EtIndonesia. Operasi militer gabungan antara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran kini telah memasuki pekan ketiga sejak konflik besar ini dimulai pada awal Maret 2026. Intensitas pertempuran terus meningkat, baik di darat, udara, maupun laut, sementara kekuatan militer tambahan mulai dikerahkan ke kawasan Timur Tengah.
Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa konflik tidak lagi terbatas pada serangan udara, tetapi juga telah berkembang menjadi operasi strategis yang menyasar jalur energi, pusat penelitian militer, serta infrastruktur penting Iran.
Amerika Serikat Kerahkan Marinir ke Sekitar Selat Hormuz
Pada Sabtu, 14 Maret 2026, Amerika Serikat mulai melakukan pengerahan pasukan Marinir di sekitar Selat Hormuz, salah satu jalur energi paling vital di dunia.
Penempatan pasukan ini diperkirakan mencakup beberapa wilayah strategis, antara lain:
- Pulau Qeshm
- Pulau Hormuz
- sejumlah pulau kecil lain di sekitarnya
Langkah ini bertujuan untuk:
- Mengamankan jalur pelayaran internasional
- Mencegah gangguan terhadap distribusi minyak global
- Memantau aktivitas militer Iran di kawasan Teluk Persia
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia, sehingga setiap gangguan di kawasan ini berpotensi mengguncang pasar energi global.
Marinir AS dari Jepang Dikirim ke Timur Tengah
Pada saat yang sama, Washington juga meningkatkan kekuatan militernya di Timur Tengah dengan mengerahkan Marine Expeditionary Unit (MEU) ke-31, yang selama ini bermarkas di Okinawa, Jepang. Hal demikian disampaikan seorang pejabat AS yang mengetahui masalah ini kepada The Epoch Times.
Media lain sebelumnya melaporkan bahwa Unit Ekspedisi Marinir (MEU) ke-31, yang terdiri dari sekitar 5.000 anggota Marinir dan pelaut, telah menerima perintah untuk berangkat ke Timur Tengah.
MEU ke-31 saat ini beroperasi di dekat Jepang, di atas kapal serbu amfibi USS Tripoli, serta kapal dok angkut amfibi USS San Diego dan USS New Orleans.
Pasukan semacam itu dapat membawa kemampuan tempur dan dukungan tambahan di darat, amfibi, dan udara ke wilayah tersebut.
Sebagai kapal serbu amfibi, USS Tripoli mirip dengan kapal induk kecil dan dapat meluncurkan pesawat tempur khusus. Dalam beberapa pekan terakhir, kapal tersebut terekam beroperasi bersama jet tempur siluman F-35B Lightning II varian lepas landas pendek milik Korps Marinir.
Ketiga kapal yang mendukung MEU ke-31 juga mampu meluncurkan berbagai jenis helikopter serang dan angkut pasukan, serta kapal pendaratan amfibi.
Bulan lalu, pasukan Marinir dari 31st MEU melakukan latihan amfibi bekerja sama dengan Pasukan Pertahanan Darat Jepang.
Saat ini armada tersebut dilaporkan sedang berada di perairan dekat Taiwan dan diperkirakan akan tiba di kawasan Timur Tengah dalam satu hingga dua minggu mendatang.
Sementara itu, laporan dari NBC News menyebutkan bahwa Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) juga akan mengirim tambahan 2.500 personel Angkatan Laut ke kawasan tersebut.
Pasukan ini nantinya akan bergabung dengan 2.500 marinir tambahan yang sebelumnya telah diumumkan, sehingga total kekuatan tambahan yang dikirim ke wilayah operasi mencapai sekitar 5.000 personel militer.
Pada awal operasi militer AS melawan Iran, terdapat antara 40.000 hingga 50.000 pasukan AS yang beroperasi di seluruh Timur Tengah.
Israel Bombardir Teheran, 200 Target Dihantam
Di tengah peningkatan kekuatan militer Amerika, Angkatan Udara Israel (IAF) juga terus melancarkan serangan intensif terhadap berbagai target strategis di Iran.
Pada 14 Maret 2026, Israel kembali melakukan serangan udara besar-besaran ke Teheran.
Menurut laporan militer Israel, lebih dari 200 target telah dihantam hanya dalam waktu 24 jam terakhir.
Target yang diserang meliputi:
- peluncur rudal balistik
- sistem pertahanan udara
- fasilitas produksi senjata
- pusat komando militer
Selain itu, Israel juga menghancurkan pusat penelitian utama Badan Antariksa Iran di Teheran serta sebuah pabrik produksi sistem pertahanan udara.
Pusat Penelitian Antariksa Iran Dihancurkan
Laboratorium strategis di pusat penelitian tersebut selama ini digunakan untuk berbagai proyek militer sensitif, termasuk:
- pengembangan satelit militer
- sistem pengumpulan intelijen orbital
- teknologi penentuan target serangan jarak jauh
Karena fungsinya yang sangat penting bagi kemampuan militer Iran, fasilitas ini dianggap sebagai salah satu target strategis bernilai tinggi.
Sebelumnya, pada 8 Maret 2026, Israel juga telah menghancurkan markas pasukan ruang angkasa Garda Revolusi Iran (IRGC Aerospace Force) di Teheran.
Markas tersebut bertanggung jawab atas:
- operasi satelit militer Iran
- komando peluncuran rudal
- koordinasi sistem pertahanan ruang angkasa
Strategi Serangan Sistematis
Sejumlah analis militer menilai bahwa serangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel menunjukkan pola strategi yang sangat sistematis.
Urutan target serangan yang terlihat sejauh ini meliputi:
- Menghancurkan kendaraan peluncur rudal
- Melumpuhkan jaringan intelijen serta aparat keamanan
- Menyerang pelabuhan, pangkalan militer, dan pusat komando
Pendekatan ini bertujuan untuk membongkar mesin perang Iran secara bertahap, sekaligus memutus kemampuan rezim dalam mengkoordinasikan operasi militer.
Di media sosial, seorang warganet menulis: “Jika Marinir AS sudah ditarik dari Jepang, berarti Iran benar-benar hampir tidak mampu bertahan lagi.”
Komentar lain menyebutkan: “Jika pusat penelitian antariksa sudah dihancurkan, program satelit militer Iran bisa langsung berhenti total.”
Trump Serukan Pengawalan Selat Hormuz
Pada 14 Maret 2026, Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga mengeluarkan seruan terbuka melalui media sosial.
Ia mengundang sejumlah negara besar untuk ikut mengirim kapal perang guna mengawal jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.
Negara yang disebutkan dalam seruan tersebut antara lain:
- Tiongkok
- Jepang
- Prancis
- Korea Selatan
- Inggris
Menurut Washington, sejak konflik dimulai, sekitar 16 juta barel minyak Iran telah diam-diam dikirim ke Tiongkok melalui jalur laut.
Hal ini memunculkan pertanyaan besar mengenai kemungkinan Tiongkok mengirim kapal perang ke kawasan tersebut, yang mana dapat menciptakan dinamika diplomatik baru.
Iran Semakin Terisolasi
Di tengah eskalasi konflik, Iran juga menghadapi tekanan diplomatik yang semakin besar.
Menurut laporan Reuters, bahkan sekutu lama Iran mulai menjaga jarak.
Organisasi Hamas, misalnya, memang menyatakan mendukung hak Iran untuk membela diri, namun secara terbuka juga meminta Teheran tidak menyerang negara-negara tetangga.
Banyak pengamat menilai bahwa posisi Iran kini semakin terisolasi di panggung internasional.
Ketua Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS, Jim Risch, dalam sidang terbuka bahkan mengatakan:
“Di seluruh Timur Tengah saat ini hanya ada satu apel busuk, dan itu adalah Iran.”
Ia juga menambahkan bahwa negara-negara yang biasanya mendukung Iran, seperti:
- Tiongkok
- Rusia
- Korea Utara
- Kuba
- Venezuela
kali ini tidak secara langsung turun tangan membantu Teheran.
Rumor Kematian Pemimpin Iran
Di tengah bombardir besar-besaran yang terus berlangsung, muncul pula rumor mengenai kondisi pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei.
Sejumlah laporan tidak resmi menyebutkan bahwa ia telah meninggal dunia, meskipun belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah Iran.
Pada saat yang sama, Reza Pahlavi, putra mahkota Iran yang hidup dalam pengasingan, kembali menyerukan perubahan politik di negaranya.
Pada 14 Maret 2026, ia menyatakan bahwa jika rezim Republik Islam runtuh, pemerintahan transisi telah siap mengambil alih kekuasaan.
Dalam surat yang ditujukan kepada kelompok oposisi bawah tanah di Iran, ia menyerukan agar mereka: melemahkan mesin represif rezim serta membuka jalan menuju pembongkaran sistem penindasan
Ia menegaskan bahwa strategi tersebut bukan sekadar demonstrasi jalanan, tetapi serangan strategis terhadap aparat penindasan rezim. (***)





