Penulis: Fityan
TVRINews - Brussel
Tantangan Logistik dan Koordinasi Internal
Uni Eropa (UE) menyatakan bahwa saat ini pihaknya belum siap untuk mengerahkan kapal perang tambahan guna menjamin keamanan navigasi di Selat Hormuz Senin 16 Maret 2026.
Meskipun kawasan tersebut merupakan jalur vital perdagangan minyak dunia yang tengah diliputi ketegangan, kendala internal dan kesiapan armada menjadi alasan utama penundaan ini.
Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa mengungkapkan bahwa meskipun ada urgensi untuk melindungi arus perdagangan dari potensi gangguan, proses mobilisasi militer memerlukan kesepakatan bulat dari seluruh negara anggota.
Hingga saat ini, fokus utama blok tersebut masih terbagi pada beberapa titik konflik lain yang juga membutuhkan perhatian armada laut secara intensif.
Fokus Utama Masih Terpecah di Laut Merah
Keengganan UE untuk segera bertindak di Selat Hormuz juga dipengaruhi oleh operasi militer yang sedang berjalan di Laut Merah.
Sebagian besar aset angkatan laut negara-negara Eropa telah dikerahkan dalam misi Aspides untuk menghalau serangan kelompok Houthi, sehingga sumber daya untuk memulai misi baru di Hormuz menjadi sangat terbatas.
Kondisi ini memicu kekhawatiran di kalangan pelaku industri pelayaran global. Pasalnya, tanpa kehadiran patroli keamanan yang kuat, risiko gangguan terhadap kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz tetap tinggi, yang berpotensi memicu lonjakan harga energi di pasar internasional.
Diplomasi Tetap Jadi Jalur Utama UE
Alih-alih pengerahan kekuatan militer secara cepat, Uni Eropa saat ini lebih memilih untuk mengedepankan jalur diplomasi dengan negara-negara di kawasan teluk.
UE berharap dapat meredakan ketegangan melalui dialog politik guna memastikan jalur pelayaran tetap terbuka tanpa harus memicu eskalasi militer yang lebih besar.
Para analis menilai bahwa ketidaksiapan ini menunjukkan tantangan besar bagi Uni Eropa dalam memproyeksikan kekuatan militernya secara mandiri di luar wilayah kedaulatannya.
Editor: Redaktur TVRINews





