Bahlil soal Penyadapan Presiden: Mati di Medan Perang Lebih Berharga daripada Jadi Pengkhianat

kompas.tv
9 jam lalu
Cover Berita
Menteri Koordinator bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia ketika dijumpai di sela-sela acara rakernas Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HPPI) yang digelar di Jakarta, Senin (12/10/2026). (Sumber: ANTARA/Putu Indah Savitri)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia menyinggung pentingnya loyalitas dan kesetiaan saat berbicara mengenai kasus dugaan penyadapan Presiden Prabowo Subianto.

Bahlil menyampaikan hal tersebut dalam agenda Pelantikan DPD I Partai Golkar Maluku yang digelar di Ambon pada Sabtu (7/11/2026).

Ia menegaskan kesetiaan merupakan nilai yang dipegang dalam menjalankan pekerjaan maupun perjuangan.

Menurut Bahlil, kepercayaan, loyalitas, dan ketaatan kepada pimpinan adalah karakter yang harus dijaga. Ia juga menyebut nilai tersebut sebagai bagian dari karakter masyarakat Indonesia Timur.

"Jadi kalau kita bawahan, taat sama atasnya. Loyalitas sama atasnya. Totalitas. Dan itu adalah ciri kita orang timur," ucap Bahlil dalam tayangan Kompas Siang KompasTV, Sabtu (7/11/2026).

Baca Juga: Bahlil Tantang Pihak Seret Namanya Terlibat Penyadapan Presiden: Buktikan atau Saya Somasi

Ia mengatakan dirinya tidak dibesarkan dengan nilai-nilai pengkhianatan.

Bahlil juga mengaitkan prinsip tersebut dengan latar belakang keluarganya yang berasal dari negeri para raja.

"Saya dilahirkan dari negeri para raja-raja, tidak diajarkan untuk menjadi orang yang tidak setia dan atau pengkhianat, nggak ada itu," katanya.

Bahlil Pantang Jadi Pengkhianat

Bahlil berprinsip mati di medan perang jauh lebih berharga dibanding menjadi pengkhianat.

"Saya punya prinsip mati di medan perang jauh lebih berharga dan bermartabat daripada menjadi pengkhianat," tegasnya.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah namanya ikut terseret dalam kabar adanya pertemuan ketua umum partai dengan sejumlah jenderal, tiga jam sebelum penangkapan tersangka penyadapan.

Namun, ia menegaskan tidak pernah menghadiri pertemuan tersebut.

Baca Juga: Bahlil Respons Tudingan Terlibat Penyadapan Presiden: Gimana Mungkin Saya Ikut, Saya Juga Disadap

 

Bahlil menyampaikan ada pihak-pihak yang ingin membangun persepsi bahwa ia terlibat dalam penyadapan presiden.

"Jangan uji nyali kita. Jadi ingin mereka membangun persepsi, seolah-olah kita ada urusannya dengan penyadapan, gimana mungkin saya bisa ikut mengatur penyadapan sementara saya juga disadap," ujar Bahlil.

4 Perwira Tinggi Polri Jadi Tersangka

Polri telah menetapkan empat perwira tingginya sebagai tersangka kasus dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo.

Mereka adalah mantan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Irjen Ahrie Sonta Nasution, Irjen Eko Hadi Santoso, dan Irjen Slamet Uliandi.

Tiga tersangka pertama diumumkan pada 3 November 2026, sementara Slamet pada 5 November.

Dalam perkara ini, penyidik menduga penyadapan dilakukan tanpa prosedur yang semestinya terhadap sejumlah nomor telepon, termasuk milik Presiden Prabowo. Dugaan tersebut masih dalam proses pembuktian hukum.

 

Download KompasTV Apps di TV kamu, sekarang juga di https://app.kompas.tv/. Satu apps untuk semua Video Premium, Breaking News, dan Live Streaming 24/7 dari Kompas Gramedia.

Penulis : Laela Putri Rahmadani Editor : Edy-A.-Putra

Sumber : Kompas TV

Tag
  • Bahlil
  • Bahlil Lahadalia
  • penyadapan presiden
  • prabowo subianto
  • penyadapan
  • penyadapan prabowo
Selengkapnya


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Bupati SBT Dorong Sagu Jadi Komoditas Unggulan | SAPA PAGI
• 19 jam lalu
0
thumb
Persebaya Surabaya Sedang Terpuruk, Shin Tae-yong Justru Wanti-wanti Persija Jakarta
• 16 jam lalu
0
thumb
Sejumlah Pemimpin Dunia Pernah Jadi Target Penyadapan, Siapa Saja Mereka?
• 29 menit lalu
0
thumb
Tak Terima Sambalnya Dikomentari Asin, Seorang Paman di Garut Aniaya Keponakan Hingga Tewas
• 2 jam lalu
0
thumb
Dua Pendaki Gunung Semeru Dilaporkan Hilang, Tim SAR Gabungan Dikerahkan ke Lokasi
• 8 jam lalu
0
Berhasil disimpan.