Bertahan di Tanah Rawan: Kisah Santi dan Rumahnya di Lereng Bandung Barat

kumparan.com
7 jam lalu
Cover Berita

Senja itu datang bersama hujan deras yang tak kunjung reda. Sejak waktu dzuhur, awan hitam sudah menggantung di langit Desa Cibogo, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Air turun semakin lebat menjelang maghrib, seolah tak memberi tanda bahwa bencana akan segera datang.

Santi (43) masih mengingat jelas malam ketika tanah longsor menerjang kawasan tempat tinggalnya pada Mei 2025 lalu. Hujan deras yang mengguyur selama berjam-jam membuat tanah yang dulunya merupakan selokan itu akhirnya runtuh.

“Maghrib itu hujannya memang besar. Dari dzuhur sudah hujan terus. Kebetulan tempat ini dulunya selokan, jadi pas curah hujannya tinggi langsung longsor,” kata Santi saat ditemui pada Senin (16/3).

Saat itu, Santi tidak sendirian di rumah. Beberapa anggota keluarga sedang berkumpul. Tiga kepala keluarga berada di dalam rumah yang sama, termasuk anak-anak yang sedang bermain.

“Anak kecil ada lima orang waktu itu lagi pada main, lagi kumpul saja. Kebetulan keluarga memang dekat-dekat di sini,” ujarnya.

Sejak hujan semakin deras, rasa khawatir sebenarnya sudah muncul. Santi bahkan sempat memperingatkan suaminya agar berhati-hati karena air terlihat melimpas dari tanah di sekitar rumah.

“Sudah wanti-wanti ke suami, kayaknya airnya limpas. Hati-hati, hati-hati,” katanya.

Tak lama kemudian, suara gemuruh terdengar dari arah lereng. Tanah yang dipenuhi pepohonan itu tiba-tiba bergerak. Santi dan keluarga yang sudah merasa waswas langsung bergegas keluar rumah.

“Dengar suara gemuruh. Kelihatan pohon-pohon di situ. Langsung lari keluar,” tuturnya.

Di bawah lereng, beberapa warga yang sedang memancing di sebuah kolam juga ikut berlarian menyelamatkan diri. Tubuh mereka bahkan sudah dipenuhi lumpur saat berhasil naik ke area yang lebih tinggi.

Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Meski begitu, beberapa warga mengalami luka ringan dan harus menjalani perawatan singkat.

“Alhamdulillah tidak ada korban jiwa. Luka saja ada, dirawat paling dua hari,” kata Santi.

Longsor Bukan Hal Baru

Longsor sebenarnya bukan hal baru bagi warga di kawasan itu. Namun biasanya hanya longsor kecil yang tidak sampai merusak rumah warga. Bencana pada tahun lalu menjadi yang paling besar yang pernah mereka alami.

“Sering sih longsor kecil-kecil. Tapi yang paling parah ya yang kemarin itu,” ujarnya.

Beberapa rumah mengalami kerusakan serius. Ada rumah yang kondisinya menggantung di tepi tanah yang runtuh. Sebagian warga bahkan harus dipindahkan sementara.

Empat kepala keluarga sempat mengungsi di balai RW karena rumah mereka tidak lagi aman. Namun karena fasilitas di sana terbatas, mereka kemudian dipindahkan oleh pemerintah ke tempat lain dan disediakan rumah sewa sementara selama dua bulan.

“Kalau sembako Alhamdulillah ada bantuan, telur sama beras dikasih. Tapi ya sudah itu saja,” kata Santi.

Berbeda dengan sebagian tetangganya, Santi memilih tetap tinggal di rumahnya. Setelah sempat mengungsi sebentar, ia memutuskan kembali karena masih memiliki keluarga yang tinggal berdekatan.

“Kalau saya mah Alhamdulillah ada saudara di sini, jadi ngungsi juga ke keluarga saja,” ujarnya.

Pemerintah desa sebenarnya sempat merencanakan relokasi warga ke daerah Cikareo. Namun rencana itu belum bisa berjalan karena persoalan status tanah.

“Katanya mau direlokasi ke Cikareo, tapi tanahnya katanya sengketa. Jadi belum jelas juga,” kata Santi.

Meski begitu, ia mengaku sebenarnya ingin pindah jika memang ada tempat yang lebih aman.

“Iya atuh kalau bisa pindah. Masa numpang terus sama keluarga,” ujarnya sambil tersenyum tipis.

Namun untuk saat ini, rumah di lereng yang rawan longsor itu masih menjadi tempat yang ia pertahankan. Tempat itu bukan sekadar bangunan, tetapi juga bagian dari sejarah hidupnya.

“Dari dulu memang di sini. Saya lahir juga sudah di sini,” kata Santi.

Di tengah ancaman tanah yang sewaktu-waktu bisa kembali bergerak, Santi dan warga lainnya masih bertahan menunggu kepastian, sekaligus berharap suatu hari bisa tinggal di tempat yang lebih aman.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
PBNU Desak Pemerintah Konsisten dalam Penentuan Satu Syawal 1447 H
• 6 jam lalubisnis.com
thumb
Allegri Bantah Ruang Ganti AC Milan Retak Usai Insiden Rafael Leao Mengamuk di Lapangan saat Dikalahkan Lazio
• 12 jam lalutvonenews.com
thumb
Israel dan Lebanon Bersiap Negosiasi Gencatan Senjata
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
KAI Daop 5 Purwokerto Terima 13 Sertifikat Elektronik dari BPN Cilacap
• 2 jam lalutvrinews.com
thumb
Antisipasi Dampak Perang, Pemerintah Siapkan Efisiensi Anggaran K/L
• 1 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.