Serangan udara Pakistan ke Afghanistan mengenai rumah sakit rehabilitasi narkoba di ibu kota, Kabul, Selasa (17/3). Sebanyak 400 orang tewas dan 250 lainnya cedera akibat serangan tersebut.
Sejak 2025, kedua negara di Asia itu terlibat konflik bersenjata. Pada Februari lalu, eskalasi ketegangan antara keduanya memuncak.
Pakistan membantah pernyataan pemerintah Taliban di Afghanistan terkait serangan ke rumah sakit rehabilitasi narkoba. Mereka menyebut klaim tersebut keliru.
Pakistan menegaskan serangan mereka menargetkan instalasi militer, bukan rumah sakit seperti yang dinyatakan pihak Afghanistan.
“Ledakan sekunder yang terlihat setelah serangan tersebut jelas menunjukkan keberadaan gudang amunisi besar," kata Menteri Informasi Pakistan, Attaullah Tarar, seperti dikutip dari Reuters.
Kendati demikian, seorang saksi mata kepada kantor berita AFP mengakui bahwa lokasi kejadian adalah rumah sakit. Serangan Pakistan menyebabkan bangunan hancur lalu terbakar.
Seorang saksi mata bernama Ahmad menyebut bom meledak usai salat magrib. Ia mendengar tiga ledakan besar di sekitar rumah sakit.
“Seluruh bangunan terbakar. Ini seperti kiamat. Teman saya terbakar api, dan kami tak bisa menyelamatkan mereka semua,” ucap Ahmad.
Adapun Deputi Juru Bicara Taliban, Hamdullah Fitrat, mengungkap bangunan yang diserang Pakistan adalah RS Omid. Fasilitas medis itu memiliki dua ribu tempat tidur yang diperuntukkan bagi rehabilitasi pecandu narkotika.
“Sebagian besar rumah sakit telah hancur, dan ada kekhawatiran akan banyak korban jiwa. Sejauh ini, jumlah korban tewas mencapai 400 orang, dengan hingga 250 lainnya terluka,” kata Hamdullah.





