Sunyi yang Berbicara: Pelajaran dari Dunia Tunarungu

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita
Ketika Dunia Terlalu Bising untuk Mendengar

Di tengah dunia yang semakin bising oleh suara notifikasi, debat tanpa henti di media sosial, dan percakapan yang sering kali sekadar formalitas, kita jarang menyadari satu ironi: semakin banyak suara, semakin sedikit orang yang benar-benar mendengar.

Kita berbicara cepat, berkomentar spontan, dan bereaksi tanpa jeda. Namun di balik hiruk-pikuk tersebut, ada satu dunia yang justru mengajarkan makna mendengar secara lebih dalam—dunia tunarungu.

Bagi sebagian orang, menjadi tunarungu sering dipandang sebagai keterbatasan. Dunia modern yang dibangun di atas komunikasi verbal seolah menempatkan pendengaran sebagai syarat utama untuk berpartisipasi penuh dalam kehidupan sosial.

Namun, sudut pandang seperti ini sebenarnya terlalu sempit. Dunia tunarungu bukan hanya tentang kehilangan kemampuan mendengar, melainkan juga tentang cara berbeda dalam memahami komunikasi, empati, dan hubungan antarmanusia.

Ironisnya, di saat masyarakat luas sering kesulitan benar-benar mendengarkan satu sama lain, komunitas tunarungu justru menunjukkan bahwa komunikasi yang bermakna tidak selalu bergantung pada suara.

Ekspresi wajah, bahasa tubuh, perhatian penuh, dan kesadaran akan keberadaan orang lain menjadi fondasi komunikasi mereka. Dari sanalah muncul pelajaran penting: mendengar bukan sekadar fungsi telinga, melainkan juga sikap batin untuk memberi ruang bagi orang lain.

Artikel ini berangkat dari satu pandangan sederhana, tetapi penting: dunia tunarungu tidak hanya membutuhkan pemahaman dari masyarakat, tetapi juga menawarkan pelajaran berharga bagi kita semua. Dalam sunyi yang mereka jalani, terdapat cara pandang baru tentang komunikasi, empati, kesabaran, dan penghargaan terhadap keberagaman manusia.

Realitas Tunarungu: Angka yang Sering Terabaikan

Isu mengenai tunarungu sering kali luput dari perhatian publik. Padahal jumlah penyandang gangguan pendengaran di dunia tidaklah kecil. Menurut laporan World Health Organization (WHO), lebih dari 430 juta orang di dunia mengalami gangguan pendengaran yang memerlukan rehabilitasi dan angka ini diperkirakan akan meningkat hingga 700 juta orang pada tahun 2050.

Di Indonesia sendiri, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa penyandang disabilitas pendengaran merupakan bagian signifikan dari populasi penyandang disabilitas nasional. Meski angka pastinya bervariasi menurut metode survei, jutaan orang Indonesia hidup dengan kondisi yang membuat mereka harus beradaptasi dengan dunia yang mayoritas dirancang untuk orang yang dapat mendengar.

Sayangnya, angka besar tersebut tidak selalu diikuti dengan pemahaman sosial yang memadai. Banyak orang masih memandang tunarungu semata-mata sebagai keterbatasan medis, bukan sebagai bagian dari keberagaman manusia.

Akibatnya, berbagai hambatan sosial masih sering muncul: akses pendidikan yang terbatas, kurangnya penerjemah bahasa isyarat, dan stigma yang membuat penyandang tunarungu kerap dianggap tidak mampu berkomunikasi secara efektif.

Padahal kenyataannya tidak demikian. Banyak individu tunarungu yang berhasil menunjukkan kemampuan luar biasa dalam berbagai bidang—mulai dari seni, teknologi, hingga pendidikan. Hal ini menunjukkan bahwa hambatan terbesar bukanlah kondisi fisik mereka, melainkan struktur sosial yang belum sepenuhnya inklusif.

Bahasa Isyarat: Bukti bahwa Komunikasi Tidak Selalu Bersandar pada Suara

Salah satu aspek paling menarik dari dunia tunarungu adalah penggunaan bahasa isyarat. Di Indonesia, dikenal Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) dan Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI) yang menjadi alat komunikasi penting bagi komunitas tunarungu.

Bagi orang yang belum pernah mempelajarinya, bahasa isyarat mungkin terlihat seperti gerakan tangan semata. Namun sebenarnya, bahasa ini memiliki struktur tata bahasa, ekspresi wajah, dan aturan komunikasi yang kompleks. Setiap gerakan memiliki makna tertentu dan ekspresi wajah sering kali berfungsi seperti intonasi dalam bahasa lisan.

Dalam bahasa isyarat, komunikasi tidak hanya terjadi melalui tangan, tetapi juga melalui mata, wajah, dan bahkan posisi tubuh. Artinya, komunikasi menjadi proses yang lebih utuh—melibatkan perhatian penuh terhadap lawan bicara.

Hal ini memberikan pelajaran penting bagi masyarakat luas. Banyak percakapan sehari-hari sebenarnya berlangsung tanpa perhatian penuh. Kita berbicara sambil menatap layar ponsel, mendengar tanpa benar-benar memahami, atau menunggu giliran berbicara tanpa benar-benar menyimak.

Sebaliknya, dalam komunitas tunarungu, komunikasi menuntut keterlibatan yang lebih mendalam. Kontak mata menjadi sangat penting. Gestur tubuh memiliki makna. Bahkan, jeda dalam percakapan bisa menjadi ruang refleksi. Dengan kata lain, dunia tunarungu mengingatkan kita bahwa komunikasi sejati bukanlah soal siapa yang paling banyak berbicara, melainkan siapa yang paling bersedia memahami.

Sunyi yang Mengajarkan Empati

Ada satu hal lain yang jarang disadari oleh masyarakat luas: kehidupan tanpa suara sering kali melatih kepekaan yang lebih tinggi terhadap lingkungan sekitar. Banyak penyandang tunarungu menjadi sangat peka terhadap ekspresi wajah, perubahan suasana hati, dan bahasa tubuh orang lain.

Kepekaan ini lahir dari kebutuhan untuk memahami dunia melalui cara selain suara. Ketika telinga tidak dapat menjadi sumber informasi utama, mata dan perasaan mengambil peran yang lebih besar. Hal ini menciptakan bentuk empati yang berbeda. Bukan empati yang muncul dari kata-kata, melainkan dari perhatian yang tulus terhadap ekspresi manusia.

Di sinilah pelajaran penting bagi masyarakat yang terbiasa hidup dalam kebisingan komunikasi modern. Kita sering menganggap empati sebagai sesuatu yang diucapkan, padahal empati sejati justru sering muncul dari keheningan—dari kemampuan untuk memperhatikan tanpa menghakimi.

Sunyi, dalam konteks ini, bukanlah kekosongan. Ia adalah ruang yang memungkinkan manusia benar-benar melihat satu sama lain.

Pendidikan yang Masih Belajar untuk Inklusif

Jika komunikasi adalah jembatan utama dalam kehidupan sosial, pendidikan seharusnya menjadi tempat pertama di mana jembatan itu dibangun dengan kokoh. Namun bagi banyak penyandang tunarungu, pengalaman pendidikan justru sering menjadi gambaran awal tentang bagaimana masyarakat belum sepenuhnya siap menerima keberagaman dari cara berkomunikasi.

Di banyak sekolah, sistem pembelajaran masih didominasi oleh metode verbal: guru menjelaskan, murid mendengar, lalu mencatat. Model seperti ini mungkin efektif bagi sebagian besar siswa, tetapi bagi siswa tunarungu, pendekatan tersebut sering kali menjadi penghalang besar.

Tanpa dukungan bahasa isyarat, teks visual yang memadai, atau metode pengajaran yang adaptif, proses belajar dapat menjadi jauh lebih sulit daripada seharusnya.

Padahal, pendidikan inklusif bukan sekadar menempatkan siswa tunarungu di ruang kelas yang sama dengan siswa lain. Inklusi yang sejati berarti memastikan bahwa setiap siswa memiliki akses yang setara terhadap informasi, interaksi, dan kesempatan untuk berkembang.

Dalam beberapa tahun terakhir, kesadaran mengenai pendidikan inklusif memang mulai meningkat. Kebijakan yang mendorong sekolah ramah disabilitas semakin banyak dibicarakan, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Namun implementasinya masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan tenaga pendidik yang memahami bahasa isyarat hingga kurangnya fasilitas pendukung dalam proses belajar.

Di sinilah pentingnya melihat pendidikan bukan hanya sebagai proses transfer pengetahuan, melainkan juga sebagai ruang pembelajaran sosial. Ketika sekolah benar-benar inklusif, semua siswa—baik yang dapat mendengar maupun yang tidak—belajar untuk memahami perbedaan dan menghargai cara komunikasi yang beragam.

Hambatan yang Tidak Selalu Terlihat

Tantangan yang dihadapi oleh penyandang tunarungu sering kali tidak selalu terlihat oleh masyarakat umum. Berbeda dengan hambatan fisik seperti tangga tanpa ramp atau gedung tanpa lift, hambatan komunikasi lebih bersifat sosial dan sering tersembunyi dalam kebiasaan sehari-hari.

Bayangkan sebuah situasi sederhana: rapat di kantor, pengumuman di stasiun, atau diskusi spontan di ruang kelas. Semua kegiatan tersebut biasanya berlangsung dengan cepat dan bergantung pada percakapan lisan. Tanpa penerjemah bahasa isyarat atau sistem informasi visual yang memadai, penyandang tunarungu dapat dengan mudah tertinggal dari alur komunikasi.

Situasi ini tidak jarang membuat mereka merasa terisolasi, meskipun secara fisik berada di tengah keramaian. Mereka hadir, tetapi tidak sepenuhnya terlibat. Inilah yang sering disebut sebagai “kesunyian sosial”—bukan karena tidak ada suara, melainkan karena akses terhadap komunikasi tidak tersedia.

Fenomena ini sebenarnya bukan hanya masalah individu, melainkan juga refleksi dari bagaimana masyarakat merancang sistem komunikasi. Ketika komunikasi publik hanya bergantung pada suara, secara tidak langsung kita sedang membatasi partisipasi sebagian anggota masyarakat. Sebaliknya, ketika komunikasi dilengkapi dengan teks, visual, atau bahasa isyarat, ruang partisipasi menjadi jauh lebih luas.

Teknologi dan Harapan Baru

Di tengah berbagai tantangan tersebut, perkembangan teknologi membuka peluang baru bagi komunitas tunarungu. Berbagai aplikasi transkripsi otomatis, layanan penerjemah bahasa isyarat, hingga teknologi video call telah membantu memperluas akses komunikasi.

Misalnya, fitur closed caption atau teks otomatis pada video kini semakin umum digunakan di berbagai digital platform. Fitur ini tidak hanya membantu penyandang tunarungu memahami isi video, tetapi juga memudahkan banyak orang lain—termasuk mereka yang menonton di lingkungan bising atau dalam situasi yang tidak memungkinkan penggunaan suara.

Hal ini menunjukkan satu hal menarik: teknologi yang dirancang untuk membantu kelompok tertentu sering kali justru bermanfaat bagi semua orang. Fenomena ini dikenal sebagai desain universal, yaitu pendekatan yang merancang produk atau sistem agar dapat diakses oleh sebanyak mungkin orang tanpa perlu modifikasi khusus.

Dalam konteks ini, dunia tunarungu sebenarnya telah lama menjadi sumber inspirasi bagi inovasi komunikasi. Banyak teknologi yang kita gunakan hari ini—mulai dari pesan teks hingga panggilan video—secara tidak langsung juga memperluas ruang komunikasi bagi komunitas tunarungu.

Namun, teknologi saja tidak cukup. Tanpa perubahan sikap sosial, teknologi hanya akan menjadi alat tanpa makna. Yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat mulai melihat aksesibilitas sebagai kebutuhan bersama, bukan sekadar fasilitas tambahan.

Mengubah Cara Kita Memahami Komunikasi

Salah satu pelajaran paling mendalam dari dunia tunarungu adalah bahwa komunikasi tidak selalu harus berlangsung cepat. Dalam masyarakat modern, kecepatan sering dianggap sebagai ukuran efektivitas. Kita mengirim pesan singkat, berbicara cepat, dan berharap segala sesuatu dapat dipahami seketika. Namun, komunikasi yang terlalu cepat sering kali justru kehilangan kedalaman.

Dalam percakapan menggunakan bahasa isyarat, proses komunikasi sering kali berlangsung dengan ritme yang berbeda. Ada jeda untuk memastikan makna dipahami.

Ada perhatian penuh pada ekspresi wajah dan gestur tubuh. Percakapan menjadi lebih sadar, lebih terfokus. Ritme komunikasi seperti ini sebenarnya menawarkan pelajaran penting bagi dunia yang serba tergesa-gesa. Ia mengingatkan bahwa memahami orang lain membutuhkan waktu, perhatian, dan kesediaan untuk benar-benar hadir dalam percakapan.

Dalam banyak situasi sosial, konflik sering muncul bukan karena perbedaan pendapat, melainkan karena kegagalan untuk benar-benar mendengarkan. Kita terlalu cepat menanggapi, terlalu sibuk mempertahankan argumen, dan terlalu jarang memberi ruang bagi perspektif orang lain. Dunia tunarungu menunjukkan bahwa komunikasi dapat menjadi lebih manusiawi ketika kita memperlambatnya.

Kisah Nyata tentang Ketangguhan

Di berbagai belahan dunia, banyak individu tunarungu yang berhasil menunjukkan bahwa keterbatasan pendengaran tidak menghalangi potensi manusia. Ada seniman yang mengekspresikan dunia melalui karya visual yang kuat, atlet yang meraih prestasi di panggung internasional, hingga akademisi yang berkontribusi dalam penelitian dan pendidikan. Kisah-kisah ini menjadi pengingat bahwa kemampuan manusia tidak ditentukan oleh satu fungsi indera semata.

Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, ketangguhan komunitas tunarungu sering terlihat dalam cara mereka membangun solidaritas sosial. Banyak komunitas tunarungu memiliki jaringan yang kuat, saling membantu dalam berbagi informasi, peluang kerja, dan dukungan emosional.

Solidaritas ini lahir dari pengalaman bersama menghadapi hambatan komunikasi dalam masyarakat yang lebih luas. Namun, dari situ juga muncul kekuatan kolektif yang memungkinkan mereka tetap berkembang dan berkontribusi.

Bagi masyarakat umum, kisah-kisah ini seharusnya menjadi cermin. Alih-alih melihat tunarungu sebagai kelompok yang harus “dikoreksi”, kita justru dapat belajar dari cara mereka membangun komunikasi, komunitas, dan ketahanan sosial.

Pelajaran yang Sering Terlewat

Jika kita melihat lebih dalam, dunia tunarungu sebenarnya menawarkan beberapa pelajaran penting bagi kehidupan sosial yang lebih luas. Pertama, komunikasi tidak selalu bergantung pada suara. Kejelasan makna sering kali justru muncul dari perhatian terhadap gestur, ekspresi, dan konteks.

Kedua, empati tumbuh dari kesediaan untuk benar-benar memperhatikan orang lain. Ketika komunikasi menuntut kontak mata dan perhatian penuh, hubungan antarmanusia pun menjadi lebih tulus.

Ketiga, keberagaman cara berkomunikasi seharusnya tidak dianggap sebagai hambatan, tetapi sebagai kekayaan sosial. Semakin banyak cara manusia dapat saling memahami, semakin kuat pula jaringan sosial yang terbentuk.

Dalam masyarakat yang semakin kompleks, kemampuan untuk memahami berbagai bentuk komunikasi justru menjadi keterampilan penting. Dari sinilah kita mulai melihat bahwa dunia tunarungu bukan sekadar tentang keterbatasan pendengaran, melainkan juga tentang cara berbeda dalam memahami hubungan manusia.

Masyarakat yang Masih Belajar Mendengar

Salah satu tantangan terbesar dalam isu disabilitas bukanlah kondisi fisik atau sensorik yang dimiliki seseorang, melainkan cara masyarakat memandangnya. Dalam banyak kasus, hambatan terbesar justru muncul dari stigma, asumsi, dan kurangnya pemahaman.

Penyandang tunarungu sering kali dipersepsikan sebagai individu yang tidak mampu berkomunikasi dengan baik, padahal yang sebenarnya terjadi adalah masyarakat belum cukup memahami cara komunikasi mereka. Ketika dua pihak memiliki cara berkomunikasi yang berbeda tapi tidak saling berusaha memahami, jarak sosial pun terbentuk.

Di sinilah pentingnya mengubah perspektif. Disabilitas bukan semata-mata berada pada individu, melainkan juga pada lingkungan sosial yang tidak menyediakan akses yang memadai. Jika ruang publik, sistem pendidikan, dan layanan sosial dirancang dengan mempertimbangkan keberagaman manusia, banyak hambatan sebenarnya dapat diatasi.

Konsep ini sering disebut sebagai model sosial disabilitas, yaitu pendekatan yang melihat bahwa keterbatasan seseorang sering kali diperparah oleh struktur sosial yang tidak inklusif. Dengan kata lain, masalahnya bukan semata-mata pada individu yang memiliki keterbatasan, melainkan juga pada sistem yang belum cukup ramah terhadap keberagaman kemampuan manusia.

Pandangan seperti ini semakin banyak diakui dalam kebijakan global mengenai hak penyandang disabilitas. Prinsip bahwa setiap orang berhak atas akses yang setara terhadap pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan sosial menjadi dasar berbagai upaya pembangunan inklusif di berbagai negara. Namun di tingkat praktik sehari-hari, perubahan perspektif ini masih memerlukan waktu dan kesadaran kolektif.

Inklusi Bukan Sekadar Simbol

Dalam beberapa tahun terakhir, istilah “inklusif” semakin sering muncul dalam diskusi publik. Banyak lembaga pendidikan, institusi pemerintah, hingga perusahaan swasta mulai menggunakan istilah tersebut untuk menunjukkan komitmen terhadap keberagaman.

Namun, inklusi sejati tidak berhenti pada slogan atau kebijakan tertulis. Ia harus tecermin dalam tindakan nyata. Misalnya, acara publik yang menyediakan penerjemah bahasa isyarat, video informasi yang dilengkapi teks, atau layanan pelanggan yang memahami kebutuhan komunikasi yang berbeda. Hal-hal seperti ini mungkin terlihat sederhana, tetapi memiliki dampak besar bagi penyandang tunarungu.

Ketika akses komunikasi tersedia, partisipasi sosial pun menjadi lebih luas. Penyandang tunarungu tidak lagi berada di pinggir percakapan, tetapi menjadi bagian aktif dalam berbagai ruang sosial. Lebih dari itu, praktik inklusi juga mengirimkan pesan penting kepada masyarakat luas: bahwa keberagaman manusia adalah sesuatu yang harus dihargai, bukan disembunyikan.

Belajar Mendengar Tanpa Suara

Ada satu paradoks menarik dalam kehidupan modern. Di satu sisi, teknologi komunikasi berkembang dengan sangat cepat. Informasi dapat dikirim dalam hitungan detik, percakapan dapat berlangsung lintas benua, dan berbagai digital platform memungkinkan orang untuk saling terhubung tanpa batas geografis.

Namun di sisi lain, banyak orang justru merasa semakin sulit untuk benar-benar didengar. Percakapan sering berubah menjadi ajang perdebatan. Media sosial dipenuhi komentar yang saling menyerang. Banyak orang berbicara, tetapi sedikit yang benar-benar mendengarkan.

Dalam konteks inilah dunia tunarungu menawarkan pelajaran yang sangat relevan. Mereka menunjukkan bahwa komunikasi yang bermakna tidak selalu bergantung pada kecepatan atau volume suara, tetapi pada perhatian dan kesadaran dalam berinteraksi.

Dalam bahasa isyarat, setiap percakapan membutuhkan fokus. Kontak mata menjadi dasar komunikasi. Tanpa perhatian penuh, pesan tidak akan tersampaikan dengan baik. Prinsip sederhana ini sebenarnya sangat berharga bagi masyarakat luas. Ketika kita belajar untuk memberi perhatian penuh dalam percakapan—baik melalui kata-kata, ekspresi wajah, maupun bahasa tubuh—hubungan sosial pun menjadi lebih sehat.

Dengan kata lain, dunia tunarungu mengingatkan kita bahwa mendengar adalah tindakan sosial, bukan sekadar kemampuan biologis.

Sunyi sebagai Ruang Refleksi

Bagi banyak orang, kesunyian sering dianggap sebagai sesuatu yang menakutkan. Dalam kehidupan modern, kita terbiasa mengisi setiap ruang dengan suara—musik, notifikasi, percakapan, atau berbagai bentuk distraksi lainnya. Namun, kesunyian juga memiliki sisi yang berbeda. Ia dapat menjadi ruang refleksi, ruang di mana manusia memiliki kesempatan untuk memahami dirinya sendiri dan orang lain dengan lebih jernih.

Dalam dunia tunarungu, kesunyian bukanlah kekosongan yang harus dihindari. Ia adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Dari situlah muncul kemampuan untuk memperhatikan detail yang sering terlewat oleh orang lain: ekspresi kecil di wajah seseorang, perubahan suasana hati, atau bahasa tubuh yang mengungkapkan emosi yang tidak diucapkan.

Kepekaan seperti ini sebenarnya sangat penting dalam kehidupan sosial. Banyak konflik muncul karena manusia terlalu fokus pada kata-kata, tetapi mengabaikan perasaan yang tersembunyi di baliknya. Dengan memberi ruang bagi kesunyian, manusia dapat belajar untuk lebih peka terhadap keberadaan orang lain.

Tanggung Jawab Bersama

Membangun masyarakat yang lebih inklusif bukanlah tugas satu kelompok saja. Ia membutuhkan kerja sama dari berbagai pihak: pemerintah, lembaga pendidikan, media, komunitas, dan masyarakat umum.

Pemerintah memiliki peran dalam merancang kebijakan yang memastikan akses komunikasi bagi penyandang tunarungu, baik melalui layanan publik yang inklusif maupun sistem pendidikan yang ramah disabilitas. Lembaga pendidikan memiliki tanggung jawab untuk menanamkan nilai empati dan penghargaan terhadap keberagaman sejak dini.

Ketika anak-anak belajar bahwa setiap orang memiliki cara komunikasi yang berbeda, mereka tumbuh menjadi generasi yang lebih terbuka. Media massa juga memiliki peran penting dalam membentuk cara pandang masyarakat. Dengan menghadirkan cerita dan perspektif dari komunitas tunarungu, media dapat membantu mengurangi stigma sekaligus meningkatkan kesadaran publik mengenai pentingnya inklusi.

Namun di luar semua itu, perubahan terbesar sebenarnya dimulai dari tingkat individu. Kesediaan untuk belajar beberapa isyarat sederhana, kesabaran dalam berkomunikasi, dan sikap menghargai perbedaan adalah langkah kecil yang dapat membawa dampak besar.

Mendengar dengan Cara yang Baru

Pada akhirnya, dunia tunarungu mengajarkan satu hal sederhana, tetapi mendalam: komunikasi yang bermakna tidak selalu bergantung pada suara. Ia bergantung pada perhatian, empati, dan kesediaan untuk memahami orang lain.

Dalam masyarakat yang semakin ramai oleh suara dan informasi, pelajaran ini menjadi semakin penting. Kita mungkin memiliki kemampuan untuk mendengar, tetapi belum tentu memiliki kebiasaan untuk benar-benar mendengarkan.

Sunyi yang dialami oleh komunitas tunarungu bukanlah sekadar ketiadaan suara. Di dalamnya terdapat cara yang berbeda untuk memahami dunia, cara berbeda untuk membangun hubungan, dan cara berbeda untuk memaknai komunikasi manusia.

Karena itu, sudah saatnya kita berhenti melihat dunia tunarungu semata-mata dari perspektif keterbatasan. Sebaliknya, kita perlu melihatnya sebagai sumber pelajaran tentang bagaimana manusia dapat berkomunikasi dengan lebih sadar, lebih empatik, dan lebih manusiawi. Jika masyarakat mampu belajar dari pelajaran ini, kesunyian bukan lagi menjadi jarak yang memisahkan, melainkan jembatan yang mempertemukan.

Mungkin pada akhirnya, pelajaran terbesar dari dunia tunarungu adalah ini: untuk benar-benar mendengar, manusia tidak selalu membutuhkan suara—yang dibutuhkan adalah hati yang bersedia memahami.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Naik Motor Bawa 2 Anak, Pemudik di Pantura Brebes Tolak Bus Gratis Polisi
• 6 jam lalurctiplus.com
thumb
KAI Daop 2 Bandung layani 60.604 penumpang di H-7 Lebaran 2026
• 22 jam laluantaranews.com
thumb
BMKG Ungkap Penyebab Jakarta Terasa Lebih Panas Akhir-akhir Ini
• 11 jam lalukumparan.com
thumb
Kekecewaan Nikita Mirzani Usai Permohonan Kasasi Ditolak MA
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
AS Minta Warganya Tinggalkan Irak di Tengah Ancaman Milisi Pro-Iran
• 5 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.