Iran Antara Harapan Damai dan Keraguan Usai Pemilu Sela AS

detik.com
13 jam lalu
Cover Berita
Teheran -

Kekalahan Partai Republik dalam pemilu sela Amerika Serikat tidak akan mengubah permusuhan Washington terhadap Iran. Pesan itu disampaikan Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Mojtaba Khamenei, dalam pernyataan tertulis.

Menurut Khamenei, harapan bahwa perubahan konfigurasi politik di Amerika akan mengubah pendekatan negara itu terhadap Iran merupakan ilusi. Begitu pula anggapan bahwa konsesi dari Teheran dapat meredakan sikap bermusuhan Washington.

"Iran tidak akan mengubah posisinya hanya karena Partai Republik kehilangan mayoritas," kata Mohammad Sadegh Javadi Hesar, jurnalis sekaligus politikus partai reformis Etemad-e Melli, kepada Deutsche Welle. Hesar, yang beberapa kali ditahan karena sikap kritisnya, menilai keputusan untuk mengakhiri konflik tetap berada di tangan Amerika Serikat. Adapun Iran, kata dia, akan bertahan pada tuntutannya.

'Pergantian rezim' di Amerika

Ketua Parlemen Iran sekaligus kepala negosiator, Mohammed Bagher Ghalibaf, membaca hasil pemilu sebagai penolakan publik Amerika terhadap perang.

"Warga Amerika telah mengatakan tidak pada perang," tulisnya di platform X. "Dan kami mendukung pesan itu."

Menurut Ghalibaf, hasil tersebut tidak hanya dipengaruhi pertimbangan moral, tetapi juga meningkatnya biaya hidup yang dirasakan warga Amerika.

Penilaian serupa datang dari Mohsen Rezaee, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran. Ia menyebut hasil pemilu itu sebagai kekalahan politik Donald Trump. Menurut Rezaee, Iran telah memberikan kekalahan strategis kepada presiden Amerika Serikat itu, bukan hanya di medan konflik dan Selat Hormuz, tetapi juga di Washington.

Ia bahkan memperingatkan bahwa rakyat Amerika kini harus menanggung biaya perang. "Siapa pun yang berhadapan dengan Iran akan membayar harganya, dari medan tempur hingga ke depan pintu rumahnya sendiri," tulisnya.

Trump sebelumnya menyebut pergantian rezim di Iran sebagai tujuan perang. Sindiran muncul dari portal berita Etelaat Online. "Pergantian rezim memang terjadi, tetapi di Amerika," tulis media tersebut.

Situs yang berafiliasi dengan harian Etelaat, surat kabar tertua yang masih terbit di Iran sejak 1926 itu, kemudian mengangkat pertanyaan lain: setelah kekalahan politik Trump, apakah Washington akan tetap menempuh jalur militer atau berupaya keluar dari kebuntuan melalui tekanan ekonomi dan diplomasi.

Dari Carter ke Trump

Kantor berita Mehr News Agency (MNA), yang berada di bawah Organisasi Propaganda Islam Iran, menarik garis sejarah antara situasi Trump dan nasib Jimmy Carter pada awal 1980-an.

MNA mengingatkan kembali krisis penyanderaan di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Teheran pada 1979. Saat itu mahasiswa revolusioner Iran menyandera puluhan warga Amerika. Pemerintahan Carter kemudian mencoba membebaskan mereka melalui operasi militer pada April 1980.

Operasi itu gagal. Beberapa bulan kemudian, Carter kalah dalam pemilihan presiden dari Ronald Reagan.

Menurut MNA, kegagalan operasi tersebut membuktikan bahwa kekuatan militer Amerika tidak mampu menyelesaikan krisis Iran pada masa itu.

'Tak ada bedanya gajah dan keledai'

Kantor berita Tasnim yang dekat dengan Korps Garda Revolusi Iran menyajikan tafsir yang lebih lugas. Bagi mereka, tidak ada perbedaan mendasar antara Partai Republik dan Partai Demokrat.

"Tak ada bedanya gajah dan keledai," tulis Tasnim, merujuk pada simbol kedua partai politik Amerika.

Media itu menilai kekalahan Trump juga merupakan kekalahan pribadi yang berakar pada perang melawan Iran.

Untuk menggambarkan hubungan kedua partai, Tasnim mengutip pepatah Persia: "Anjing kuning adalah saudara serigala." Maknanya, Republik dan Demokrat pada akhirnya memiliki sikap yang serupa terhadap Iran maupun negara-negara yang mereka cap sebagai "negara pembangkang".

Dampak global

Hossein Alizadeh, analis politik dan pakar hubungan internasional, menilai dinamika politik di Amerika selalu memiliki dampak yang melampaui batas negaranya.

"Amerika Serikat adalah negara adidaya dan kekuatan hegemonik. Karena itu, apa yang terjadi di sana berpengaruh terhadap seluruh dunia, dari Meksiko dan Kanada hingga Uni Eropa, China, dan tentu saja Timur Tengah," katanya kepada Deutsche Welle.

Alizadeh pernah mengabdi selama 22 tahun dalam dinas diplomatik Iran sebelum mengundurkan diri pada 2010 sebagai bentuk protes terhadap rezim. Sejak itu ia tinggal di Finlandia.

Menurut dia, peluang terjadinya eskalasi militer besar-besaran oleh Amerika Serikat relatif kecil. Meski Demokrat juga memusuhi Republik Islam, pendekatan mereka berbeda dengan pemerintahan Trump.

Jika Trump lebih mengandalkan tekanan dan konfrontasi, Demokrat cenderung membuka ruang kompromi diplomatik dengan Teheran. Pendekatan itu terlihat ketika pemerintahan Barack Obama mencapai kesepakatan nuklir 2015 yang menempatkan program nuklir Iran di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Kesepakatan tersebut kemudian ditinggalkan secara sepihak oleh Trump pada masa jabatan pertamanya.

Alizadeh menilai baik Partai Demokrat maupun sekutu-sekutu Amerika tidak pernah benar-benar mendukung perang melawan Iran. Sebaliknya, mereka berulang kali mengingatkan risiko yang dapat ditimbulkannya.

Risiko itu, menurut dia, kini mulai terlihat. Penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran telah mengganggu salah satu jalur perdagangan minyak terpenting dunia. Dampaknya menjalar ke berbagai negara melalui kenaikan harga energi dan bahan bakar.

Meski begitu, Alizadeh mengingatkan bahwa arah perkembangan krisis dalam beberapa hari mendatang masih sulit diprediksi.

Artikel ini pertama kali terbit dalam Bahasa Jerman

Diadaptasi oleh Rizki Nugraha

Editor: Ayu Purwaningsih

width="1" height="1" />

Tonton juga video "Klaim Trump: Iran Tak Punya Uang, Angkatan Laut-Udara Mereka Telah Lenyap!"




(nvc/nvc)

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Tergiur Gaji Rp40 Juta, Pria Tulungagung Nyaris Jadi Tentara Bayaran Rusia
• 2 jam lalu
0
thumb
Danantara Siapkan Pendanaan Besar Proyek Mobil Nasional
• 10 jam lalu
0
thumb
KRL Produksi INKA Rangkaian Kedelapan Siap Beroperasi Mulai 1 Desember 2026
• 9 jam lalu
0
thumb
BEI Ungkap Masih Punya 9 Perusahaan Antre IPO, Ini Sebaran Sektor dan Asetnya
• 9 jam lalu
0
thumb
IPL Siapkan Liga Tenis Meja Elite pada 2027
• 12 jam lalu
0
Berhasil disimpan.