jpnn.com, JAKARTA - Pengamat keamanan dan terorisme dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Robi Sugara buka suara terkait kasus penyiraman air keras terhadap aktivis Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus.
Robi menilai kepolisian memiliki kapasitas untuk segera mengungkap pelaku.
BACA JUGA: Teror Penyiraman Air Keras, GREAT Institute Ajak Masyarakat Tak Langsung Menuduh Negara
“Dengan kapasitas dan kapabilitas yang dimiliki, polisi seharusnya bisa segera mengungkap pelaku kasus ini,” kata Robi dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.
Menurut dia, pengungkapan kasus tidak boleh berhenti pada pelaku lapangan, melainkan harus menelusuri hingga pihak yang diduga menjadi aktor intelektual di balik aksi tersebut.
BACA JUGA: Foto Terduga Penyiram Air Keras Hoaks, Disebar Buat Mengaburkan Informasi
“Polisi harus segera menangkap pelaku dan membongkar jaringan di baliknya, bukan hanya operator lapangan,” ujarnya.
Robi menilai metode penyiraman air keras sengaja digunakan untuk menciptakan efek teror jangka panjang karena meninggalkan luka permanen pada korban.
BACA JUGA: Serangan Terhadap Aktivis: Sinyal Dekadensi Demokrasi
“Cara ini menciptakan trauma jangka panjang karena meninggalkan bekas fisik yang permanen. Dalam banyak kasus, dampaknya bisa lebih kejam,” katanya.
Ia mengingatkan, peristiwa tersebut berpotensi memicu keresahan publik apabila tidak segera diungkap secara transparan. Masyarakat, lanjut dia, dapat membangun persepsi bahwa individu yang bersikap kritis rentan menjadi target kekerasan.
Selain itu, Robi menilai keterlambatan pengungkapan kasus juga berisiko memunculkan spekulasi yang dapat merugikan pemerintah dan memperkeruh situasi keamanan nasional.
“Jika tidak ada informasi resmi yang jelas, masyarakat bisa melakukan spekulasi sendiri di media sosial. Hal itu berpotensi memunculkan opini liar yang justru memperkeruh situasi,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan publik agar tidak terburu-buru menarik kesimpulan terkait pihak yang berada di balik serangan tersebut.
“Jangan sampai publik secara cepat menuduh pihak tertentu, misalnya dari kalangan militer, hanya karena tidak menyukai kritik,” kata Robi.
Untuk mendukung pengungkapan kasus, Robi menyarankan dua langkah strategis yang dapat ditempuh kepolisian. Pertama, memperketat pengawasan terhadap distribusi bahan kimia berbahaya seperti air keras melalui regulasi yang lebih ketat.
Kedua, kepolisian diminta menyampaikan perkembangan penyelidikan secara berkala dan transparan kepada publik guna menjaga kepercayaan masyarakat.
Ia menegaskan langkah-langkah tersebut penting untuk memastikan penegakan hukum berjalan efektif sekaligus mencegah terulangnya tindakan kekerasan serupa di masa mendatang.(antara/jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Polisi Periksa 7 Saksi Terkait Kasus Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS, Siapa Saja?
Redaktur & Reporter : Budianto Hutahaean




