JAKARTA, KOMPAS.com — Menjelang musim mudik Lebaran, stasiun kereta api kembali dipadati penumpang yang membawa berbagai barang bawaan untuk perjalanan pulang kampung.
Koper besar, tas belanja, hingga kardus oleh-oleh tampak berjejer di ruang keberangkatan. Di tengah fasilitas stasiun yang semakin modern—mulai dari troli, eskalator, hingga lift—keberadaan porter ternyata masih menjadi bagian penting dalam mobilitas penumpang.
Pengamat transportasi Deddy Herlambang menilai jasa porter di stasiun kereta masih dibutuhkan, terutama bagi kelompok penumpang tertentu.
Menurut dia, peran porter tidak sekadar membantu membawa barang, tetapi juga memiliki fungsi sosial dalam sistem transportasi.
Baca juga: Cerita Porter Stasiun di Mudik Lebaran, Bisa Kantongi Rp 500.000 Sehari
“Jasa porter tetap diperlukan untuk kelompok yang membutuhkan seperti perempuan, lansia, atau penumpang yang membawa banyak barang,” kata Deddy saat dihubungi Kompas.com, Jumat (13/3/2026).
Ia menjelaskan, fungsi porter sebenarnya tidak hanya berkaitan dengan aktivitas transportasi semata. Menurut dia, keberadaan porter itu lebih kepada fungsi sosial, bukan fungsi transportasi.
"Mereka membantu orang yang membutuhkan sekaligus membuka peluang kerja bagi masyarakat di sekitar stasiun,” ujar dia.
Deddy menilai, keberadaan porter di stasiun kereta saat ini juga sudah semakin profesional dibandingkan sebelumnya.
Menurut dia, seluruh porter idealnya tercatat secara resmi dalam sistem pengelolaan sumber daya manusia di operator transportasi.
Dengan sistem tersebut, keberadaan porter dapat diawasi sekaligus memberikan kepastian pelayanan kepada penumpang.
“Untuk tata kelola yang baik, semua operator transportasi seharusnya menyediakan saluran pengaduan jika ada masalah terkait porter,” kata dia.
Baca juga: Mudik Lebaran, Porter di Stasiun Pasar Senen dan Gambir Jadi Andalan Penumpang
Aktivitas porter di tengah ramainya stasiunSuasana ruang keberangkatan kereta jarak jauh di Stasiun Pasar Senen pada Kamis (12/3/2026) terlihat ramai.
Antrean penumpang mengular menuju pintu pemeriksaan tiket. Sebagian pemudik membawa koper beroda, sementara lainnya datang dengan kardus besar yang diikat tali plastik.
Di tengah keramaian tersebut, Slamet (38), porter dengan rompi nomor 182, terlihat memanggul kardus berisi air mineral di bahunya sambil menarik koper milik seorang penumpang.
Ia sudah bekerja sebagai porter di Stasiun Pasar Senen selama hampir lima tahun. Menurut Slamet, para porter bekerja dengan sistem jadwal bergilir yang diatur oleh koordinator porter.
“Biasanya ada jadwal giliran. Kami kerja sesuai pembagian dari koordinator,” kata Slamet.
Dengan sistem tersebut, porter tetap tersedia di stasiun sepanjang hari untuk membantu penumpang yang membutuhkan. Jumlah porter di Stasiun Pasar Senen cukup banyak sehingga mereka bekerja secara bergantian.
Saat arus penumpang meningkat, seperti menjelang Lebaran, para porter harus bergerak lebih cepat untuk melayani pelanggan. Ia mengatakan barang yang dibawa penumpang terkadang cukup berat.
Meski demikian, ia mengaku suasana mudik selalu memberikan pengalaman berbeda bagi para porter.
“ Orang-orang kelihatan senang mau pulang kampung,” ujarnya.
Baca juga: Cerita Para Porter di Stasiun, Lelah Hilang dengan Membantu Penumpang
Cara pemesanan mulai berubahPerubahan juga terjadi pada cara penumpang menggunakan jasa porter. Rohman (41), porter dengan rompi nomor 034 di Stasiun Pasar Senen, mengatakan sebagian penumpang kini memesan layanan porter melalui aplikasi.
Melalui aplikasi tersebut, tarif jasa porter telah ditentukan secara transparan. Menurut dia, tarif layanan porter sekitar Rp 38.000 untuk satu kali bantuan membawa barang dari area stasiun menuju peron atau sebaliknya.





