Praktik perekaman diam-diam di toilet wanita di Tiongkok semakin merajalela. Investigasi penyamaran yang dilakukan seorang jurnalis media daratan Tiongkok menemukan bahwa lebih dari 140.000 perempuan telah menjadi korban perekaman ilegal tersebut.
Para pelakunya bukan hanya orang-orang dengan latar belakang pendidikan tinggi, tetapi juga eksekutif perusahaan. Motif utama mereka adalah memperoleh keuntungan finansial. Bahkan, video yang menampilkan korban di bawah umur dapat dijual dengan harga 5 hingga 10 kali lebih mahal dibandingkan video korban dewasa.
EtIndonesia.com Menurut laporan media Elephant News pada 5 November, di sebuah toilet umum wanita yang tampak biasa, para perempuan keluar masuk seperti biasa tanpa menyadari bahwa kamera tersembunyi di sudut ruangan sedang merekam seluruh aktivitas mereka.
Zhou Ninghe, seorang relawan yang aktif memerangi praktik perekaman diam-diam, menyimpan sejumlah terabita video semacam itu di dalam hard disk miliknya. Selama lebih dari satu tahun terakhir, ia melakukan penyelidikan dan menemukan bahwa operasi industri ilegal perekaman diam-diam telah memiliki sistem yang sangat terorganisasi.
Para pelaku berpindah-pindah ke berbagai tempat, seperti hotel dan toilet umum, untuk memasang perangkat perekam tersembunyi, merekam aktivitas pribadi korban, kemudian menjual videonya.
Sementara itu, para pembeli atau pengepul menyebarkan konten hasil rekaman tersebut melalui grup gratis atau berbiaya murah untuk menarik pengguna. Selanjutnya, mereka mengarahkan pengguna agar membayar untuk menonton siaran langsung hasil perekaman ilegal, atau menyunting video tersebut sebelum mendistribusikannya ke situs-situs pornografi.
Dalam proses ini, pelaku perekaman dan para pengepul sering kali tidak saling mengenal. Kondisi tersebut semakin menyulitkan proses pengumpulan bukti dan penetapan hukuman terhadap para pelaku.
Karena itu, Zhou Ninghe terus mengumpulkan petunjuk melalui platform media sosial dan membantu korban melaporkan kasus kepada polisi. Berdasarkan statistik yang dihimpunnya, kasus serupa ditemukan di seluruh wilayah Tiongkok.
Hasil investigasi menunjukkan bahwa praktik perekaman tersembunyi di hotel paling banyak terjadi di penginapan kelas menengah ke bawah dan hotel jaringan kecil di sekitar kawasan universitas.
Sementara itu, kamera tersembunyi di toilet umum ditemukan di berbagai tempat, termasuk pusat perbelanjaan dan bar. Toilet di pusat perbelanjaan kelas atas dan bar dinilai sangat berisiko. Hal ini karena pencahayaan yang memadai serta menurunnya kewaspadaan perempuan setelah mengkonsumsi alkohol membuat mereka lebih mudah menjadi sasaran.
Mengenai jumlah perempuan yang menjadi korban, rekaman yang tersimpan di hard disk Zhou Ninghe saja memperlihatkan sekitar 200.000 hingga 300.000 orang. Setelah data yang berulang dihapus, jumlah korban diperkirakan mencapai sekitar 140.000 orang.
Dari segi persebaran geografis, Provinsi Shandong menjadi wilayah dengan kasus paling parah. Sekitar 80–90 persen kota setingkat prefektur di provinsi tersebut memiliki kasus serupa. Wilayah berikutnya adalah Sichuan, disusul Guangdong, Guangxi, serta daerah pesisir lainnya yang memiliki perekonomian relatif maju.
Hal yang cukup mengejutkan, para pelaku perekaman diam-diam ternyata tidak semuanya sesuai dengan stereotip laki-laki mesum yang selama ini dibayangkan masyarakat.
Zhou Ninghe mengatakan, “Sebenarnya, ada juga perempuan yang menjadi pelaku perekaman diam-diam. Bahkan, ada pasangan suami istri yang melakukannya bersama-sama. Dari segi pekerjaan, pelakunya juga mencakup kalangan profesional, orang-orang berpendidikan tinggi, hingga eksekutif perusahaan.”
Ia berpendapat, “Jika hanya didorong oleh hasrat seksual, tindakan merekam secara diam-diam seperti ini sebenarnya tidak akan berlangsung lama. Yang menjadi motivasi untuk terus melakukannya adalah kemampuan memperoleh keuntungan dari praktik tersebut.”
Perekaman Diam-Diam Membentuk Rantai Industri IlegalPeredaran konten hasil perekaman ilegal tersebut kini telah membentuk pola yang terorganisasi.
Dalam sebuah grup aplikasi komunikasi terenkripsi yang dimasuki wartawan melalui penyamaran, terdapat 4.334 anggota yang menyebut diri mereka sebagai “penggemar wanita” atau langyou. Ratusan anggota sering kali berada dalam jaringan secara bersamaan untuk bertukar atau membeli video hasil perekaman diam-diam.
Ketika wartawan mencoba masuk ke sebuah “grup eksklusif perekaman diam-diam”, ternyata terdapat persyaratan khusus. Calon anggota harus menyerahkan video hasil rekaman ilegal yang mereka buat sendiri sebagai syarat untuk bergabung.
Berdasarkan petunjuk yang diperoleh, wartawan kemudian mengakses sebuah forum internet. Di sana, hampir semua video hasil perekaman ilegal yang dibeli dengan uang pada akhirnya mengarah ke layanan penyimpanan berkas daring (cloud storage).
Para penonton mengira mereka hanya membeli sebuah video. Padahal, mereka sebenarnya telah menjadi mata rantai terakhir dalam industri ilegal tersebut.
Rantai bisnisnya berlangsung sebagai berikut: pelaku merekam dan menjual video, pengepul membeli video, forum menyediakan tautan, layanan penyimpanan daring memungut biaya keanggotaan, sedangkan penonton membayar untuk mengunduh video.
Hasil investigasi menemukan bahwa video hasil perekaman tersembunyi di hotel biasanya hanya menampilkan satu atau dua korban. Harga setiap video berkisar dari puluhan hingga lebih dari seratus yuan, tergantung pada penampilan fisik dan bentuk tubuh korban.
Sementara itu, video hasil perekaman di toilet biasanya dijual dalam bentuk kumpulan atau kompilasi yang menampilkan banyak korban. Harganya lebih tinggi dibandingkan video yang direkam di hotel.
Video yang menampilkan korban di bawah umur bahkan dijual jauh lebih mahal, yakni 5 hingga 10 kali lipat dibandingkan video yang menampilkan perempuan dewasa.
Zhou Ninghe pernah menelusuri kasus pemasangan kamera tersembunyi di toilet sebuah sekolah dasar di Yongzhou, Provinsi Hunan. Kamera tersebut telah terpasang selama sekitar enam bulan dan melibatkan lebih dari seratus anak perempuan di bawah umur.
Pada akhirnya, dengan bantuan Zhou, polisi berhasil menangkap tersangka pada Juni 2026.
Ia mengatakan bahwa meskipun pelaku telah ditangkap, begitu video tersebut diunggah ke internet, penyebarannya dapat berlangsung selamanya. Selama terus melakukan upaya pemberantasan, dirinya juga menghadapi ancaman pembunuhan.
Menanggapi kasus tersebut, banyak warganet menyampaikan keraguan sekaligus kemarahan:
- “Industri ilegal macam apa ini? Ini jelas merupakan tindak kejahatan!”
- “Apa gunanya merekam orang secara diam-diam seperti ini? Benar-benar tidak waras.”
- “Pengelola hotel dan toilet umum seharusnya diwajibkan menyediakan peralatan khusus serta melakukan pemeriksaan secara berkala.”
- “Benar-benar menjijikkan. Moralitas seluruh masyarakat sudah merosot. Jika tidak ada pasar bagi konten semacam ini, tidak mungkin begitu banyak orang memasang kamera tersembunyi di toilet untuk merekam privasi perempuan.”
Sebenarnya, kalangan akademisi di Tiongkok telah lama melakukan penelitian terkait praktik perekaman diam-diam di toilet.
Dalam sebuah makalah akademis yang diterbitkan pada Maret tahun ini, seorang peneliti bernama Fan Xuan menjadi sasaran kritik keras dari masyarakat dan para pakar. Ia diketahui telah melakukan pengamatan jangka panjang di toilet taman kanak-kanak dan mencatat secara terperinci aktivitas buang air serta hal-hal pribadi anak-anak berusia 3 hingga 6 tahun.
Tindakan tersebut menuai kecaman karena dinilai menggunakan kedok penelitian akademis untuk melakukan “pengintaian terhadap privasi”, sekaligus melampaui batas-batas etika.
Sumber : NTDTV.com






Komentar (0)