Utang Luar Negeri RI Naik jadi Rp7.301,2 Triliun pada Januari 2026

bisnis.com
4 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Bank Indonesia melaporkan Utang Luar Negeri Indonesia mencapai US$434,7 miliar pada Januari 2026 atau sekitar Rp7.301,2 triliun (kurs JISDOR 30 Januari 2026 sebesar Rp16.796 per dolar AS). Dibandingkan periode yang sama tahun lalu, posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia itu tumbuh 1,7%.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Ramdan Denny Prakoso menjelaskan ULN tersebut dipengaruhi oleh penarikan pinjaman luar negeri untuk mendukung pelaksanaan program dan proyek pemerintah serta aliran masuk modal asing pada Surat Berharga Negara (SBN) internasional.

"Seiring dengan tetap terjaganya kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global," jelas Denny dalam keterangannya, Rabu (18/2/2026).

Dia menjelaskan ULN terbagi ke utang pemerintah dan swasta. Perinciannya, ULN pemerintah tercatat sebesar US$216,3 miliar atau naik 5,6% secara tahunan (year on year/YoY).

Denny menyebut ULN pemerintah diarahkan untuk mendukung pembiayaan program-program prioritas, yang disebut untuk keberlanjutan dan penguatan perekonomian nasional.

Berdasarkan sektornya, ULN pemerintah dimanfaatkan untuk Sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial (22% dari total ULN pemerintah); Administrasi Pemerintah, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib (20,3%); Jasa Pendidikan (16,2%); Konstruksi (11,6%); hingga Transportasi dan Pergudangan (8,5%).

Baca Juga

  • Sukses Terbitkan Patriot Bond, Kini Danantara Emisi Utang Tenor Menengah Rp7 Triliun
  • Tekanan Berlapis ke APBN Awal Tahun, Bunga Utang hingga Gejolak Harga Minyak
  • Airlangga Lapor ke Prabowo, Rasio Utang RI Masih Rendah

"Posisi ULN pemerintah tersebut didominasi utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 99,98% dari total ULN pemerintah," paparnya.

ULN Swasta Susut

Sebaliknya, ULN swasta menurun dari US$194 miliar pada Desember 2025 menjadi sebesar US$193 miliar pada Januari 2026. Secara bulanan, terjadi penurunan 0,2%; sementara secara tahunan, terjadi penurunan lebih tajam sebesar 0,7%.

Denny menjelaskan perkembangan tersebut dipengaruhi oleh penurunan ULN perusahaan bukan lembaga keuangan (nonfinancial corporations).

Berdasarkan sektor ekonomi, pangsa ULN swasta terbesar berasal dari Sektor Industri Pengolahan; Jasa Keuangan dan Asuransi; Pengadaan Listrik dan Gas; serta Pertambangan dan Penggalian, dengan pangsa mencapai 80,1% terhadap total ULN swasta.

"ULN swasta tetap didominasi oleh utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 76,2% terhadap total ULN swasta," kata Denny.

Sejalan dengan itu, rasio ULN Indonesia terhadap produk domestik bruto (PDB) menjadi 29,6% pada Januari 2026, turun sedikit dibandingkan posisi Desember 2025 sebesar 29,9%. Angka tersebut didominasi ULN jangka panjang sebesar 85,6% terhadap total ULN.

"Dalam rangka menjaga agar struktur ULN tetap sehat, Bank Indonesia dan Pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan perkembangan ULN. Peran ULN juga akan terus dioptimalkan untuk menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan," tutup Denny.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pemerintah Percepat Proyek Gas Abadi Masela Senilai Rp339 Triliun, Targetkan Segera Masuk Tahap Investasi Akhir
• 8 jam lalupantau.com
thumb
Mudik Lebaran, KAI Operasikan 19 Kereta Api Tambahan dari Jakarta
• 20 jam laluokezone.com
thumb
Mikroplastik Ditemukan hingga 2,4 Km di Bawah Laut RI, Ini Bahayanya
• 23 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
KPK Sebut “Ijon” Proyek di Rejang Lebong Berpotensi Turunkan Kualitas Infrastruktur
• 4 jam lalukompas.com
thumb
Polda Metro Ungkap Penjualan Ribuan Obat Keras Berkedok Toko Pulsa-Sembako
• 16 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.