NILAI tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Senin (16/3/2026). Berdasarkan data pasar, rupiah terkoreksi 39 poin atau 0,23 persen ke level 16.997 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi 16.958 per dolar AS.
Pelemahan ini selaras dengan pergerakan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia yang turut melemah ke level Rp16.990 per dolar AS dari posisi sebelumnya di Rp16.934 per dolar AS.
Dampak Ketidakpastian Geopolitik GlobalResearch and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, menjelaskan bahwa tekanan terhadap mata uang Garuda (rupiah) dipicu oleh tingginya permintaan terhadap aset safe-haven.
Baca juga : Kurs Rupiah Melemah 7 Poin akibat Blokade Selat Hormuz dan Harga Minyak
"Tekanan terhadap rupiah terutama berasal dari penguatan dolar AS di pasar global. Hal ini seiring meningkatnya permintaan terhadap aset aman di tengah ketidakpastian geopolitik, khususnya konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah," ujar Amru di Jakarta, Senin (16/3).
Ketegangan di Timur Tengah tidak hanya memicu volatilitas pasar keuangan, tetapi juga berpotensi mendorong kenaikan harga energi global yang dapat memperburuk inflasi dunia.
Ekspektasi Suku Bunga The FedDari sisi makroekonomi global, pelaku pasar sedang mencermati perkembangan inflasi di Amerika Serikat yang bertahan di kisaran 2,4 persen secara tahunan. Angka yang relatif stabil tetapi tetap di atas target ini memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu yang lebih lama (higher for longer).
Baca juga : Rupiah Hari Ini 10 Maret 2026: Dibuka Menguat, masih Dibayangi Timur Tengah
Kondisi suku bunga tinggi di AS cenderung menarik aliran modal keluar (capital outflow) dari pasar negara berkembang kembali ke AS, sehingga memberikan tekanan tambahan pada nilai tukar rupiah.
Meskipun kurs rupiah mendekati angka psikologis Rp17.000, fundamental ekonomi domestik dinilai masih solid. Beberapa faktor pendukung meliputi:
- Inflasi domestik yang terkendali di target sasaran.
- Stabilitas makroekonomi yang terjaga dengan baik.
- Kinerja neraca perdagangan Indonesia yang konsisten mencatatkan surplus.
Untuk meredam volatilitas, Bank Indonesia diprediksi akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah. Langkah intervensi di pasar valas serta pemastian kecukupan likuiditas dolar di pasar domestik menjadi kunci untuk mempertahankan kepercayaan investor asing terhadap perekonomian nasional. (RO/I-2)





