Balada Berburu Cuan Musiman dari Ketupat Lebaran

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

Ruas Jalan Masjid yang terletak di sebelah SMPN 6 di sisi utara Pasar Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat, bernuasa hijau oleh pedagang ketupat dan janur musiman. Lokasi yang berada di belakang Lapangan Pondok Gede ini merupakan salah satu sentra penjualan janur dan kulit ketupat di kawasan timur Jakarta. Setiap tahun puluhan pedagang membuka lapak di pinggir jalan tersebut.

Pagi itu, Rabu (18/3/2026), pedagang sibuk memilih pelepah, memilah janur berdasar ukuran dan warna, serta mengikat janur menjadi satu untuk dijual sebagai bahan kulit ketupat.

Sementara di beberapa lapak yang lain, para pedagang menganyam janur menjadi butiran kuli ketupat. Pedagang kulit ketupat lebih memilih di sisi luar jalan raya di sekitar SMPN 6 Bekasi, sementara lokasi pedagang janur grosir dan eceran sedikit lebih masuk ke dalam di jalan kecil yang hanya dapat dilalui satu mobil.

Kebanyakan dari mereka berasal dari daerah Banten, seperti Tangerang, Pandeglang, dan Rangkasbitung. Pedagang yang menjual daun janur telah datang sejak seminggu lalu. Sementara pedagang kulit ketupat memilih datang belakangan dengan membawa karung plastik besar berisi tumpukan kulit ketupat.

Dadi (40) asal Cikaduen, Pandeglang, Banten mengutarakan, masyarakat Banten banyak yang berdagang ketupat karena bahan janur yang melimpah banyak berasal dari daerahnya. Mereka memburu pasar warga Jakarta yang memiliki tradisi ketupatan yang tidak ada di Banten. “Kalo di Banten hidangan Lebaran ya pake nasi biasa,” katanya.

Di Banteng, ketupat justru dihidangkan di tengah Ramadhan, atau sebutannya “Qunutan” saat pertengahan puasa.

Dadi dan dua temannya datang sekaligus bersama daun janur dalam satu truk. Selain truk, ada juga yang membawa janur dengan mobil pikap, tergantung banyak sedikit janur yang dibawa. Puluhan truk pedagang yang membawa janur asal Banten mengadu nasib berjualan janur di tempat tersebut.

Setiap pedagang membawa sekitar 250 gabuk daun janur di truk mereka. Satu gabuk, menurut istilah mereka adalah satu ikat berisi tujuh pelepah pohon kelapa. Satu pelepah janur ini dapat dibuat untuk menganyam 70 hingga 100 kulit ketupat. Pedagang yang menjual per gabuk adalah yang melayani penjualan grosiran, sementara pedagang eceran menjual ikatan janur siap anyam.

Keluhan mewarnai musim dagang mereka kali ini. Pedagang mengeluhkan lesunya penjualan janur untuk tahun ini. “Harganya ancur ini, yang beli kurang, yang jual banyak, ya mau gimana lagi lah…” ujar Dadi.

Tahun lalu ia masih untung dapat menjual semua dagangannya hingga sehari sebelum Lebaran. Faktor ekonomi yang lesu dan menurunkan daya beli menurutnya juga menjadi penyebab sepinya pembeli. Jika sisa janur belum laku juga hingga besok, ia terpaksa banting harga. “Selakunya aja, daripada rugi,” katanya.

Hal senada diutarakan Hedi (24), pedagang janur yang lain juga mengeluhkan hal yang sama. Ia menjual dua ikat daun janur eceran seharga Rp 25.000. Per ikatnya terdiri dari 25 hingga 30 lembar janur. Beberapa pembeli yang mengendarai sepeda motor singgah ke lapaknya sambil tawar menawar.

“Tahun ini mah ancur ga kaya tahun kemarin,” ujar pedagang asal Saketi, Kecamatan Banjarsari, Pandeglang yang sudah enam tahun berturut-turut berdagang janur ini.

Tahun lalu, dagangannya sudah ludes dua hari sebelum Lebaran. Pada tahun-tahun sebelumnya, biasanya ia bisa pulang di malam takbiran dengan membawa uang yang cukup untuk berlebaran bersama keluarganya.

Ia membawa dua pikap bermuatan janur ke Pondok Gede sejak Jumat pekan lalu. Hedi baru menjual 15 ikat janur selama itu. Ia memang sudah memperkirakan kondisi yang kurang bergairah ini. Meskipun begitu, toh ia harus mencoba mengais rezekinya.

Wajah-wajah yang lesu terlihat di antara tumpukan janur-janur tersebut. Pedagang yang menunggu dagangannya terlelap di atas tumpukan janur. Setiap calon pembeli yang mampir sangat berharga bagi mereka.

Optimisme terlihat di wajah Muhammad Bahtiar (27) yang datang dari Sepatan, Kabupaten Tangerang untuk berjualan kulit ketupat. Banyak saudaranya ikut berdagang di tempat ini karena harga jual yang cukup tinggi jika dibandingkan di pasar-pasar di kampungnya.

Ia sudah empat tahun berdagang kulit ketupat di pinggir jalan Pondok Gede di lokasi yang sama, yaitu di depan SMPN 6 Kota Bekasi. Satu ikat kulit ketupat isi 10 butir dijual Rp 10.000 hingga Rp 15.000 bergantung ukuran. Ketupat besar biasanya digunakan untuk membuat makanan, sementara yang kecil lebih banyak untuk hiasan.

Tahun lalu ia membawa 4.000 butir yang ia bagai bersama sejumlah saudaranya dan dijual di sejumlah lapak yang terpisah. Keseluruhan kulit ketupat kala itu terjual habis. Tahun ini ia membawa serta 3.000 butir kulit ketupat. Dalam dua hari terakhir dagangannya baru laku 1.000 butir. Ia optimis dagangannya habis dan bisa pulang ke Tangerang dengan senang.

Pada hari pertama 1.000 ketupat laku dari 3.000 butir yang ia bawa menurutnya adalah hasil yang lumayan. Masih ada esok hari berarti masih ada pembeli. Apalagi banyak masyarakat yang memilih membeli kulit ketupat saat mepet Lebaran. Selain mengandalkan pembeli di pinggir jalan, pelanggan Bahtiar juga datang dari pedagang di dalam Pasar Pondok Gede.

Jika tidak habis, kulit ketupat akan ia obral atau dibagikan ke pedagang di sekitar pasar ini. “Kadang sore atau malam takbiran masih ada yang cari, jadi ada hasilnya juga buat yag dikasih itu,” ujarnya.

Baca JugaNumplak Wajik, Tradisi Tolak Bala Keraton Yogyakarta 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Wajah Penyiram ke Andrie Yunus Diungkap, Polisi: Asli Tanpa Intervensi AI
• 7 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Iran Konfirmasi Kepala Keamanan Ali Larijani Gugur dalam Serangan Israel
• 11 jam lalukumparan.com
thumb
Hindari Kejahatan Siber Jelang Lebaran 2026, Ini Langkah yang Perlu Dilakukan
• 8 jam lalukompas.com
thumb
Industri Ban Waswas Pasokan Bahan Baku Terganggu
• 12 jam lalukompas.id
thumb
Link Live Streaming Manchester City vs Real Madrid, Kick-off Jam 03.00 WIB
• 21 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.