Grid.ID - Macet parah terjadi di pelabuhan Gilimanuk saat arus mudik 2026. Kini terungkap biang keroknya sampai bikin 16 orang tumbang.
Kemacetan parah terjadi di jalur mudik Denpasar-Gilimanuk sejak kemarin, Minggu (16/3/2026) hingga dini hari tadi. Antrean kendaraan dilaporkan mencapai 35 kilometer.
Berikut kronologi macet parah di pelabuhan Gilimanuk saat arus mudik 2026. Kini terungkap biang keroknya sampai bikin 16 orang tumbang.
Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri menjelaskan bahwa kepadatan arus mudik Lebaran 2026 di Pelabuhan Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, Bali, bukan disebabkan oleh kurangnya pengaturan atau rekayasa lalu lintas. Direktur Penegakan Hukum (Dirgakkum) Korlantas Polri Brigjen Pol Faizal mengatakan, antrean kendaraan terjadi karena para pengendara menunggu giliran untuk masuk ke kapal penyeberangan.
“Mereka antre untuk masuk kapal. Bukan macet karena akibat tidak ada pengaturan atau rekayasa,” kata Faizal, dikutip dari Kompas.com.
Sementara itu, Kabid Humas Polda Bali Kombes Pol Aria Sandy mengungkapkan bahwa hingga Senin (16/3/2026) pukul 10.30 WITA, antrean kendaraan masih memanjang hingga sekitar 27 kilometer dari arah Tabanan.
“Sementara yang dari arah Buleleng masih tetap seperti tadi malam juga 8-9 kilometer,” ujar dia.
Ia menjelaskan, panjang antrean di kedua arah bersifat dinamis karena kendaraan terus diberangkatkan dengan kapal, sementara arus kendaraan yang datang juga terus bertambah. Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, kepolisian menempatkan personel di sejumlah titik strategis seperti persimpangan serta melakukan patroli guna menjaga ketertiban antrean.
“Patroli untuk memastikan antrean tertib serta membangunkan para sopir yang tertidur di mobil antrean untuk jalan kembali,” ujar dia.
Sebelumnya, arus mudik Lebaran 2026 di Pelabuhan Gilimanuk sempat diwarnai antrean panjang hingga mencapai sekitar 31 kilometer pada Minggu (15/3/2026). Kondisi tersebut menyebabkan sejumlah pemudik mengalami kelelahan, bahkan 16 orang dilaporkan pingsan akibat cuaca panas dan keletihan saat menunggu.
Antrean kendaraan bahkan meluas hingga wilayah Kecamatan Negara, dengan kendaraan yang didominasi angkutan logistik, kendaraan pribadi, serta sepeda motor yang hendak menyeberang ke Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur.
Selain itu, area parkir di dalam Pelabuhan Gilimanuk dilaporkan telah penuh sejak Minggu siang, sehingga kendaraan harus mengantre hingga di luar kawasan pelabuhan. Di tengah situasi tersebut, tim medis dari Dokkes Polres Jembrana turut memberikan penanganan kepada para pemudik yang mengalami gangguan kesehatan.
Dilansir dari TribunBali.com, sebanyak 17 orang dilaporkan mendapat perawatan di sejumlah titik layanan kesehatan, seperti Terminal Kargo Gilimanuk, Simpang Karantina, hingga sepanjang antrean sepeda motor di kawasan pertokoan Gilimanuk.
Dari jumlah tersebut, 16 orang mengalami pingsan akibat kelelahan dan paparan panas (heat syncope), namun setelah mendapat penanganan, mereka dapat melanjutkan perjalanan. Sementara itu, satu pemudik lainnya mengalami luka robek akibat kecelakaan dan harus mendapatkan perawatan berupa jahitan serta pemberian obat.
Di sisi lain, Ketua Umum DPP Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (GAPASDAP) Khoiri Soetomo menyampaikan bahwa kemacetan tersebut bukan semata-mata akibat peningkatan jumlah kendaraan. Ia menilai, pengelolaan sistem transportasi penyeberangan juga masih belum berjalan secara optimal.
“Pada periode ini terjadi pertemuan dua arus besar sekaligus, yaitu arus mudik Lebaran dan arus keluar masyarakat Bali menjelang pelaksanaan Hari Raya Nyepi, sehingga volume kendaraan meningkat secara signifikan dalam waktu yang hampir bersamaan,” kata Khoiri dalam keterangan resmi, Senin (16/3/2026), dikutip dari Kompas.com.
Khoiri menjelaskan kemacetan panjang juga menunjukkan sistem kedatangan kendaraan menuju pelabuhan belum diatur dengan baik.
“Masalah utama bukan hanya lonjakan kendaraan, tetapi juga belum tertatanya sistem kedatangan kendaraan ke pelabuhan serta belum seimbangnya pertambahan armada kapal dengan pembangunan dermaga, baik dari sisi jumlah, kualitas, maupun kapasitas,” ujar dia.
Menurut Khoiri, transportasi penyeberangan masih bersifat lebih terbuka dibandingkan moda transportasi lainnya. Kendaraan dapat langsung menuju pelabuhan meskipun belum mengantongi tiket atau kode pemesanan.
Hal ini menyebabkan kendaraan datang secara bersamaan dalam jumlah besar tanpa adanya pengaturan waktu yang jelas. Akibatnya, pihak pelabuhan tidak memiliki sistem yang memadai untuk mengontrol arus kendaraan sejak dari awal perjalanan.
Di sisi lain, perbaikan infrastruktur jalan turut memperlancar laju kendaraan menuju pelabuhan. Adanya jalan tol membuat akses ke kawasan pelabuhan menjadi lebih cepat.
Namun, peningkatan kapasitas dermaga tidak sejalan dengan lonjakan jumlah kendaraan. Kondisi tersebut menjadikan dermaga sebagai titik kemacetan dalam sistem transportasi penyeberangan.
“Jalan tol mempercepat kendaraan menuju pelabuhan, tetapi kapasitas dermaga belum bertambah secara seimbang,” ujar Khoiri.
“Ketika dermaga menjadi titik sempit, antrean kendaraan tidak terelakkan dan jalan menuju pelabuhan berubah menjadi ruang parkir kendaraan,” lanjut dia.
Khoiri menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian agar tidak terus berulang setiap tahun.
“Jika dermaga tidak bertambah, jalan menuju pelabuhan akan selalu menjadi parkiran,” ujarnya.
Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain menambah kapasitas dermaga, mengatur pola kedatangan kendaraan, serta mewajibkan kepemilikan tiket atau kode pemesanan sebelum masuk ke pelabuhan.
Selain itu, penyediaan buffer zone atau area penampungan kendaraan sebelum memasuki kawasan pelabuhan juga dianggap penting. Ia juga menekankan perlunya sinkronisasi antara pembangunan infrastruktur jalan dengan kapasitas pelabuhan agar sistem transportasi penyeberangan dapat berjalan lebih optimal dan seimbang. (*)
Artikel Asli




