Cash Stuffing, Metode Bagi-bagi Pengeluaran Agar THR Kamu Nggak Langsung Ludes

kumparan.com
7 jam lalu
Cover Berita

Membagi-bagi uang belanja ke dalam wadah tertentu telah menjadi budaya lama dalam mengelola ekonomi rumah tangga yang diwariskan secara turun-temurun. Jauh sebelum metode cash stuffing modern viral di media sosial, masyarakat Indonesia telah terbiasa memisahkan uang tunai ke dalam wadah-wadah sederhana seperti amplop putih, toples dapur, atau selipan buku berdasarkan tujuan penggunaannya. Di sejumlah budaya, teknik ini dikenal dengan istilah “pos-posan”.

Sebagai contoh, budget untuk membayar listrik biasanya disimpan di amplop khusus bertuliskan listrik. Lalu ada amplop bertuliskan beras, uang sekolah, bensin, dan lain-lain. Teknik ini membantu menjaga agar uang digunakan sesuai dengan kebutuhan yang telah direncanakan.

Di era modern, tradisi ini tetap eksis dengan bertransformasi mengikuti perkembangan teknologi finansial. Banyak masyarakat yang kini mulai beralih ke metode “pos-posan” melalui fitur “kantong” atau “pocket” pada aplikasi perbankan digital. Walaupun berubah dari fisik ke digital, esensi budayanya tetap sama, yakni adanya batasan yang tegas dalam berbelanja. Dengan membagi pendapatan ke dalam pos-pos yang spesifik, orang Indonesia merasa lebih tenang karena memiliki kontrol yang lebih jelas atas arus kas mereka di tengah gempuran tren konsumerisme.

Perencana keuangan sekaligus CEO Zap Finance, Prita Ghozie, menyatakan cash stuffing pada dasarnya merupakan metode penganggaran tradisional dengan menggunakan uang tunai yang dibagi ke dalam beberapa kategori pengeluaran. Namun, dalam beberapa waktu terakhir metode tersebut kembali populer di media sosial, terutama di platform seperti TikTok dan Instagram, dengan tampilan yang lebih estetik menggunakan binder transparan, slot kartu berwarna-warni, serta label yang rapi.

“Tren ini sebenarnya sangat positif karena membuat topik keuangan yang biasanya ‘berat’ jadi terlihat menarik dan visual. Di Indonesia, orang suka sesuatu yang konkret,” kata Prita saat dihubungi kumparan, Minggu (15/3).

Prita menilai metode ini memiliki beberapa manfaat seperti mendorong kedisiplinan, memberikan visualisasi yang jelas mengenai sisa uang yang dimiliki, hingga dapat membantu mencegah utang.

“Jadi, buat yang susah kontrol diri, metode ini sangat ampuh,” tutur Prita.

Selain itu, ia juga membeberkan beberapa pos utama agar kondisi keuangan tetap aman. Pos tersebut antara lain pos hari-hari yang mencakup kewajiban seperti cicilan, tagihan listrik, dan zakat, serta kebutuhan seperti makan, transportasi, dan kebutuhan rumah tangga.

“Sebenarnya tidak ada aturan baku, tapi idealnya jangan terlalu banyak. Kalau terlalu detail, misalnya pos khusus parkir, pos khusus kopi, pos khusus skincare, kita malah pusing sendiri mengelolanya.” jelas Prita.

Pembagian pos keuangan secara manual memang bisa bikin pusing karena terlalu banyak dipisahkan di berbagai tempat. Namun, dengan adanya digitalisasi, jumlah pos atau kantong uang ini justru bisa dibuat sebanyak yang dibutuhkan oleh nasabah. Bahkan, digitalisasi memungkinkan seorang nasabah membuat puluhan kantong uang. Hal ini menjadi mudah karena pengelolaan keuangan berbasis digital ini bisa dipersonalisasi, cukup dikelola dan dimonitor dalam satu aplikasi.

Berbicara seputar tips agar Tunjangan Hari Raya (THR) tidak habis begitu saja, Prita menerapkan prinsip ‘alokasi sebelum eksekusi’. Saat THR diterima, sekitar 50 persen dapat digunakan untuk kebutuhan Lebaran seperti zakat, THR bagi pekerja rumah tangga, maupun biaya mudik.

“Alokasi sekitar 10 persen untuk dana darurat. Sisanya, sekitar 20 persen untuk tambahan investasi. Sisanya baru boleh dipakai untuk keinginan Lebaran seperti beli baju baru dan lainnya,” kata Prita.

Pembagian pos tersebut pun diimplementasikan oleh Kea (28), yang mengaku telah menggunakan metode cash stuffing sejak pertama kali bekerja hingga saat ini setelah menikah. Ia dulu merasa boros karena hanya mempunyai satu rekening, jadi harus dipisah ke amplop secara manual. Menurutnya, kondisi tersebut membuat uang di rekening sering habis terpakai, padahal sebagian seharusnya dialokasikan untuk tabungan.

Saat ini, dengan adanya digitalisasi, metode cash stuffing sudah diaplikasikan ke sejumlah layanan perbankan. Pembagian uang belanja, biaya transport, hingga tabungan bisa diatur hanya dalam satu aplikasi. Jadi, tidak selamanya harus membagi-bagikan secara manual ke amplop fisik.

“Semenjak kerja sudah mulai misah-misahin uang buat keperluan primer tersier, dan mana yang bisa ditabung,” ucapnya kepada kumparan.

Ia menilai metode cash stuffing membantu mengontrol anggaran bulanan agar tidak terlalu menghabiskan uang atau overspending. Selain itu, metode ini juga memudahkan sekaligus memotivasi dirinya untuk menabung karena setiap pos biasanya dia berikan target nominal tertentu, sehingga mendorongnya untuk tidak menggunakan uang tersebut dan menyisihkannya setiap bulan.

Menjelang Lebaran, ia juga memiliki cara tersendiri dalam mengelola THR. Kea menerapkan metode 60-30-10, di mana 60 persen dimasukkan ke kantong digital untuk tabungan dan reksadana, 30 persen dimasukkan ke pos cash stuffing untuk tambahan belanja atau makan, sementara 10 persen dialokasikan untuk sedekah.

Kea juga mengaku telah menggunakan fitur dari bank digital, seperti Bank Jago. “Untuk Jago saya pakai fitur Kantong Bersama yang kantongnya bisa connect dengan akun suami saya juga jadi kita berdua lebih transparan dalam mengatur keuangan,” tuturnya.

Dalam mengatur anggaran bulanan, Kea menerapkan metode 50-40-10, yaitu 50 persen untuk kebutuhan sehari-hari melalui cash stuffing, 40 persen ditabung melalui kantong digital yang kemudian dibagi lagi ke beberapa kantong sesuai tujuan keuangan, serta 10 persen untuk sedekah.

“Setiap kebutuhan atau goal nabung yang sedang diusahakan saya pakai kantong yang berbeda beda jadi sangat bisa di personalisasi sesuai kebutuhan, dan pocket di bank itu membantu sih, karena kan gak semua orang prefer nabung dipisah-pisah secara fisik apalagi sekarang waktu sudah canggih banget,” sebut Kea.

Sementara itu, Ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Randy Manilet, menilai penetrasi smartphone yang meningkat pesat dalam satu dekade terakhir telah bertemu dengan populasi besar masyarakat yang selama ini masih tergolong underbanked, sehingga menciptakan momentum baru bagi lahirnya berbagai pendekatan dalam layanan keuangan.

Ia menambahkan bahwa karena masyarakat Indonesia memiliki karakteristik yang sangat beragam, produk perbankan tidak selalu dapat menjawab seluruh kebutuhan masyarakat. Perbedaan kebutuhan tersebut selama bertahun-tahun menjadi celah antara produk perbankan konvensional yang dirancang dengan asumsi nasabah formal berpenghasilan tetap dengan kenyataan bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia bekerja di sektor informal dengan arus kas yang tidak menentu.

“Inovasi fitur pengelompokan anggaran yang kini dipopulerkan beberapa bank digital merupakan respons yang secara psikologis baik terhadap kebutuhan nyata tersebut,” kata Yusuf saat dihubungi kumparan.

Katanya, inovasi tersebut berlandaskan dari logika perilaku keuangan sehari-hari masyarakat RI yang memang secara tradisional sudah memisahkan uang dalam “amplop-amplop” berbeda untuk pos pengeluaran yang berlainan.

“Dengan kata lain, bank-bank ini tidak menciptakan perilaku baru, melainkan memformalkan dan memfasilitasi kebiasaan yang sudah ada,” lanjut Yusuf.

Meski demikian, Yusuf mengingatkan agar inovasi tersebut tidak dipandang secara berlebihan. Ia menilai fitur pengelompokan anggaran pada dasarnya hanya merupakan instrumen antarmuka, sehingga dampaknya sangat bergantung pada apakah fitur tersebut diiringi dengan edukasi keuangan yang memadai atau hanya dimanfaatkan sebagai alat pemasaran.

“Fitur pengelompokan anggaran berpotensi meningkatkan transaksi dalam jangka pendek karena mendorong pengguna lebih sering berinteraksi dengan aplikasi dan lebih sadar terhadap arus kas mereka,” ucap Yusuf.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Info Terbaru Istana soal Rekrutmen ASN 2026
• 16 jam lalujpnn.com
thumb
Ancaman Perang Dunia Menggila, Prabowo Minta Bahlil Lakukan Ini
• 7 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Jelang Lebaran, Gubernur Bobby Nasution Pastikan Stok Bahan Pokok Sumut Aman dan Harga Stabil
• 21 jam lalumediaapakabar.com
thumb
Bangkit dari Bencana, Warga Aceh Tamiang Manfaatkan Kayu Bekas Jadi Rumah
• 9 jam laludetik.com
thumb
Virgoun Hingga Opick Ajak Ribuan Penonton Doakan Korban Sumatera di LMF 2026
• 1 jam lalutabloidbintang.com
Berhasil disimpan.