Industri Petrokimia Tertekan Kelebihan Pasokan Global

kompas.id
13 jam lalu
Cover Berita

BOGOR, KOMPAS – Industri petrokimia nasional menghadapi persaingan yang semakin ketat seiring kelebihan pasokan produk petrokimia di pasar global. Masuknya produk impor berharga murah, terutama dari China, berpotensi menekan utilisasi produsen dalam negeri sekaligus menghambat realisasi investasi untuk memperkuat kapasitas industri.

Direktur Industri Kimia Hulu, Direktorat Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil Kementerian Perindustrian Sri Bimo Pratomo mengatakan, ekspansi kapasitas petrokimia global pada periode 2026–2029 terutama didorong oleh China.

Selain China, penambahan kapasitas juga berlangsung di Rusia, India, Amerika Serikat, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Kondisi tersebut memicu kelebihan pasokan berbagai produk petrokimia di pasar dunia.

Baca JugaDaya Beli Membayangi Kinerja Industri dan Ritel

Menurut Bimo, China kini telah mengembangkan industri petrokimia dari hulu hingga hilir. Dengan kapasitas produksi yang semakin besar, negara tersebut tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan domestik, tetapi juga menghadapi kelebihan pasokan yang mendorong produsen mencari pasar ekspor baru. Indonesia menjadi salah satu tujuan potensial karena memiliki jumlah penduduk dan kebutuhan industri yang besar.

"Pasar Indonesia sangat potensial bagi produk-produk petrokimia. Dengan kondisi kelebihan pasokan di negara produsen, produk yang masuk ke Indonesia ditawarkan dengan harga relatif murah," ujar Bimo dalam diskusi bertema "Outlook Industri Petrokimia 2027" di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Jumat (6/11/2026).

Tekanan persaingan tidak hanya datang dari China. Indonesia juga harus berhadapan dengan produsen petrokimia negara-negara ASEAN yang memiliki kapasitas lebih besar.

“Indonesia saat ini memiliki dua fasilitas cracker, sedangkan Malaysia memiliki tiga fasilitas, Singapura empat fasilitas, dan Thailand lebih dari empat fasilitas,” ujarnya.

Adapun produk turunan dari industri petrokimia, seperti etilena untuk menghasilkan polietilena (botol plastik, kontainer, dan produk plastik lainnya. Ada pula propilena dan polipropilena (suku cadang otomotif, mainan, kemasan, tekstil), dan lainnya.

Di sisi lain, kapasitas produksi domestik belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan pasar. Untuk produk hulu seperti etilena dan propilena, kapasitas terpasang nasional diperkirakan dapat memenuhi kebutuhan domestik pada 2027. Namun, optimalisasi produksi dan penyerapan etilena untuk produksi polietilena masih diperlukan.

Sementara itu, kapasitas terpasang poliolefin, yakni polietilena (PE) dan polipropilena (PP), baru mampu memenuhi sekitar 60-66 persen dari proyeksi kebutuhan domestik pada 2027.

Kesenjangan pasokan tersebut menunjukkan masih terbukanya peluang pengembangan kapasitas produksi dalam negeri. Namun, masuknya produk impor berharga murah juga berisiko mengurangi daya tarik investasi baru.

Bimo mencontohkan, industri polivinil klorida (PVC) nasional telah mengoptimalkan kapasitas produksi hingga sekitar 1,2 juta ton per tahun pada 2026. Dengan pertumbuhan permintaan domestik sekitar 5,1 persen per tahun, kebutuhan PVC nasional pada 2027 diperkirakan mencapai 873.000 ton.

Kapasitas yang melebihi kebutuhan domestik tersebut membuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuat posisi sebagai produsen sekaligus eksportir PVC di kawasan ASEAN. Adapun PVC merupakan salah satu bahan baku pembuatan plastik.

“Jadi kita kalau lihat kapasitasnya 1,2 juta ton, kemudian demand 873.000, seharusnya ini bisa dipenuhi semua dari dalam negeri,” katanya.

Peluang juga terdapat pada industri super absorbent polymer (SAP), bahan penyerap yang digunakan dalam produk popok dan pembalut. Kapasitas produksi SAP nasional saat ini sekitar 90.000 ton per tahun dan direncanakan meningkat menjadi 140.000 ton pada 2027.

Dengan kebutuhan domestik sekitar 100.000 ton per tahun, penambahan kapasitas tersebut berpotensi memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri sekaligus membuka peluang ekspor. “Namun, masuknya produk impor tetap menjadi tantangan bagi produsen nasional,” lanjutnya.

Baca JugaEkspansi Manufaktur Dibayangi Kenaikan Harga Produksi

Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas), Fajar Budiono, mengatakan, fleksibilitas penggunaan feedstock menjadi semakin penting bagi industri petrokimia.

Perkembangan teknologi memungkinkan sejumlah fasilitas produksi menggunakan kombinasi nafta, LPG, dan kondensat sebagai bahan baku. Dengan demikian, produsen dapat menyesuaikan komposisi feedstock berdasarkan harga dan ketersediaan masing-masing bahan.

“Dulu kita 100 persen menggunakan Nafta. Siklus harga LPG ini fluktuatif; saat musim dingin harganya lebih mahal dari Nafta, tapi saat musim panas harganya bisa jauh di bawah Nafta. Jadi, pabrik bisa mengatur secara fleksibel persentase campuran mana yang menghasilkan margin maksimum,” ujar Fajar.

Menurut Fajar, fleksibilitas tersebut juga memperkuat ketahanan pasokan karena industri tidak hanya bergantung pada satu jenis bahan baku.

Selain mempertahankan fleksibilitas feedstock, industri juga mendorong pengembangan sumber bahan baku alternatif dari dalam negeri. Salah satu peluang yang dinilai potensial adalah pengembangan Coal-to-Chemical melalui gasifikasi batubara.

Teknologi tersebut dapat mengolah batu bara menjadi metanol yang selanjutnya dapat dikembangkan menjadi bahan baku petrokimia seperti ethylene dan propylene.

“Teknologi Coal-to-Petrochemical dari China itu sekarang sudah banyak dan murah. Kendalanya, batubara kita yang low-rank (kalori rendah) itu lokasinya jauh di tengah-tengah Kalimantan atau Sumatera, jauh dari pantai, sehingga ongkos logistiknya mahal,” jelas Fajar.

Selain batu bara, industri juga mulai melihat potensi limbah sawit sebagai sumber bahan baku alternatif. Fajar mengatakan, tandan kosong kelapa sawit dapat diolah menjadi metanol.

Fajar menilai pengembangan feedstock berbasis sumber daya lokal membutuhkan kepastian kebijakan agar investasi dapat berjalan dalam jangka panjang.

“Secara keekonomian memang sudah masuk, cuma daya tahannya (endurance) butuh dukungan kebijakan pemerintah. Investasinya kalau sudah ada payung hukumnya yang jelas (head-to-head dengan energi fosil), pasti investasi itu akan masuk,” katanya.

Pembangunan

Di tengah tantangan tersebut, pemerintah mencatat rencana investasi industri kimia berbasis minyak bumi sekitar 52 miliar dolar AS. Sejumlah proyek yang didorong antara lain pembangunan fasilitas soda kaustik oleh PT Chandra Asri Alkali dengan target operasi komersial pada triwulan I-2027. Produk tersebut dibutuhkan untuk berbagai sektor, termasuk pengolahan air dan industri pengolahan mineral.

Rencana investasi lain mencakup penambahan kapasitas produksi SAP (untuk popok dan pembalut) oleh PT Nippon Shokubai Indonesia sebesar 50.000 ton per tahun dengan nilai investasi 114 juta dolar AS dan target operasi komersial pada triwulan III-2027.

Lalu, PT Polytama Propindo merencanakan pembangunan fasilitas polipropilena (PP) berkapasitas 300.000 ton per tahun dengan nilai investasi sekitar 450 juta-500 juta dolar AS dan target operasi komersial pada triwulan II-2029.

Bimo mengingatkan, rencana investasi tersebut perlu didukung kepastian kebijakan dan pasar agar dapat direalisasikan. Industri petrokimia hulu merupakan industri padat modal dengan periode pembangunan panjang. Karena itu, pengembangan kapasitas tidak dapat dilepaskan dari penguatan industri antara dan hilir sebagai penyerap produk petrokimia.

Menurut dia, pengembangan industri petrokimia perlu dilakukan secara terintegrasi dari hulu hingga hilir. Dengan ekosistem yang kuat, industri dalam negeri diharapkan tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan bahan baku domestik, tetapi juga menghasilkan produk bernilai tambah untuk pasar ekspor.

Pengembangan bahan baku alternatif, termasuk berbasis batubara dan hayati, serta penguatan industri daur ulang plastik juga dapat menjadi bagian dari strategi jangka panjang.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Mengawal Keberlanjutan Pesisir Tanjung Benoa Bali Melalui Penanaman Mangrove
• 3 jam lalu
0
thumb
Persebaya Surabaya Sedang Terpuruk, Shin Tae-yong Justru Wanti-wanti Persija Jakarta
• 16 jam lalu
0
thumb
Kasus Penyadapan Presiden Berpotensi Meluas, Operator hingga Vendor Alat Bisa Ikut Terseret
• 12 jam lalu
0
thumb
Dirut KAI Membantah Kabar Penyitaan Rp2 Milyar oleh KPK
• 11 jam lalu
0
thumb
Video:Bitcoin Anjlok ke Level USD 76.000,Pasar Kripto Ikut Tertekan
• 23 jam lalu
0
Berhasil disimpan.