Mampukah AI Mengungkap Pelaku Penyiraman Andrie Yunus?

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

Setelah tiga hari, pelaku penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Kontras Andrie Yunus belum juga tertangkap. Pada saat bersamaan, foto terduga pelaku yang merupakan hasil olahan akal imitasi (AI) tersebar di media sosial. Mampukah AI mengungkap pelaku penyiraman?

Andrie Yunus menjadi korban penyiraman air keras pada Kamis (12/3/2026) pukul 23.37 WIB. Saat itu, korban baru selesai melakukan perekaman siniar (podcast) bertajuk ”Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia” di Kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Jakarta.

Ketika korban, yang mengendarai sepeda motor, melintas di Jalan Salemba I-Talang, Jakarta Pusat, dua pelaku menghampiri dari arah berlawanan. Dari rekaman kamera pemantau (CCTV) yang beredar, pelaku awalnya melewati korban. Namun, mereka memutar arah menuju korban.

Baca JugaKronologi Wakil Koordinator Kontras Andrie Yunus Disiram Air Keras

Saat berpapasan dengan korban, salah satu pelaku kemudian menyiramkan air keras ke arah Andrie. Korban berteriak kesakitan, menjatuhkan sepeda motornya, dan melepas helm serta bajunya. Korban kemudian dibawa ke rumah sakit dengan luka bakar di tubuh mencapai 24 persen.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Kontras, pelaku pertama merupakan pengendara dengan pakaian kaus berwarna kombinasi putih-biru, celana gelap diduga jins, dan helm hitam. Pelaku di bagian belakang memakai penutup wajah atau masker (buff) yang menutupi setengah wajahnya.

Pelaku mengenakan kaus berwarna biru tua dan celana panjang biru diduga berbahan jins yang dilipat menjadi pendek. Kedua pelaku yang diduga kuat merupakan pria itu menggunakan sepeda motor matik Honda Beat keluaran tahun 2016 sampai 2021. 

Hingga Senin (16/3/2026) siang atau tiga hari setelah kejadian, polisi belum mengumumkan identitas pelaku. Namun, foto yang diduga pelaku telah tersebar di media sosial. Di platform X (dulunya Twitter), misalnya, sebuah akun mengunggah foto wajah diduga pelaku dengan jelas.

Cuitan yang diunggah sejak Jumat (14/3/2026) malam itu hingga kini telah diunggah ulang hampir 3.000 kali dengan penayangan 1,4 juta kali dan 13.000 tanda suka. Sejumlah akun juga turut menyebar foto yang diduga pelaku itu dengan harapan polisi segera meringkus mereka.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Jakarta Pusat Ajun Komisaris Besar Roby Saputra mengatakan, kasus penyiraman air keras itu dalam tahap penyidikan. Terkait foto terduga pelaku yang beredar di media sosial, ia memastikan gambar itu adalah hasil olahan AI.

”Foto yang beredar merupakan hasil AI, bukan gambar pelaku,” ucapnya. Foto itu, lanjutnya, juga tidak sesuai dengan gambaran tangkapan layar CCTV dan keterangan saksi. Ia khawatir, beredarnya foto olahan AI itu akan mendistraksi wajah pelaku yang sebenarnya (Kompas.id, 15/3/2026).

AI generatif (gen AI), model kecerdasan artifisial yang membuat gambar, suara, video, dan kode pemrograman, memang dapat meningkatkan kualitas foto dengan memasukkan instruksi teks (prompt). Gen AI juga memakai model bahasa besar (LLM) sehingga mampu berinteraksi dengan bahasa manusia.

Uji coba

Kompas mencoba memperjelas tangkapan layar CCTV yang merekam pelaku penyiraman air keras dengan memakai Gemini dari Google, ChatGPT dari OpenAI, dan Grok dari xAI. Uji coba ini tidak menggunakan akun berlangganan sehingga siapa pun bisa mempraktikkannya.

Dengan prompt meningkatkan resolusi foto yang blur terkait gambar pelaku, dalam hitungan detik, Gemini langsung merekonstruksi foto kedua terduga pelaku yang berada di atas sepeda motor. Pengendara mengenakan baju polos putih, helm hitam, dan celana jins biru tua. Padahal, di CCTV, pakaiannya kombinasi biru-putih.

Di bagian belakang, terduga pelaku tidak mengenakan penutup wajah. Rambutnya rapi dengan kedua sisinya terlihat tipis. Bajunya biru tua dengan celana jins menjulur ke bawah. Padahal, di CCTV, celana jins terduga pelaku dilipat pendek dan bagian wajahnya ditutupi buff

Berbeda dengan Gemini, ChatGPT tidak dapat memperjelas kedua wajah terduga pelaku. Menurut ChatGPT, sumber gambar dari CCTV itu memiliki resolusi yang sangat rendah dan motion blur. ”Sebenarnya AI hanya menebak bentuk wajah, bukan merekonstruksi wajah asli,” tulis ChatGPT.

Mirip dengan ChatGPT, Grok juga tidak mampu memperjelas gambar dari CCTV tersebut. Pakaian kedua terduga pelaku, misalnya, tampak buram seperti gambar yang tertutup noda di beberapa bagian. Wajah mereka juga terlihat agak mirip, lengkap dengan kumisnya. 

Ketiga percobaan itu menunjukkan, gen AI belum mampu mengidentifikasi identitas terduga pelaku penyiraman air keras. Namun, menurut psikolog forensik Reza Indragiri, menyebarnya foto olahan AI itu merupakan kreativitas warga yang mendesak pengungkapan pelaku. 

”Yang jelas, kreativitas ini pada dasarnya berangkat dari kebutuhan kodrati manusia untuk bisa memahami situasi selekas-lekasnya,” ujar Reza. Meski demikian, foto olahan AI yang tersebar itu tidak banyak berkontribusi ke proses penangkapan pelaku penyiraman air keras.

Sebab, wajah atau tubuh mereka di foto itu tidak punya tanda spesifik. Orang juga tidak menyimpan foto itu. ”Dengan kata lain, selepas melihat foto hasil AI, berlalu begitu saja. Itu juga tidak membantu otoritas hukum menemukan pelaku. Mudah-mudahan tidak mengakibatkan salah tangkap,” ucapnya.

Reza mengingatkan otoritas penegakan hukum agar menghindari memakai kacamata kuda dalam pengungkapan pelaku. Publik, lanjutnya, juga seharusnya tidak mengarahkan ke salah satu institusi. Kondisi ini dapat memicu stigma pada institusi itu alih-alih mengungkap pelakunya.

Baca JugaPenyiraman Air Keras Bukti Nyata Teror terhadap KPK

Menurut dia, ada beberapa hal yang harus didalami lebih lanjut. Gambar terduga pelaku yang tidak mengenakan penutup muka, sarung tangan, dan tidak menetralisasi CCTV mengesankan bahwa mereka adalah pelaku awam. ”Mereka bukan eksekutor terlatih dan terkoordinasi,” ujarnya.

Reza menilai, kedua pelaku dipekerjakan agar mudah ditangkap oleh aparat. ”Jika mereka menyerahkan diri, tambahan lagi status mereka selaku awam. Ada tiga kemungkinan bagi pelaku. Pertama, meyakinkan otoritas hukum bahwa mereka telah diperalat. Kedua, sebatas dikenai pasal penganiayaan. Ketiga, dapat keringanan sanksi pidana,” tuturnya.

Adopsi AI

Terlepas dari siapa pelakunya, Reza mengatakan, AI dapat digunakan dalam penegakan hukum. ”Pada masa sekarang, setidaknya AI digunakan untuk peningkatan efisiensi kerja administrasi. Generasi berikutnya, bisa sebagai alat bantu pada pemetaan karier dan criminal profiling,” ujarnya.

Sejumlah penelitian juga menunjukkan efektivitas penggunaan AI dalam pengungkapan kasus hukum. Salah satunya tulisan Shai Farber berjudul ”AI as a decision support tool in forensic image analysis: A pilot study on integrating large language models into crime scene investigation workflows” di Journal of Forensic Sciences pada April 2025.

Pengajar hukum dan kriminologi dari Emek Jezreel Academic College, Israel, ini meneliti ChatGPT-4, Claude, dan Gemini untuk menganalisis gambar forensik di tempat kejadian perkara (TKP). Penelitian ini mengecek 30 gambar di TKP kasus pencurian hingga pembunuhan. Analisis juga melibatkan 10 pakar forensik.

Hasilnya, ketiga model AI itu memiliki akurasi pengamatan rata-rata 7,6 dari angka 10, identifikasi bukti (7,1), hingga keandalan keseluruhan dalam analisa TKP (7,4). Waktu analisis gambar forensik oleh AI juga kurang dari 2 menit, sedangkan manusia butuh rata-rata 41,8 menit.

Baca JugaIroni Penyiraman Air Keras Aktivis Kontras Saat Indonesia Jabat Presiden Dewan HAM PBB

Meski demikian, penggunaan AI dalam analisis gambar forensik memiliki kelemahan. Penelitian ini mencatat, kesalahan paling umum adalah kekeliruan mengidentifikasi obyek dan melewatkan bukti kritis, yakni 62 persen. Kesimpulan tanpa dasar oleh AI juga mencapai 24 persen.

Menurut Farber, berbagai kelemahan itu tidak terlepas dari kompleksnya analisis forensik di TKP, yang tidak hanya bertumpu pada gambar. Ada pertimbangan lain, seperti aroma, keterangan saksi, hingga detail lain. AI juga berpotensi memiliki bias rasial hingga jender, sesuai dengan data yang digunakan untuk pelatihan.

Intinya, (AI) dapat mendukung, bukan menggantikan, penilaian ahli dalam investigasi forensik.

Jika data yang digunakan kerap menampilkan pelaku dengan ras tertentu, hasil olahan AI bisa merujuk pada ras tersebut. Tantangan lainnya adalah keamanan data pribadi. Penerapan AI dalam analisis forensik yang membutuhkan banyak data harus memastikan data warga tetap aman.

Meskipun AI dapat meningkatkan kemampuan lembaga dengan sumber daya terbatas, penerapannya harus disertai pengaman. Mulai dari protokol validasi yang jelas, persyaratan pelatihan pengguna, hingga pengembangan pedoman penggunaan sebagai alat analisis forensik.

”Intinya, (AI) dapat mendukung, bukan menggantikan, penilaian ahli dalam investigasi forensik,” ujar Farber.

Dalam kasus penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus, foto olahan AI tidak cukup mengidentifikasi pelaku. Aparat hukum dan ahli forensiklah yang mampu mengungkap pelaku.



Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
BRI Super League: Persib Langsung Libur Usai dari Samarinda, Bojan Hodak Minta Pemain Tetap Jaga Kondisi
• 17 jam lalubola.com
thumb
Jembatan Penghubung Pasar Tanah Abang Padat Pengunjung, Butuh 20 Menit untuk Lewat
• 22 jam lalukompas.com
thumb
Mudik Gratis Presisi 2026 Targetkan 32 Ribu Peserta, Jatim Sediakan Kapal Angkut Kendaraan
• 14 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Kemenag Gelar Sidang Isbat Penetapan Awal Lebaran pada 19 Maret 2026
• 18 jam laluidxchannel.com
thumb
ALMAL Real Estate Development Tunjuk Wyndham Hotels & Resorts untuk The One by ALMAL Bali Nusa Dua, Sebuah Hotel Registry Collection
• 3 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.