Transaksi Derivatif Aset Kripto Tumbuh 27,19 Persen pada September 2026

republika.co.id
3 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA – Transaksi derivatif aset keuangan digital di Indonesia mencapai Rp 5,8 triliun pada September 2026, tumbuh 27,19 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Pertumbuhan tersebut terjadi seiring meningkatnya aktivitas perdagangan aset kripto yang juga mencatat nilai transaksi Rp 30,56 triliun pada periode yang sama.

Berdasarkan siaran pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) November Otoritas Jasa Keuangan (OJK), nilai transaksi aset kripto meningkat 31,96 persen secara bulanan. Sementara itu, jumlah akun konsumen Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) mencapai 23,51 juta akun, naik 1,29 persen dibandingkan Agustus 2026.

Baca Juga
  • Pasar Kripto Kembali Bergejolak, Ini Faktor yang Perlu Dicermati
  • Peretasan Binance Rugikan Triliunan Rupiah, OJK Ingatkan Industri Kripto RI
  • Indonesia Kembangkan Teknologi Kriptografi Hadapi Era Komputasi Kuantum

Perkembangan transaksi derivatif juga terlihat di pasar global. Berdasarkan laporan September Exchange Monthly Report dari CoinMarketCap Research yang diterbitkan pada Oktober 2026, volume perdagangan derivatif pada 11 bursa kripto yang dipantau mencapai 4,06 triliun dolar AS sepanjang September 2026, meningkat 11,4 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Dari total volume perdagangan spot dan derivatif sebesar 4,83 triliun dolar AS, instrumen derivatif menyumbang sekitar 84,2 persen. Data tersebut menunjukkan besarnya porsi perdagangan derivatif pada bursa yang masuk dalam cakupan laporan.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Direktur Operasional Bittime, Ryan Lymn, mengatakan pertumbuhan transaksi derivatif di Indonesia menunjukkan perkembangan aktivitas perdagangan aset keuangan digital. Menurut dia, perkembangan di pasar global juga memperlihatkan peran instrumen derivatif dalam perdagangan aset kripto.

“Jika melihat pasar global, derivatif juga memiliki porsi yang signifikan dalam volume perdagangan. Hal ini memperlihatkan bahwa instrumen tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam dinamika pasar aset kripto, sekaligus menegaskan pentingnya pemahaman konsumen terhadap karakteristik dan risikonya,” ujar Ryan dalam keterangan tertulis, Jumat (6/11/2026).

Berbeda dengan perdagangan spot yang melibatkan pembelian dan penjualan aset secara langsung, perdagangan Futures memungkinkan pengguna mengambil posisi berdasarkan pergerakan harga aset kripto melalui kontrak derivatif.

Bittime menyediakan 49 pasangan perdagangan aset kripto melalui produk Futures, dengan pilihan leverage hingga 25 kali serta mekanisme Cross Margin dan Isolated Margin. Fitur tersebut memberikan pilihan pengaturan margin bagi pengguna dalam menjalankan strategi perdagangan.

Ryan mengingatkan pengguna untuk memahami mekanisme kontrak dan risiko penggunaan leverage sebelum bertransaksi. Perubahan harga yang berlawanan dengan posisi perdagangan dapat menimbulkan kerugian, termasuk risiko likuidasi ketika persyaratan margin tidak lagi terpenuhi.

“Setiap instrumen perdagangan memiliki karakteristik yang berbeda. Pada Futures, pengguna perlu memahami mekanisme kontrak, penggunaan leverage, serta konsekuensi dari perubahan harga terhadap posisi yang diambil. Karena itu, keputusan perdagangan sebaiknya didasarkan pada analisis dan perencanaan risiko, bukan semata-mata mengikuti pergerakan pasar,” jelas Ryan.

Selain risiko perdagangan, keamanan aset digital juga menjadi perhatian regulator. Dalam siaran pers RDKB November, OJK menyoroti insiden keamanan siber yang melibatkan salah satu platform aset kripto global pada September 2026. OJK menyatakan terus memantau perkembangan insiden tersebut dan potensi dampaknya terhadap industri aset kripto di Indonesia.

OJK juga mengimbau masyarakat menggunakan layanan PAKD yang telah berizin dan diawasi serta memahami risiko dalam aktivitas perdagangan maupun penyimpanan aset kripto.

Ryan mengatakan pertumbuhan industri aset digital perlu diikuti peningkatan literasi dan kesadaran terhadap keamanan. Pengguna perlu memahami produk yang digunakan, mempertimbangkan kemampuan finansial, dan menerapkan pengelolaan risiko.

“Pertumbuhan industri aset digital perlu berjalan seiring dengan peningkatan literasi dan kesadaran terhadap keamanan. Pengguna perlu memahami produk yang digunakan, mempertimbangkan kemampuan finansial, serta menerapkan pengelolaan risiko secara disiplin. Dengan demikian, perkembangan industri dapat didukung oleh ekosistem yang lebih bertanggung jawab,” kata Ryan.

.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;} @font-face { font-family: "LPMQ"; src: url("https://static.republika.co.id/files/alquran/LPMQ-IsepMisbah.ttf") format("truetype"); font-weight: normal; font-style: normal } .arabic-text { font-family: "LPMQ"; font-weight: normal !important; direction: rtl; text-align: right; font-size: 2.5em !important; line-height: 49px !important; }

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
IKA ITS Usulkan Reformasi UU Tipikor, Pertegas Batas Keputusan Bisnis dan Korupsi
• 6 jam lalu
0
thumb
MOD Super Bear Adventure Gambar Kucing, Ini Update Terbarunya
• 2 jam lalu
0
thumb
Video: Pasar BergejoIak, IHSG Diramal Bergerak 5.000- 5.500 Akhir 2026
• 20 jam lalu
0
thumb
Viral Sport Massage di GBK Diduga Lakukan Pelecehan Seksual ke Sejumlah Perempuan
• 11 jam lalu
0
thumb
Kompas yang Berubah Arah: Ke Mana Talenta Bisnis Dunia Kini Belajar?
• 2 jam lalu
0
Berhasil disimpan.