. Menurut U.S. Energy Information Administration, sekitar 20 juta barel minyak per hari atau hampir 20 persen konsumsi minyak dunia melewati Selat Hormuz. Lembaga tersebut juga mencatat bahwa lebih dari seperempat perdagangan minyak dunia yang diangkut melalui laut melewati jalur ini.
Angka tersebut menunjukkan bahwa stabilitas Selat Hormuz sangat menentukan dinamika ekonomi global. Gangguan di jalur ini dapat langsung memengaruhi pasokan energi dan harga minyak dunia.
Ketegangan geopolitik juga mulai memengaruhi aktivitas pelayaran. Dalam situasi krisis terbaru, sejumlah kapal tanker memilih menunggu di luar selat karena meningkatnya risiko keamanan. Beberapa perusahaan pelayaran bahkan menunda perjalanan mereka untuk menghindari kemungkinan serangan terhadap kapal sipil. Kondisi ini menunjukkan betapa rentannya rantai pasok energi dunia terhadap konflik regional.
Namun, di balik perhitungan pasar energi dan strategi militer, ada kelompok yang sering luput dari perhatian. Mereka adalah para awak kapal. Para pelaut ini tidak mengambil keputusan politik dan tidak terlibat dalam rivalitas antarnegara. Namun, merekalah yang justru berada di garis depan risiko konflik.
Ilmuwan hubungan internasional Barry Buzan menekankan bahwa keamanan tidak hanya menyangkut negara, tetapi juga individu yang terdampak oleh dinamika politik internasional. Dalam konteks Selat Hormuz, pandangan ini menunjukkan bahwa para awak kapal sipil merupakan kelompok yang sangat rentan terhadap ketegangan geopolitik.
Sejak abad ke-19, ahli strategi maritim Alfred Thayer Mahan juga menegaskan bahwa jalur laut strategis merupakan sumber kekuatan ekonomi dan politik suatu negara. Namun dalam praktiknya, persaingan geopolitik di jalur laut sering kali mengabaikan keselamatan manusia yang bekerja di dalamnya. Ketika negara berusaha mempertahankan kepentingan strategis mereka, para pelaut justru menjadi pihak yang paling berisiko.
Karena itu, perlindungan terhadap awak kapal harus menjadi bagian penting dari agenda keamanan maritim internasional. Organisasi Maritim Internasional bersama negara yang berkepentingan perlu memperkuat mekanisme perlindungan bagi kapal sipil yang melintasi kawasan berisiko.
Langkah tersebut dapat mencakup peningkatan sistem peringatan dini terhadap ancaman militer, patroli keamanan maritim multinasional di jalur pelayaran strategis, serta koordinasi keamanan yang lebih kuat di kawasan Teluk. Perusahaan pelayaran juga perlu memastikan bahwa awak kapal mendapatkan pelatihan keselamatan tambahan serta akses komunikasi darurat jika terjadi ancaman keamanan.
Negara pengguna energi global juga perlu memikirkan strategi jangka panjang untuk mengurangi kerentanan terhadap choke point seperti Selat Hormuz. Diversifikasi jalur energi, pembangunan infrastruktur pipa alternatif, serta penguatan cadangan energi strategis dapat membantu mengurangi tekanan pada jalur laut yang rawan konflik.
Pada akhirnya, ketegangan di Selat Hormuz mengingatkan bahwa geopolitik tidak hanya berkaitan dengan peta strategi dan kepentingan energi. Di balik semua itu, terdapat ribuan awak kapal yang setiap hari bekerja menjaga jalur perdagangan dunia tetap berjalan.
Selat Hormuz mungkin hanya tampak sebagai jalur sempit di peta geopolitik dunia. Namun bagi para awak kapal yang melintasinya setiap hari, selat itu adalah ruang kerja yang kini dipenuhi ketidakpastian. Di balik statistik perdagangan energi dan strategi militer negara negara besar, ada manusia yang mempertaruhkan keselamatan mereka agar roda ekonomi global tetap berputar.
Di tengah rivalitas geopolitik yang terus memanas, para awak kapal mengingatkan kita bahwa setiap jalur perdagangan dunia pada akhirnya dijaga oleh manusia yang mempertaruhkan keselamatannya.





