Mendikdasmen: PP Tunas Bukan Melarang Anak Pakai Gadget, tapi Membatasi

kumparan.com
6 jam lalu
Cover Berita

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti menegaskan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (TUNAS) tidak bertujuan melarang anak menggunakan gadget.

Menurutnya, aturan tersebut justru bertujuan membatasi penggunaan gawai agar dimanfaatkan untuk hal yang positif.

"PP Tunas itu tidak melarang penggunaan gawai ya, tetapi membatasi penggunaan," ujar Mu'ti setelah meresmikan program 'Mudik Asyik Baca Buku' di Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat, Senin (16/3).

"Pembatasan penggunaan itu adalah bagaimana anak-anak itu kita arahkan penggunaannya untuk tujuan-tujuan yang positif," imbuhnya.

Mu'ti menjelaskan pembatasan penggunaan gawai membutuhkan peran banyak pihak, mulai dari keluarga, guru, masyarakat, hingga penyedia layanan media sosial.

"Karena itu dalam pelaksanaannya PP Tunas ini memang meniscayakan dukungan dari keluarga, dukungan dari tentu saja guru dan masyarakat, termasuk juga penyedia berbagai layanan media sosial itu. Sebenarnya kontrolnya ada pada mereka," tutur Mu'ti.

Peran Guru Mengawasi Akses Internet

Mu'ti mencontohkan pengawasan penggunaan gawai dapat dilakukan di lingkungan sekolah oleh guru.

"Tentu saja kalau di sekolah mungkin anak-anak kan bisa aksesnya ke internet ya, itu dikontrol dan diawasi oleh gurunya. Karena dalam proses pembelajaran tentu guru bisa mengarahkan, wah situs mana yang diakses, web mana yang bisa di-download," ucap Mu'ti.

Ia juga menilai banyak materi pembelajaran yang tersedia di layanan digital dan media sosial sehingga perlu diarahkan dengan baik.

"Karena memang banyak sekali materi-materi yang tersedia dalam layanan online. Nah karena itu, bagaimana kontrolnya, bagaimana pengarahan dan pengawasan, ini yang menjadi kunci dari pelaksanaan PP Tunas itu," ucap Mu'ti.

Batasi Screen Time Anak

Mu'ti menambahkan pembatasan penggunaan gawai juga dilakukan melalui program literasi, salah satunya lewat kegiatan 'Mudik Asyik Baca Buku' serta perubahan kebijakan penugasan sekolah yang lebih menekankan aspek literasi.

"Screen time-nya kita batasi. Kemudian juga ini apa, screen zone-nya juga mulai kita atur, sehingga mereka lebih memiliki kebiasaan untuk bersosialisasi, berinteraksi dengan cara yang baik, dan kemudian tentu saja mengisi waktunya dengan membaca buku," tutur Mu'ti.

Menurut Mu'ti, kegiatan literasi dapat membantu anak lebih peka terhadap lingkungan sekitar dan mengekspresikan pengalaman mereka melalui tulisan.

"Mendorong mereka sejak dini sudah mulai berlatih menulis, walaupun dengan kalimat-kalimat sederhana, menuliskan apa yang mereka lihat, menuliskan apa yang mereka alami," ungkap Mu'ti.

Ia berharap pendekatan tersebut dapat membuat anak tidak bergantung pada gadget.

"Sehingga dengan cara yang lebih alamiah seperti itu, mudah-mudahan mereka tidak bergantung pada gawai yang tentu saja itu harus dibatasi penggunaannya, terutama untuk anak-anak yang memang masih berusia muda di bawah 16 tahun," ujarnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Siswa SLB Penyandang Disabilitas di Jakarta Utara Ikuti Program Pelatihan Pemberdayaan
• 20 jam laluliputan6.com
thumb
Catat! Diskon Tarif Tol Trans Jawa 30% Terakhir Hari Ini
• 9 jam lalubisnis.com
thumb
Presiden Prabowo Tahan Pelebaran Defisit 3 Persen, Momentum Efisiensi dan Realokasi Anggaran
• 38 menit lalukompas.id
thumb
Ramalan Cinta Shio 16 Maret 2026: Kehidupan Asmara Tikus hingga Babi
• 22 jam lalutvonenews.com
thumb
15 Perjalanan Terdampak Cuaca Buruk di Bandara Juanda
• 18 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.