Kisah Buku Acak Soul Reflection, dari Best Seller Nasional hingga Frankfurt

katadata.co.id
3 jam lalu
Cover Berita

Pernahkah Anda membaca sebuah buku yang seolah 'berbicara langsung' untuk mengurai benang kusut masalah hidup yang tengah dihadapi? Inilah yang dirasakan komunitas pembaca setia buku Soul Reflection, mereka merasakan manfaat dialog batin saat membaca buku yang kini berusia 11 tahun.

Para pembaca setia buku Soul Reflection merayakan kehadiran buku yang memasuki cetakan ke-11 dengan sebuah diskusi yang hangat di Taman Literasi Martha Christina Tiahahu. Hadir Redemptus Suhartono - mantan General Manager penerbit Bhuana Ilmu Populer (BIP), anak usaha Gramedia Pustaka Utama - yang membidani lahirnya buku Soul Reflection, dalam acara itu.

Suhartono menceritakan proses penerbitan Soul Reflection, meraih kategori best seller, hingga hadir dalam Frankfurt Book Fair. Suhartono mengenang kembali memori saat pertama kali bertemu Arsaningsih, penulis buku Soul Reflection. Arsaningsih yang popular dipanggil Bunda Arsaningsih, merupakan guru meditasi sejak 25 tahun terakhir. Bunda Arsaningsih menemukan metode unik bernama SOUL METER (Measurement Technique of Radiation), sebuah metode dan teknik pengukuran radiasi energi yang dapat diterapkan oleh masyarakat luas

Bunda Arsaningsih mendatangi Suhartono mengajukan draft buku pada pertengahan Oktober 2014. "Saya seorang ibu biasa. Saya menuliskan renungan saya setiap pagi," kenang Suhartono menirukan ucapan Arsaningsih, Sabtu (14/3).

Sebagai orang yang bekerja puluhan tahun di perusahaan penerbit buku, Suhartono tertegun. Biasanya, draft buku yang dia terima penuh dengan referensi, kutipan tokoh, atau teori-teori pendukung. Namun, draft naskah kali ini berbeda, tak ada sama sekali referensi, teori dan kutipan tokoh. Bahkan susunannya pun unik, tak diatur dalam bab-bab yang mengikat. "Buku yang tak biasa, ini luar biasa, dan menggetarkan hati saya ketika itu," kata Suhartono.

Buku Soul Reflection karangan Bunda Arsaningsih. (Dokumen Istimewa)
Tantangan Menerbitkan "Buku Acak"

Dunia penerbitan punya aturan baku: buku harus punya struktur, bab yang runtut, dan genre yang jelas agar tahu di rak mana akan dipajang. Namun, buku Soul Reflection berbeda dan tak mengikuti pakem itu.

Suhartono sempat bingung menentukan kategorinya: Apakah ini psikologi? Manajemen? Atau agama? Identitas buku itu penting yang akan menentukan lokasi display buku di toko. "Itu yang menjadi gejolak saat itu," kata dia.

Suhartono sempat mencoba menyusunnya secara sistematis berdasarkan tema, namun rasanya justru kehilangan 'jiwa'-nya."Buku ini tidak bisa disusun seperti itu. Ternyata bukunya memang 'acak'," kata dia.

Ketegangan muncul saat ia harus meyakinkan tim internal. Di tengah tekanan target akhir tahun, Suhartono sendiri sempat didera rasa takut akan kegagalan menerbitkan buku itu. "Saya kan harus bertanggungjawab atas investasi perusahaan, dan juga kepada penulisnya," kata dia.

Hingga suatu hari, dalam keadaan tenang ia membuka draft buku Soul Reflection secara acak dan menemukan halaman yang berisi tentang mengatasi kegagalan dan ketakutan. Tulisan di buku itu 'menunjukkan' gejolak dalam dirinya. "Di tulisan itu, Bunda Arsaningsih membahas kegagalan dengan sederhana sehingga saya mengerti apa yang harus saya lakukan untuk mencapai kesuksesan," kata Suhartono.

Sejak saat itu, Suhartono membayangkan buku itu sebagai calon best seller. Lalu dia sendiri yang menyelesaikan proses editing buku hingga terbit pada Februari 2015.

Dia juga mengajak tim yang terlibat dalam proses penerbitan hingga pemasaran buku. "Mereka juga mendapatkan pesan yang relevan dari apa yang mereka baca," kata Suhartono.

Dari Best Seller Nasional hingga Panggung Internasional

Keyakinan Suhartono mencetak buku best seller terbukti. Dalam waktu kurang dari tiga bulan setelah terbit cetakan pertama, buku Self Reflection memenuhi target kategori best seller. Kategori buku best seller diberikan pada buku yang terjual 3.000 eksemplar saat cetakan pertama.

Kemudian, pada Juni 2015, buku ini memasuki cetakan kedua. "Ketika sudah bestseller, buku pun boleh menempati display rak toko bagian depan," kata dia.

Suhartono punya kiat pemasaran khusus dalam mengenalkan buku Soul Reflection kepada publik. Dia melibatkan komunitas dan diskusi-diskusi kecil membedah buku itu. "Saya mengenalkan kekuatan buku itu, meminta peserta membaca acak dan merefleksikan dari membaca tulisan di buku itu," kata dia.

Strategi Suhartono berhasil, setiap pembaca yang tersentuh biasanya membeli beberapa buku untuk keluarga dan kerabatnya. "Terutama kalangan ibu-ibu yang merasa tersentuh," kata dia.

Beberapa bulan setelah buku Self Reflection meraih predikat best seller, Gramedia mendapat surat dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kementerian meminta daftar buku karya orang Indonesia untuk diboyong dalam pameran buku Frankfurt Book Fair. Ketika itu Indonesia menjadi tamu kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015 yang merupakan pameran buku terbesar di dunia.

Suhartono lalu memasukan Soul Reflection untuk diterjemahkan dan diikutsertakan dalam pameran di Jerman."Terbang ke Frankfurt saat bukunya baru usia setahun. Buku ini sudah boleh masuk kategori buku internasional karena sudah ikut pameran buku internasional," kata dia.

Peserta diskusi baca buku Soul Reflection di Taman Literasi Martha Christina Tiahahu, Blok M, Jakarta, Sabtu (14/3/2026). (Dokumen Istimewa. )
Keajaiban Buku Soul Reflection: "Kok Pas?"

Usai penjelasan Suhartono, Komunitas Soul Jabodetabek mengajak peserta untuk mempraktekan membaca Soul Reflection. Awalnya, para peserta diajak menenangkan batin, menyelaraskan hati dan pikiran, lalu membuka halaman buku secara acak.

Anita yang belum pernah membaca Soul Reflection, membuka halaman "Berlatih Ikhlas dalam Bekerja". Ia terkejut karena pesan tersebut sangat relevan dengan kegalauan pekerjaan yang tengah ia alami. "Kok pas ya?" kata dia yang disambut tawa hangat peserta lain.

Anita menceritakan halaman buku itu menggambarkan perasaan dia yang baru-baru ini galau di tempat pekerjaannya. "Saya merasa sudah kerja keras, capek, tapi kok merasa gak dihargai," kata dia.

Tulisan di buku Soul Reflection memberikan petunjuk kepadanya, bahwa memang kita perlu bekerja untuk mendapatkan penghasilan. Selain itu, bekerja sekaligus sebagai bagian dari proses pendewasaan diri. "Kerja adalah proses pembelajaran spiritual untuk membuat kita lebih dalam memahami makna hidup dan dapat mencapai tujuan hidup yaitu menyatu dengan Tuhan. Pahami, jalani dan lakukan segala kerja dengan keikhlasan," kata Anita membacakan bagian tulisan Soul Reflection.

Peserta lainnya, Odwyn Aba Widjaja (60) membuka bagian tulisan berjudul "Pengendalian Diri". Dia mengatakan bagian itu membuat hatinya tergetar. "Pas dibuka, pesannya sesuai dengan kebutuhan. Lewat buku ini bisa membuat saya memperbaiki diri, dan terus belajar," kata dia. 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Aurs Mudik di GT Brexit Terpantau Masih Landai
• 14 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Mendikdasmen Ubah Kebijakan Tugas Siswa: Tak Lagi LKS, Kini Wajib Membaca Buku
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
BNI Tetap Buka Saat Libur Lebaran 2026, Sejumlah Kantor Cabang Siap Layani Nasabah
• 3 jam laluterkini.id
thumb
IHSG Anjlok ke Bawah 7.000 Jelang Cuti Bersama Lebaran 2026, Investor Dihantui Perang Timur Tengah
• 2 jam lalutvonenews.com
thumb
Cara Hitung Pajak THR, Bagi Pekerja Swasta yang Kena Potong
• 15 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.