Pada Kamis (5/11), demonstrasi besar-besaran kembali pecah di Prancis. Menurut klaim serikat pekerja, lebih dari 1,6 juta orang turun ke jalan. Selain itu, pemerintah Prancis secara tiba-tiba mengumumkan bahwa pertemuan para menteri luar negeri G7 yang semula dijadwalkan berlangsung di Marseille pekan depan, secara mendadak dipindahkan ke Paris.
EtIndonesia.com Menurut data Kementerian Dalam Negeri Prancis, sekitar 600.000 orang turun ke jalan di seluruh negeri. Namun, serikat pekerja mengklaim jumlah sebenarnya mencapai 1,6 juta orang.
Bentrok antara polisi dan demonstran kembali terjadi di Paris dan Lyon. Di Lyon, sejumlah mobil dibakar dan para demonstran melemparkan obor ke arah polisi. Polisi kemudian mengerahkan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan massa.
Untuk mencegah terulangnya aksi kekerasan, pemerintah Prancis mengerahkan sekitar 70.000 personel polisi di seluruh negeri.
Selain itu, pemerintah Prancis secara mendadak mengumumkan bahwa pertemuan para menteri luar negeri G7 yang semula dijadwalkan berlangsung pada 9–10 November di Marseille, akan dipindahkan ke Paris.
Perubahan mendadak ini tergolong tidak biasa. Keputusan tersebut juga terjadi bersamaan dengan gelombang demonstrasi yang telah berlangsung selama enam minggu berturut-turut, sehingga semakin menambah beban aparat kepolisian yang sebelumnya sudah disibukkan dengan upaya menjaga ketertiban umum.
Saat ini, pemilihan presiden Prancis tinggal lima bulan lagi. Gelombang demonstrasi yang terus meluas ini juga membuat pemerintahan Emmanuel Macron menghadapi tekanan politik yang semakin besar.
Reporter NTD, Liu Jiajia, menyusun laporan ini berdasarkan berbagai sumber.






Komentar (0)