BI Tahan Suku Bunga Acuan, Respons Eskalasi Perang Timur Tengah

republika.co.id
3 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Indonesia (BI) memutuskan tidak membuka ruang penurunan suku bunga acuan (BI Rate) dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Maret 2026, seiring meningkatnya ketidakpastian global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan bahwa opsi penurunan suku bunga tidak lagi dimasukkan dalam pernyataan kebijakan terbaru. “Dampak perang Timur Tengah membuat kami tidak lagi menyampaikan kemungkinan penurunan suku bunga. Kami akan mempertahankan BI Rate,” ujar Perry dalam konferensi pers RDG, Selasa (17/3/2026).

Baca Juga
  • Nasabah Bank Emas di Indonesia Tembus 5,7 Juta
  • Bank Indonesia Sudah Gelontorkan Insentif, Kredit Masih Tumbuh Single Digit, Ada Apa?
  • IHSG Dibuka Menguat, Pasar Cermati Arah Kebijakan Bank Indonesia

Menurutnya, kebijakan tersebut bertujuan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui optimalisasi instrumen moneter, termasuk intervensi pasar dan penguatan cadangan devisa.

Cadangan devisa Indonesia pada akhir Februari 2026 tercatat sebesar 151,9 miliar dolar AS, setara pembiayaan 6,1 bulan impor atau 5,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah—jauh di atas standar kecukupan internasional.

/* Make the youtube video responsive */ .iframe-container{position:relative;width:100%;padding-bottom:56.25%;height:0 ;margin : 14px 0px 15px 0px}.iframe-container iframe{position:absolute;top:0;left:0;width:100%;height:100%}
.rec-desc {padding: 7px !important;}

BI juga memperhitungkan berbagai skenario dampak perang terhadap ekonomi global. Salah satunya adalah perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia yang diproyeksikan turun menjadi 3,1 persen pada 2026 dari sebelumnya 3,2 persen.

Di sisi lain, inflasi global diperkirakan meningkat dari 3,8 persen menjadi 4,1 persen, sehingga mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter global, termasuk potensi penundaan penurunan suku bunga acuan AS (Fed Funds Rate).

Dampak lain terlihat pada pasar keuangan global. Perry menyebut aliran modal asing keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia, akibat meningkatnya ketidakpastian.

Data BI menunjukkan pada Maret 2026 terjadi net outflows investasi portofolio sebesar 1,1 miliar dolar AS. Kondisi ini turut menekan nilai tukar mata uang negara berkembang seiring penguatan dolar AS.

Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) juga berdampak pada meningkatnya yield obligasi di negara berkembang, termasuk Indonesia.

“Optimalisasi kebijakan akan bergantung pada seberapa jauh eskalasi konflik ini berlanjut,” ujar Perry.

 

Loading...
.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;}
Advertisement

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dimediasi Polisi, Pria Tendang Bus TransJ di Sawangan Saling Memaafkan
• 4 jam laludetik.com
thumb
Polisi Akan Tilang Truk Logistik yang Masih Beroperasi pada H-3 Lebaran
• 4 jam lalukompas.com
thumb
BGN Gandeng Kejagung Perketat Pengawasan Anggaran Makan Bergizi hingga ke Desa
• 6 jam lalujpnn.com
thumb
Silaturahmi Ramadan Advokat dan Jurnalis, Dukungan untuk Hariyanto Menguat
• 23 jam lalurealita.co
thumb
Pemain PSM Makassar Diminta Latihan Mandiri, Wajib Timbang Badan Usai Libur Lebaran
• 5 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.