Tiga negara anggota North Atlantic Treaty Organization (NATO) menyatakan tidak ingin terseret dalam perang yang semakin meluas di Timur Tengah di tengah konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran.
Ketiga negara tersebut adalah Inggris, Jerman, dan Yunani. Menurut laporan AlJazeera, penolakan keterlibatan itu disampaikan terpisah di hari yang sama, Senin (16/3).
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menegaskan negaranya tidak akan terlibat dalam perang yang lebih luas di kawasan.
“Kami tidak akan terseret ke dalam perang yang lebih luas,” kata Starmer.
Ia mengatakan prioritas pemerintah Inggris saat ini adalah melindungi warga negaranya di kawasan Timur Tengah.
“Prioritas kami tetap melindungi warga Inggris di kawasan itu, sambil mengambil langkah yang diperlukan untuk mempertahankan diri dan sekutu kami,” ujarnya.
Menurut Starmer, rencana yang tengah disusun Inggris bersama sejumlah sekutu untuk membuka kembali jalur pelayaran Selat Hormuz tidak akan melibatkan NATO.
“Perlu saya tegaskan, rencana itu sejak awal memang tidak pernah dirancang sebagai misi NATO,” jelasnya, sebagaimana dilansir AFP.
Senada, pemerintah Jerman menegaskan perang yang melibatkan Iran tidak berkaitan dengan NATO sehingga Berlin tidak akan ikut serta dalam konflik tersebut.
“Selama perang ini masih berlangsung, tidak akan ada partisipasi, bahkan untuk upaya menjaga Selat Hormuz tetap terbuka melalui cara militer,” ungkap juru bicara pemerintah Jerman, seperti dikutip AlJazeera.
Pemerintah Yunani juga menyampaikan sikap serupa. Juru bicara pemerintah Yunani Pavlos Marinakis menerangkan negaranya tidak akan terlibat dalam operasi militer di kawasan tersebut.
“Yunani tidak akan terlibat dalam operasi militer apa pun di Selat Hormuz,” kata Marinakis kepada AlJazeera.
Pernyataan ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump meminta negara-negara sekutu membantu mengamankan jalur pelayaran strategis di Strait of Hormuz di tengah perang yang terus memanas di Timur Tengah.





