Kecolongan Uang Palsu Saat Ramai Pembeli, Pedagang Madura Baru Sadar dari Tekstur Kertas

kumparan.com
13 jam lalu
Cover Berita

Sejumlah penjaga warung Madura mengaku pernah menerima uang palsu dari pembeli saat melayani transaksi. Kondisi warung yang sedang ramai menjadi salah satu situasi yang membuat mereka tidak teliti memeriksa uang yang diterima.

Pengalaman tersebut diceritakan Ida (30), pedagang warung Madura di kawasan Bintara, Bekasi Barat. Ia mengatakan, uang palsu biasanya baru diketahui ketika kondisi warung sudah sepi dan dirinya mulai menghitung uang hasil penjualan.

"Ya itu, kalau belanja kalau udah rame, nah itu... belanja, kan kalau udah rame kita ngelayaninya enggak fokus, kan? Ambil-ambil aja uangnya. Nah, itu diselipin," kata Ida saat ditemui, Sabtu (7/11).

Ida baru menyadari uang yang diterimanya palsu ketika hendak menghitung uang di tempat penyimpanan. Saat transaksi berlangsung, ia tidak langsung mengetahui bahwa uang dari pembeli tersebut berbeda dari uang asli.

"Ya kalau udah mau dihitung uang di tempat uang itu. Kalau udah mau belanja, itu baru sadar kita kalau itu uang palsu," ujarnya.

Menurut Ida, salah satu perbedaan yang bisa dirasakan adalah tekstur kertas. Uang palsu yang pernah diterimanya terasa lebih licin, sedangkan uang asli memiliki tekstur yang berbeda ketika dipegang.

"Kalau yang palsu, polos kayak licin tuh. Kalau yang asli kan enggak licin dia," jelasnya.

Pengalaman serupa dialami Bagas (20), penjaga warung Madura di kawasan Pondok Kopi, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur. Saat itu, pembeli tersebut datang untuk membeli rokok. Karena sedang melayani banyak orang, Bagas tidak terlalu memperhatikan uang yang diberikan kepadanya.

"Pernah sih, ya udah agak lama juga sih. Pas itu kan lagi ramai kayak barusan. Tiba-tiba ada orang datang langsung ngasih duit seratus, belanja rokok. Ya lagi ramai kan enggak fokus itu, enggak langsung fokus ke semua orang," ujar Bagas.

Ia baru mengetahui uang tersebut palsu ketika hendak berbelanja ke agen. Saat uang itu diperiksa dan dibandingkan dengan uang asli, terdapat perbedaan pada fisik kertasnya.

"Jadi saya terima aja, udah ditaruh, dikembaliin. Ternyata pas mau dibawa belanja, dicek di agen, ternyata palsu," katanya.

Bagas menjelaskan, uang palsu yang pernah diterimanya terasa lebih licin dibandingkan uang asli. Sementara itu, uang asli menurutnya memiliki tekstur kertas yang lebih keras.

"Palsunya sih ya kertasnya licin ya. Kalau asli itu kertasnya itu keras," ungkapnya.

Penjaga warung lainnya, Zain (20), juga mengaku cukup sering menemukan uang palsu, terutama ketika sebelumnya bertugas menjaga warung di kawasan pasar.

Zain mengatakan, kondisi ramai kerap dimanfaatkan pembeli untuk membelanjakan uang palsu. Sebab, penjaga warung biasanya tidak bisa memeriksa setiap transaksi secara teliti ketika harus melayani banyak orang sekaligus.

"Kalau kejadian kayak gitu kadang kalau orang tuh iseng kalau udah tahu itu palsu malah disengajain. Jadi kayak diambil kesempatan gitu lho, Bang. Kayak lagi rame, wah ramainya pasti kecolongan," tutur Zain.

Ia menambahkan, perbedaan uang asli dan palsu sebenarnya bisa dirasakan dari tekstur ketika dipegang. Uang asli menurutnya memiliki permukaan yang lebih kesat, sedangkan uang palsu terasa licin.

"Cara bedainnya sih dari segi pegangan sama licinnya sih, Bang. Kalau dipegang tuh agak ada keset-kesetnya kalau yang asli. Kalau yang palsu dia bener-bener licin," jelasnya.

Untuk mengantisipasi penerimaan uang palsu, Zain mengatakan warung tempatnya bekerja juga memiliki alat pendeteksi uang. Namun, ia menilai ketelitian penjaga warung tetap menjadi hal penting, terutama ketika sedang ramai pembeli.

"Harus lebih fokus aja sih. Apalagi kalau sekarang tuh orang banyak banget ngambil kesempatan dalam kesempitan," katanya.

Bagas juga menambahkan, uang juga bisa diperiksa dengan bantuan cahaya. Ia mengatakan, uang asli memiliki tanda visual yang dapat terlihat ketika diarahkan ke cahaya.

"Gampang aja sih sebenarnya, cuma pantulin ke cahaya. Kan nanti kalau uang asli itu kan ada itunya, ada gambar kayak gunung. Kalau yang palsu itu enggak kelihatan, keluarnya itu beda, bukan yang kayak yang asli," kata Bagas.

Ida juga menyebut pedagang dapat menggunakan alat khusus berupa lampu untuk membantu memeriksa uang apabila merasa ragu dengan keasliannya.

"Kalau lebih aman biasanya kalau enggak tahu, warung-warung kayak gini beli itu beli alat. Ada kayak lampunya tuh, ucap Ida.

Sebelumnya, Polda Lampung mengungkap sosok berinisial ATD yang diduga memesan uang palsu senilai Rp 980 juta yang disita di Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan. Berdasarkan keterangan tersangka, uang palsu tersebut rencananya digunakan untuk membiayai aksi demonstrasi di Jakarta.

Kapolda Lampung Brigjen Pol Yustan Alpiani mengatakan, nama ATD muncul berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap Sudiyono (58) mantan calon Bupati Deli Serdang, tersangka yang ditangkap di Medan, Sumatera Utara, pada 27 Oktober 2026.

"Dari hasil pemeriksaan, ternyata uang ini dipesan oleh orang atas nama ATD di Jakarta. Rencananya, uang ini akan digunakan untuk membiayai demo yang ada di Jakarta," kata Yustan.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Link Live Streaming Persita vs Isenmulang Jam 19.00 WIB Malam Ini
• 11 jam lalu
0
thumb
Kebun Ganja Tersembunyi di Sragen Ditemukan, 29 Tanaman Disita Polisi
• 14 jam lalu
0
thumb
Presiden Paraguay yang Dimakzulkan Jadi Tahanan Rumah usai Skandal Bank
• 11 jam lalu
0
thumb
Sejumlah Pejabat Senior Kementerian Kehakiman AS Mundur Usai Pemilu Sela
• 20 jam lalu
0
thumb
PPPK PW Lintas Profesi Jadi Penuh Waktu, Berhak Ikut Seleksi CPNS, Mantap!
• 23 jam lalu
0
Berhasil disimpan.