MARASA Parfum Resmi Meluncur, Angkat Warisan Budaya Sulawesi Lewat Tiga Varian Aroma

harianfajar
5 jam lalu
Cover Berita

HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR – Empat anak muda asal Sulawesi Selatan menghadirkan MARASA, brand parfum lokal yang mengangkat kekayaan sejarah dan identitas budaya Sulawesi melalui tiga varian aroma, yakni PHÉÉNISI, SORA, dan LUNAÉ.

Mengusung perpaduan warisan budaya dan sentuhan modern, MARASA resmi diperkenalkan kepada publik dalam peluncuran yang berlangsung di Atrium Mal Pipo Makassar, Sabtu, 7 November 2026.

MARASA merupakan hasil rebranding dari Sultan Parfum yang dikembangkan melalui kolaborasi empat anak muda asal Bulukumba, Pinrang, Gowa, dan Enrekang.

Founder MARASA Parfum, Rezky Amelia mengatakan perubahan identitas tersebut dilandasi keinginan menghadirkan produk yang tidak hanya menawarkan keharuman, tetapi juga membawa cerita, sejarah, dan karakter budaya Sulawesi Selatan.

Menurutnya, gagasan mengangkat identitas daerah semakin menguat setelah berdiskusi dengan rekan bisnisnya. Mereka melihat peluang untuk menghadirkan brand parfum lokal dengan pendekatan budaya yang lebih kuat.

“Awalnya segmen ini memang belum sempat kami pikirkan secara mendalam. Namun, ketika bertemu dengan partner, kami kemudian menyadari bahwa ini merupakan sesuatu yang penting. Kami berpikir, mengapa tidak menghadirkan parfum yang mengangkat elemen-elemen khas Sulawesi?” ujar Rezky Amelia yang akrab disapa Imel.

Ia menjelaskan, empat founder MARASA sebelumnya dipertemukan melalui komunitas parkour. Dari pertemanan tersebut, mereka kemudian membangun kolaborasi bisnis hingga melahirkan produk parfum dengan identitas lokal.

Proses pengembangan konsep hingga peluncuran produk berlangsung sekitar tiga bulan. Para founder turut terlibat dalam pengembangan konsep dan peracikan awal sebelum sampel diserahkan kepada pihak pabrik untuk diproduksi.

Tiga Varian Aroma dengan Filosofi Budaya

Dalam peluncuran perdananya, MARASA memperkenalkan tiga varian parfum yang masing-masing memiliki karakter aroma dan filosofi berbeda. Ketiganya terinspirasi dari sejarah, tradisi, serta pandangan hidup masyarakat Sulawesi.

Varian pertama, PHÉÉNISI, terinspirasi dari kapal tradisional Phinisi yang identik dengan Tanah Ara, Kabupaten Bulukumba.

Kapal legendaris masyarakat Bugis-Makassar tersebut merepresentasikan kejayaan maritim dan ketangguhan pelaut Sulawesi Selatan.

Filosofi tersebut diterjemahkan melalui perpaduan Saffron sebagai top notes, Amber pada middle notes, dan Vanilla sebagai base notes.

Kombinasi ini menghadirkan karakter aroma eksotis, hangat, sekaligus lembut.

Varian kedua, SORA, mengangkat filosofi langit dalam kebudayaan Bugis. Nama tersebut merepresentasikan langit dan berkaitan dengan konsep Botting Langiq dalam kosmologi Bugis.

Karakter aromanya dibuka dengan Floral Fresh dan Rhubarb, kemudian dilanjutkan Jasmine dan Melati sebagai middle notes.

Sementara Musk, Woody, Ambergris, dan Vanilla menjadi base notes yang memberikan kesan hangat dan lembut.

Adapun varian ketiga, LUNAÉ, terinspirasi dari bulan. Namanya berasal dari kata Luna dalam bahasa Latin, sedangkan dalam bahasa Bugis, bulan dikenal dengan sebutan Uleng.

LUNAÉ menggambarkan kelembutan dan keindahan cahaya bulan. Karakter aromanya memadukan Vanilla dan White Floral sebagai top notes, Iris pada middle notes, serta White Musk sebagai base notes.

Ketiga varian tersebut dipasarkan dengan harga Rp98.000 per botol berukuran 30 mililiter.

MARASA menggunakan konsentrasi extrait de parfum dengan klaim ketahanan aroma hingga sekitar 12 jam dalam kondisi tertentu. Meski demikian, daya tahan parfum dapat berbeda bergantung pada kondisi kulit, aktivitas, dan lingkungan pemakaian.

Logo MARASA Padukan
Empat Elemen Budaya

Identitas budaya MARASA tidak hanya ditampilkan melalui nama dan filosofi produk, tetapi juga diwujudkan dalam desain logo dan kemasannya.

Identitas visual brand ini menggabungkan empat elemen budaya, yakni Songkok Bugis, Phinisi, Patonro, dan Rumah Tongkonan.

Keempat simbol tersebut merepresentasikan kekayaan warisan budaya Sulawesi, khususnya Bugis-Makassar dan Toraja.

Elemen budaya tersebut dikemas melalui simbol organik, tipografi khas, serta perpaduan warna merah, kuning, hijau, dan biru.

Imel mengatakan, pemilihan warna tersebut merupakan upaya mempertemukan karakter budaya lokal dengan ekspresi modern yang dekat dengan semangat generasi muda.

“Kami ingin menghadirkan perpaduan antara budaya lokal dan sentuhan modern. Selama ini, ketika berbicara tentang pengangkatan budaya lokal, visual yang digunakan cenderung lebih berani atau bold. Karena itu, kami mencoba mengombinasikannya dengan warna-warna yang lebih modern,” jelasnya.

Menurutnya, perpaduan tersebut menjadi representasi semangat anak muda di balik lahirnya MARASA tanpa meninggalkan identitas budaya Sulawesi Selatan.
Bidik Pasar Nasional melalui Distributor dan Reseller
Dalam pengembangan bisnis, MARASA akan mengutamakan pemasaran melalui platform digital atau penjualan online.

Selain itu, brand ini membuka peluang kerja sama dengan distributor dan reseller untuk memperluas jaringan pemasaran.

Para founder berharap MARASA tidak hanya dikenal di Makassar dan Sulawesi Selatan, tetapi juga mampu menjangkau konsumen di berbagai wilayah Indonesia.

Mereka ingin membuktikan bahwa kekayaan sejarah dan budaya lokal dapat dikembangkan menjadi produk kreatif bernilai ekonomi sekaligus menjadi sarana memperkenalkan identitas daerah.

“Kami ingin menghadirkan sesuatu yang tidak hanya berbicara tentang aroma, tetapi juga membawa cerita, sejarah, budaya, dan identitas Sulawesi melalui setiap produk yang kami luncurkan,” ungkap Imel.

Melalui PHÉÉNISI, SORA, dan LUNAÉ, MARASA berupaya membawa warisan budaya ke dalam bentuk yang lebih modern dan dekat dengan kehidupan masyarakat.

Bagi keempat pendirinya, parfum bukan sekadar produk wewangian, melainkan medium untuk merawat cerita, memperkenalkan tradisi, dan membawa identitas budaya Sulawesi Selatan ke pasar yang lebih luas. (*)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Selamat! UPITRA Borong Trofi di Solo Raya Impact Awards 2026
• 10 jam lalu
0
thumb
RI Kantongi Komitmen Investasi Rp 6,3 T dari Inggris, Timah hingga Kawasan Industri
• 5 jam lalu
0
thumb
Demo Pecah, Aktivis Lompat Pagar-Tembus Lokasi Proyek Data Center
• 18 jam lalu
0
thumb
Digitalisasi dan Transparansi Jadi Upaya Perkuat Perdagangan Komoditas
• 1 jam lalu
0
thumb
Di Tengah Kehancuran Gaza, 250 Pasangan Rayakan Pernikahan Massal | SAPA PAGI
• 8 jam lalu
0
Berhasil disimpan.