HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR —Program Kolaborasi Sosial Membangun Masyarakat (Kosabangsa) 2026 menghadirkan teknologi tepat guna untuk mempercepat produksi minyak kelapa di Desa Lende Tovea, Kecamatan Sirenja, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah.
Melalui program tersebut, masyarakat mendapat bantuan alat parut kelapa, pemeras santan, dan penyaring minyak. Teknologi ini dirancang untuk memangkas waktu produksi sekaligus meningkatkan kualitas dan daya simpan minyak kelapa yang dihasilkan kelompok masyarakat.
Program yang didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi itu, dilaksanakan melalui kolaborasi Universitas Muhammadiyah Palu sebagai perguruan tinggi pelaksana dan Universitas Negeri Makassar (UNM) sebagai perguruan tinggi pendamping.
Ketua tim pendamping Kosabangsa dari UNM, Prof Dr Ir Bakhrani A Rauf MT IPU ASEAN Eng, menjelaskan, teknologi yang diterapkan memungkinkan masyarakat memproduksi minyak kelapa hanya dalam waktu enam hingga tujuh jam.
Sebelumnya, proses pembuatan minyak kelapa secara konvensional membutuhkan waktu sekitar 20 hingga 24 jam. Selain lebih lama, minyak yang dihasilkan masyarakat umumnya hanya mampu bertahan dua hingga tiga minggu sebelum mengalami kerusakan.
“Melalui sentuhan teknologi, proses produksi menjadi lebih cepat. Daya simpan minyak juga dapat ditingkatkan melalui proses penyaringan untuk mengurangi kadar air,” jelasnya.
Anggota tim pendamping dari Universitas Negeri Makassar, Dr. Ir. Faisal Amir, M.Pd., mengatakan penerapan teknologi tepat guna dalam Program Kosabangsa 2026 dinilai tepat sasaran karena berpotensi meningkatkan kesejahteraan masyarakat penerima manfaat.
Bantuan alat pencacah sabut kelapa dianggap sangat tepat karena sabut kelapa di desa Lende Tovea hanya dibuang dan dibakar.
“Melalui program kosangsa sabut kelapa diolah menjadiproduk yang bernilai ekonomis yaitu dibuat sapu lantai, pot bunga, pupuk organic serata media tanam,” ucapnya.
Anggota Tim, Drs Muh Jufri memandang bahwa program sangat sesuai dengan kebutuhan masyarakat, dimana masyarakat sebelum kosangsa nelayan penangkapa ikan rono hanya menggunakan senter yang dipasang dikepala untuk menangkap ikan rono.
Sehingga kata dia, hasil tangkapanya sangat kurang karena pencahayaan kurang. Melalui program kosabangsa, para nelayan penagkap ikan rono, diberikan teknologi Tenaga surya/gensek sebagai pembangkit listik untuk menyakan lampu rorot yang menggunan 30 buahlampu sebagai pencahayaan.
“Selain itu diberikan pula jaya sebanyak 10 buah. Kegiatan kosabangsa ini mengembangkan dua pendekatan pelatihan untuk meningkatkan SDM,” ucapnya.
Pertama adalah pelatihan teknis yang berorientasi penerapan teknolologi dan inovasi untuk meningkatkan produksi dan kualitas produk, uang kedua pelatihan Non teknis yang berorentasi pada pemasaran produk, melalui pemasaran online atau digital, manajemen usaha, dan PIRT yang memuat pengemasan produkpelabelan serta pembuatan produk yang higienis
Ketua tim pelaksana dari Universitas Muhammadiyah Palu, Dr Rukhayati SE MM, mengatakan, program Kosabangsa menjadi upaya menghubungkan pengetahuan perguruan tinggi dengan kebutuhan masyarakat.
Potensi kelapa di Desa Lende Tovea dinilai dapat dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi apabila didukung teknologi dan pengelolaan usaha yang tepat.
“Bantuan peralatan ini diharapkan tidak hanya mempermudah proses produksi, tetapi juga membantu masyarakat menghasilkan minyak kelapa dengan mutu yang lebih terjaga. Pendampingan tetap dilakukan agar kelompok mampu mengelola usaha secara mandiri,” ujarnya.
Anggota tim pelaksana, Meggi Rahayu SPd MPd, menekankan pentingnya peningkatan keterampilan masyarakat dalam menggunakan dan merawat peralatan. Kelompok mitra juga mendapat pendampingan mengenai kebersihan produksi, pengemasan, serta pengelolaan usaha.
Menurutnya, teknologi harus diikuti kemampuan menjaga kualitas produk agar hasil produksi memiliki nilai jual dan dapat bersaing di pasar.
Kepala Desa Lende Tovea, Sofian, mengapresiasi bantuan yang diberikan. Dia berharap peralatan tersebut dimanfaatkan secara berkelanjutan untuk membuka peluang usaha dan menambah pendapatan masyarakat, terutama dalam upaya pemulihan ekonomi pascagempa.
Program ini menyasar kelompok masyarakat yang selama ini memiliki keterbatasan pengetahuan, keterampilan, dan peralatan dalam mengolah potensi lokal.
Melalui dukungan perguruan tinggi, produksi minyak kelapa diharapkan berkembang menjadi salah satu usaha produktif masyarakat desa.
Kolaborasi lintas perguruan tinggi ini diharapkan memperkuat pelaksanaan program melalui dukungan keilmuan, pendampingan teknis, serta pemantauan hasil dan keberlanjutan kegiatan.
Seiring itu timpelaksana program kosabangsa dan tim pendamping mengucapkan terima kasih kasih kepada DPPM Kementerian Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemdiktisaintek) atas pendanaan program kosabangsa tahun 2026. (wis)






Komentar (0)