Sebuah survei global terbaru mengungkap temuan yang cukup mengejutkan, sekitar sepertiga pria dari generasi Gen Z percaya bahwa suami adalah orang kunci dalam pengambilan keputusan dalam pernikahan.
Survei tersebut menunjukkan bahwa pandangan tradisional soal peran gender ternyata masih cukup kuat di kalangan sebagian pria muda. Bahkan, dalam beberapa aspek, pandangan ini lebih banyak dianut oleh pria Gen Z dibandingkan generasi yang jauh lebih tua seperti Baby Boomers.
Di dunia maya, perdebatan antar generasi, mulai dari Millennials, Gen Z, hingga Gen Alpha, sering kali menjadi topik hangat. Banyak yang berasumsi generasi muda cenderung menolak pandangan konservatif yang dianggap diwariskan oleh generasi sebelumnya.
Namun, riset dari Global Institute for Women’s Leadership di King’s Business School, bagian dari King’s College London, justru menunjukkan bahwa cukup banyak pria Gen Z, yakni mereka yang lahir antara 1997 hingga 2012 memiliki pandangan yang cukup tradisional mengenai isu gender.
Sebagai contoh, hanya 17 persen pria dari generasi Baby Boomers yang setuju bahwa suami harus memiliki keputusan terakhir dalam hal-hal besar dalam pernikahan. Sebaliknya, 31 persen pria Gen Z menyatakan bahwa istri seharusnya selalu mematuhi suami. Pandangan ini hanya didukung oleh 13 persen pria Baby Boomers.
Perempuan dari kedua generasi tersebut cenderung kurang setuju dengan gagasan tersebut. Hanya 18 persen perempuan Gen Z dan sekitar 6 persen perempuan Baby Boomers yang setuju bahwa istri harus selalu patuh pada suami.
Generasi Baby Boomers yang lahir antara 1946 hingga 1964 mengalami langsung berbagai perubahan sosial pasca Perang Dunia II, termasuk perjuangan hak-hak perempuan dan kesetaraan gender. Karena itu, tidak mengherankan jika banyak dari mereka kurang menerima gagasan tentang ketundukan penuh dalam pernikahan.
Perbedaan sikap juga terlihat dalam pandangan mengenai hubungan seksual. Sebanyak 21 persen pria Gen Z berpendapat bahwa perempuan sejati seharusnya tidak memulai hubungan seksual terlebih dahulu. Angka ini jauh lebih rendah pada pria Baby Boomers, yakni hanya 7 persen.
Pandangan mengenai peran dalam pengasuhan anak juga menunjukkan perbedaan. Sebanyak 21 persen pria Gen Z percaya bahwa terlibat aktif dalam mengasuh anak adalah sesuatu yang kurang maskulin. Sebagai perbandingan, hanya 8 persen pria Baby Boomers dan 14 persen perempuan Gen Z yang memiliki pandangan serupa.
Norma tradisional tentang maskulinitas juga masih terlihat di sejumlah aspek lain. Sebanyak 12 persen pria Baby Boomers setuju bahwa perempuan seharusnya tidak terlihat terlalu mandiri. Namun angka ini meningkat menjadi 24 persen di kalangan pria Gen Z.
Selain itu, sekitar 43 persen pria Gen Z mengaku merasakan tekanan untuk terlihat “kuat secara fisik”.
Direktur Global Institute for Women’s Leadership di King’s Business School, Heejung Chung, mengatakan temuan ini cukup mengkhawatirkan.
“Cukup mengkhawatirkan melihat norma gender tradisional masih bertahan hingga saat ini. Lebih mengkhawatirkan lagi, banyak orang merasa tertekan oleh ekspektasi sosial yang sebenarnya tidak selalu mencerminkan apa yang diyakini oleh sebagian besar masyarakat,” ujarnya dalam sebuah pernyataan.
Survei ini melibatkan responden dari 29 negara. Hasilnya menunjukkan perbedaan yang cukup besar antarnegara. Misalnya, untuk pernyataan “pria saat ini dituntut terlalu banyak untuk mendukung kesetaraan gender”, sebanyak 70 persen responden di Brasil dan India setuju. Sebaliknya, hanya 33 persen responden di Belanda dan 31 persen di Swedia yang memiliki pandangan serupa.
Di sisi lain, rata-rata responden secara umum mendukung kesetaraan gender. Banyak yang setuju bahwa tanggung jawab seperti pengasuhan anak seharusnya dibagi secara setara antara laki-laki dan perempuan.
Namun, para responden juga mengakui bahwa norma sosial di negara mereka belum tentu sepenuhnya mendukung pembagian peran yang setara tersebut. Secara global, sekitar 60 persen responden setuju bahwa dunia akan berjalan lebih baik jika lebih banyak perempuan memegang posisi penting di pemerintahan dan perusahaan.
Ketika ditanya apakah mereka mendefinisikan diri sebagai seorang feminis, sekitar 39 persen responden menjawab setuju, naik dari 33 persen pada 2019. Di Amerika Serikat, angka ini mencapai 40 persen, meningkat dari 31 persen pada 2019. Meski begitu, laporan ini juga menemukan bahwa pria Gen Z merupakan kelompok yang paling sering menyetujui pandangan tradisional mengenai peran laki-laki dan perempuan.
CEO Ipsos untuk wilayah Inggris dan Irlandia, Kelly Beaver, mengatakan hasil survei ini menunjukkan adanya proses “negosiasi ulang” mengenai peran gender di masyarakat modern.
“Terutama di kalangan Gen Z, data kami menunjukkan dualitas yang menarik. Mereka adalah kelompok yang paling mungkin setuju bahwa perempuan dengan karier sukses lebih menarik bagi pria, namun pada saat yang sama juga paling mungkin setuju bahwa istri harus selalu patuh pada suami dan perempuan tidak boleh terlihat terlalu mandiri,” ujarnya.
Menurut Beaver, dualitas pandangan ini membuka ruang diskusi penting tentang bagaimana norma gender sedang berubah di masyarakat.
“Hal ini menunjukkan interaksi yang kompleks antara nilai modern dan tradisional, serta mendorong kita untuk melihat lebih dalam faktor budaya, sosial, dan ekonomi yang memengaruhi keyakinan tersebut,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Global Institute for Women’s Leadership, Julia Gillard, menilai banyak pria Gen Z justru ikut terjebak dalam norma gender yang membatasi.
“Bukan hanya perempuan yang dibatasi oleh ekspektasi ini, tetapi banyak pria Gen Z juga menempatkan diri mereka sendiri dalam kerangka peran gender yang sempit,” kata Gillard.
Ia menambahkan bahwa penting untuk terus meluruskan anggapan bahwa kesetaraan gender hanya menguntungkan perempuan.
“Kita perlu memastikan semua pihak ikut dalam perjalanan menuju kesetaraan gender, dengan pemahaman jelas bahwa hal ini membawa manfaat bagi seluruh masyarakat,” ujarnya.





