Larijani Endus Rencana Geng Epstein Gelar Operasi Mirip 9/11 untuk Kambinghitamkan Iran

republika.co.id
13 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID,TEHERAN — Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, mengeluarkan peringatan keras terkait adanya rencana Amerika Serikat (AS) untuk melancarkan operasi bendera palsu (false flag). Operasi ini disebut bertujuan mengambinghitamkan Teheran dalam insiden teror besar serupa serangan 11 September (9/11).

Melalui unggahan di akun X miliknya pada Ahad (15/3/2026), Larijani menegaskan posisi fundamental Republik Islam yang menolak segala bentuk terorisme. Ia juga menggarisbawahi bahwa Iran tidak memiliki permusuhan dengan rakyat Amerika, melainkan fokus pada pembelaan kedaulatan negara.

Baca Juga
  • Iran: 80 Persen Rudal Kami Hantam Pangkalan Udara AS
  • Jutaan Burung Besar Ikut Mengancam Pertahanan Tentara Zionis Israel dalam Perang
  • Waktunya Indonesia Pimpin 'Orkestra Global' Gempur Islamofobia

Larijani secara spesifik menyinggung adanya sisa-sisa kekuatan dari jaringan tertentu di Washington yang mencoba merancang provokasi mematikan. "Saya telah mendengar bahwa sisa-sisa tim Epstein telah menyusun plot untuk menciptakan insiden serupa 11 September dan menyalahkan Iran," tulis Larijani seperti dikutip dari kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim.

Peristiwa 9/11 terjadi ketika empat pesawat komersial dibajak sekelompok orang pada 11 September 2001. Dua diantaranya ditabrakkan ke Menara Kembar World Trade Center di New York dan satu lainnya ke markas pusat militer AS, Pentagon, di Washington. 

/* Make the youtube video responsive */ .iframe-container{position:relative;width:100%;padding-bottom:56.25%;height:0 ;margin : 14px 0px 15px 0px}.iframe-container iframe{position:absolute;top:0;left:0;width:100%;height:100%}
.rec-desc {padding: 7px !important;}

Satu pesawat lainnya tak berhasil diarahkan ke Gedung Putih di Washington karena perlawanan penumpang dan jatuh di Pennsylvania. Peristiwa tersebut merenggut nyawa lebih dari 3.000 warga AS. Sejak itu, dunia tak sama lagi. Gelombang Islamofobia terjadi di Amerika Serikat di tengah komando perang pimpinan Presiden George W Bush kepada Afganistan dan Irak.

 

 

 

 

Loading...
.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;}
Advertisement

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Libur Lebaran 2026, RSUD Dr Soetomo Siagakan 7.081 Tenaga Kesehatan
• 6 jam lalurctiplus.com
thumb
Komisi III DPR RI Kawal Penegakan Hukum Kasus Penyiraman Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus
• 8 jam lalupantau.com
thumb
Polisi Periksa 7 Saksi Terkait Kasus Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS, Siapa Saja?
• 4 jam lalujpnn.com
thumb
bank bjb Catat Kinerja Solid di 2025, Aset Tembus Rp221,4 Triliun
• 6 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Iran Siap Perang Panjang Lawan Amerika Serikat dan Israel, Apa Strateginya? Begini Perkembangannya
• 36 menit lalukompas.tv
Berhasil disimpan.