Trauma Ferry Salim Imbas Kerusuhan 1998 di Film Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang

medcom.id
1 jam lalu
Cover Berita
Jakarta: Trauma akibat kerusuhan Mei 1998 menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup karakter yang diperankan Ferry Salim di film Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang. Melalui tokoh Encek, Ferry menggambarkan seorang pria lanjut usia yang masih menyimpan luka masa lalu setelah melewati berbagai pengalaman pahit dalam hidupnya.

Film drama garapan sutradara Ismail Basbeth ini mengangkat kisah keluarga Tionghoa-Indonesia yang harus menghadapi trauma, kehilangan, kesepian, hingga diskriminasi. Diadaptasi dari novel karya Wisnu Suryaning Adji, Encek diceritakan hidup dalam kesepian setelah kehilangan istrinya yang meninggal dunia 16 tahun sebelumnya.

Kehilangan tersebut membuat Encek merasa hidupnya semakin kehilangan arah. Dalam situasi itu, dia memutuskan menyiapkan makan malam terakhir bersama anak-anaknya sebagai bagian dari perjalanan emosional menjelang akhir kehidupannya.

Namun, persiapan makan malam tersebut justru membawanya kembali pada berbagai kenangan masa lalu. Encek mengingat pertemuan pertamanya dengan sang istri, sekaligus pengalaman traumatis yang selama ini membekas dalam ingatannya.

Salah satu pengalaman paling menyakitkan yang harus dihadapi Encek adalah kerusuhan Mei 1998. Selain itu, dia juga pernah mengalami diskriminasi dan kekerasan ketika masih kecil saat tinggal di sebuah panti asuhan. Pengalaman tersebut bahkan membuatnya melarikan diri dari panti asuhan ketika berusia 15 tahun.

Baca Juga :

Ferry Salim Kenang Momen Terakhir Bersama Ray Sahetapy


Menjelang akhir hidupnya, Encek memutuskan kembali mengunjungi panti asuhan tempat dia pernah dibesarkan. Kunjungan tersebut menjadi upayanya untuk berdamai dengan masa lalu sekaligus menghadapi luka yang selama bertahun-tahun memengaruhi kehidupannya.

Ferry Salim mengungkapkan, karakter Encek tidak bisa dipandang hanya sebagai sosok pria tua yang pemarah, egois, atau tidak peduli terhadap orang lain. Menurutnya, perilaku Encek terbentuk dari perjalanan panjang dan beban kehidupan yang harus dia tanggung.

"Tokoh Encek ini bukan tokoh seorang laki-laki tua yang selalu marah-marah, egois, tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya. Bukan, tapi bagi saya dia adalah seorang laki-laki yang sudah cukup lama dan berat memikul beban hidupnya di dunia ini," ungkap Ferry.

Melalui karakter tersebut, Ferry berharap film Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang dapat mengingatkan penonton mengenai pentingnya hubungan keluarga. Dia ingin penonton lebih memperhatikan orang tua, terutama mereka yang mungkin menjalani masa tua dalam kesepian.

Sementara itu, Ismail Basbeth menjelaskan bahwa penggarapan film ini berangkat dari keinginannya menyuarakan pengalaman komunitas Tionghoa-Indonesia. Menurutnya, kelompok tersebut kerap menjadi bagian dari pertentangan dalam politik identitas dan berbagai wacana publik.

Meski mengangkat pengalaman diskriminasi yang dialami keluarga Tionghoa, Ismail menegaskan film ini tidak dibuat hanya untuk satu kelompok masyarakat. Dia ingin mengajak penonton memahami pengalaman orang lain serta melihat pentingnya hak setiap manusia untuk hidup tanpa diskriminasi.

Baca Juga :

Rekomendasi Drakor Kriminal Paling Seru 2026 yang Wajib Masuk Watchlist

Ismail juga menyebut Encek sebagai karakter fiksi yang merepresentasikan pengalaman nyata lintas generasi. Melalui tokoh tersebut, dia ingin memperlihatkan bagaimana trauma dapat diwariskan dalam keluarga dan memengaruhi kehidupan generasi berikutnya.

"Kisahnya adalah kisah trauma antargenerasi, serta kisah seorang pria yang berani memutus siklus tersebut dan mengubah arah hidupnya sendiri serta keluarganya, sambil menanggung segala duka dan penderitaan yang menyertai upaya tersebut," katanya. 

Selain mengangkat persoalan trauma dan keluarga, Ismail mengungkapkan bahwa kematian menjadi salah satu tema yang kerap muncul dalam karya-karyanya. Ketertarikan tersebut berkaitan dengan cara dia memandang kehidupan sejak masih muda.

"Hampir semua film saya tuh tentang mati dan keluarga. Jadi, saya selalu mikirnya kalau saya bangun, kalau saya masih hidup, saya harus bikin apa-apa. Jadi, mati tuh tak tahu di depan mata," ujarnya.

Ismail berharap penonton dapat menerima film ini sebagai upaya untuk membangun empati terhadap pengalaman hidup orang lain. Dia juga ingin cerita yang disampaikan mampu membuka ruang pemahaman di tengah perbedaan latar belakang dan identitas.

Film Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang turut dibintangi Nicholas Anderson dan Jessy Davita. Keduanya merupakan pendatang baru yang mendapatkan kesempatan bermain setelah mengikuti proses audisi yang informasinya mereka temukan melalui media sosial.

Film ini terpilih sebagai official selection Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) dan dijadwalkan diputar di Yogyakarta pada 30 November 2026. Pada Juni 2026, film ini juga menjadi satu-satunya karya dari Asia Tenggara yang masuk kompetisi film live action panjang di Shanghai International Film Festival (SIFF) 2026.

Film Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia pada 28 Januari 2027, berdekatan dengan perayaan Imlek.








 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
  • URL Berhasil di Salin Trauma Ferry Salim Imbas Kerusuhan 1998 di Film Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang Klik untuk baca: https://www.medcom.id/hiburan/film/9K5yx5yK-trauma-ferry-salim-imbas-kerusuhan-1998-di-film-rencana-besar-untuk-mati-dengan-tenang

(ELG)

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
NASA umumkan pesawat eksperimental terbaru X-70
• 21 jam lalu
0
thumb
Pelatih Borneo FC Akui Kantongi Kelemahan PSM
• 17 jam lalu
0
thumb
Cara melaporkan bansos tidak tepat sasaran lewat cek bansos
• 9 jam lalu
0
thumb
Di Tapsel, TKD Tambahan Jadi Stimulus Ekonomi Pengungsi Beternak Lele di Kolam Bundar Portabel
• 13 jam lalu
0
thumb
Peserta Magang Nasional Dihitung Sebagai Pekerja, Bikin Angka Pengangguran Turun
• 14 jam lalu
0
Berhasil disimpan.