REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara dua yayasan yang mengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Ponorogo, Jawa Timur, dan mengaku sebagai cucu dari menteri untuk menekan kepala SPPG, pengawas gizi, hingga pengawas keuangan.
Kepala SPPG Ponorogo Kauman Somorto, Rizal Zulfikar Fikri, bersama Kepala SPPG Ponorogo Jambon Krebet, Moch. Syafi'i Misbachul Mufid, menghampiri Wakil Kepala BGN Nanik Sudaryati Deyang pada kunjungannya ke Blitar, Jawa Timur, untuk meminta perlindungan karena mengaku ditekan dan diintimidasi pengelola SPPG di bawah Yayasan Bhakti Bhojana Nusantara.
Baca Juga
Korlantas Polri Terapkan One Way Sepenggal di Tol Trans Jawa
Setelah Gus Yaqut, KPK Tahan Gus Alex di Perkara Kuota Haji
Anomali Lelang KPK, Ponsel OPPO Rp 73 Ribu Laris RP 59 Juta, Siapa Pembelinya?
"Dua Kepala SPPG dari Ponorogo ini jauh-jauh datang ke Blitar untuk menemui saya karena minta perlindungan, ternyata selama berbulan-bulan mereka bersama pengawas gizi dan pengawas keuangan selalu ditekan dan diintimidasi sebuah yayasan yang mengaku dimiliki seorang cucu menteri," kata Nanik S Deyang dikonfirmasi di Jakarta, Selasa.
Yayasan yang membawahi kedua SPPG itu disinyalir juga telah merekayasa pembelian bahan pangan.
/* Make the youtube video responsive */ .iframe-container{position:relative;width:100%;padding-bottom:56.25%;height:0 ;margin : 14px 0px 15px 0px}.iframe-container iframe{position:absolute;top:0;left:0;width:100%;height:100%} .rec-desc {padding: 7px !important;}
Dari anggaran Rp10 ribu per porsi untuk pembelian bahan pangan yang ditetapkan BGN, mereka hanya membelanjakan Rp6.500 per porsi. Akibatnya, kedua kepala SPPG itu kerap harus nombok atau menutup kekurangan belanja dari kantong pribadi agar menu terlihat pantas.
"Mau enggak mau, kami nombok, saya kasihan sama adik-adik siswa penerima manfaat," kata Mufid.
Perbuatan pemilik yayasan yang menaungi dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) itu, kata Nanik, sungguh tidak manusiawi dan tidak pantas.
Lihat postingan ini di Instagram
Sebuah kiriman dibagikan oleh Republika Online (@republikaonline)