Pantau - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Cirebon, Jawa Barat, tengah menyiapkan konsep pengembangan daerah untuk menjadikan Kota Cirebon sebagai model ekonomi kreatif (ekraf) nasional dengan mengandalkan kekayaan budaya, kawasan bersejarah, serta kolaborasi berbagai pelaku industri kreatif.
Konsep tersebut ditargetkan diajukan kepada Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) pada Desember 2026 sebagai langkah awal pengembangan ekosistem ekonomi kreatif berbasis potensi lokal.
Kepala Disbudpar Kota Cirebon, Agus Sukmanjaya, mengatakan gagasan tersebut muncul setelah Kemenekraf melihat langsung potensi budaya dan kolaborasi antarpemangku kepentingan melalui kegiatan IDE.IND.
Menurut Agus, Kemenekraf menilai kekayaan budaya Kota Cirebon memiliki potensi besar untuk menjadi sumber inspirasi bagi masyarakat dalam menciptakan berbagai produk dan inovasi ekonomi kreatif.
"Karena mereka melihat bahwa satu kekayaan budaya Cirebon itu menjadi inspirasi untuk tumbuhnya ide-ide kreatif," ujar Agus.
Ia menjelaskan bahwa Kota Cirebon memiliki sejumlah modal penting dalam pengembangan ekonomi kreatif, mulai dari warisan budaya, komunitas kreatif, dunia usaha, perguruan tinggi, media, hingga dukungan pemerintah daerah.
Kolaborasi berbagai unsur tersebut dinilai menjadi salah satu kekuatan utama dalam membangun ekosistem ekonomi kreatif yang berkelanjutan.
Disbudpar Cirebon Siapkan Konsep Pengembangan Ekonomi KreatifAgus menilai luas wilayah Kota Cirebon yang relatif kecil justru memberikan keuntungan dalam mengoordinasikan berbagai subsektor ekonomi kreatif dibandingkan daerah dengan cakupan wilayah lebih luas.
Kondisi tersebut dinilai mempermudah komunikasi dan kerja sama antara pemerintah daerah, komunitas, pelaku usaha, perguruan tinggi, serta media dalam mengembangkan berbagai kegiatan kreatif.
"Ekosistem di Kota Cirebon sudah cukup bagus. Artinya, bagaimana kemudian kolaborasi antara pemerintah daerah, dunia usaha, komunitas, media, perguruan tinggi itu sudah cukup bagus," ungkap Agus.
Sebagai tindak lanjut, Disbudpar Kota Cirebon bersama sejumlah pihak terkait sedang merumuskan konsep pengembangan ekonomi kreatif yang akan diajukan kepada Kemenekraf.
Konsep tersebut akan mengintegrasikan kawasan yang telah memiliki aktivitas budaya, pendidikan, pariwisata, dan ekonomi masyarakat agar dapat berkembang menjadi pusat kegiatan kreatif.
Salah satu pendekatan yang disiapkan adalah memanfaatkan kawasan cagar budaya sebagai ruang aktivitas ekonomi kreatif tanpa menghilangkan fungsi pelestarian warisan budaya.
Melalui pendekatan tersebut, kawasan bersejarah diharapkan tidak hanya menjadi tempat kunjungan wisata, tetapi juga dapat mendukung pengembangan usaha dan kreativitas masyarakat.
Museum Topeng dan Tabalong Diproyeksikan Jadi Pusat Kegiatan KreatifSalah satu lokasi yang dinilai memiliki potensi pengembangan adalah Museum Topeng di Kota Cirebon.
Agus menjelaskan bahwa Museum Topeng dapat dikembangkan menjadi ruang kegiatan kreatif berbasis budaya sehingga pemanfaatannya tidak terbatas pada penyajian koleksi museum.
Sejumlah kegiatan yang berpotensi dikembangkan di lokasi tersebut meliputi lokakarya batik, forum diskusi, pengembangan industri kreatif, serta berbagai aktivitas literasi.
Selain Museum Topeng, Disbudpar Kota Cirebon juga melihat peluang pengembangan ekonomi kreatif di kawasan Tabalong atau Taman Bacaan Cikalong yang dikenal sebagai Sinau Tabalong.
Kawasan yang berada di bantaran Sungai Cikalong tersebut merupakan ruang terbuka hijau sekaligus pusat edukasi bagi masyarakat dan anak-anak.
Tabalong telah ditata sebagai kawasan yang mendukung pemeliharaan utilitas sungai agar tetap bersih dan asri, sekaligus dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan pembelajaran.
Pengembangan kawasan tersebut melibatkan kolaborasi pemerintah daerah, komunitas, badan usaha milik negara (BUMN), serta Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).
Salah satu bentuk kerja sama yang telah dilaksanakan adalah pengembangan paket wisata edukasi EduTrain.
"Selain itu, kawasan Tabalong telah memiliki kolaborasi antara pemerintah daerah, komunitas, BUMN, dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), termasuk melalui paket wisata edukasi EduTrain," jelas Agus.
Keberadaan kawasan edukasi tersebut menjadi salah satu potensi yang akan dipertimbangkan dalam penyusunan konsep pengembangan Kota Cirebon sebagai model ekonomi kreatif nasional.
Kawasan Keraton dan Kuliner Tradisional Masuk Potensi PengembanganSelain Museum Topeng dan Tabalong, kawasan keraton di Kota Cirebon juga dinilai memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai pusat ekonomi kreatif berbasis budaya.
Pengembangan kawasan tersebut dapat melibatkan berbagai pihak, termasuk Bank Indonesia dan pelaku usaha kuliner tradisional.
Salah satu aktivitas ekonomi berbasis budaya yang telah berkembang di kawasan keraton adalah kuliner tradisional Pawon Bogana.
Kuliner tersebut menjadi bagian dari potensi ekonomi kreatif yang dapat dikembangkan melalui penguatan kolaborasi dan pemanfaatan kekayaan budaya lokal.
Disbudpar Kota Cirebon berupaya menghubungkan berbagai potensi tersebut agar kawasan bersejarah, kegiatan kuliner, industri kreatif, dan aktivitas masyarakat dapat saling mendukung.
Pengintegrasian berbagai kegiatan tersebut diharapkan dapat memperkuat ekosistem ekonomi kreatif sekaligus membuka peluang pengembangan usaha bagi masyarakat setempat.
Mahasiswi UIN Cirebon Kembangkan Sabun dari Minyak JelantahPotensi kreativitas masyarakat Kota Cirebon juga terlihat dalam kegiatan IDE.IND yang berlangsung pada Kamis, 5 November 2026.
Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi pelaku ekonomi kreatif lokal untuk menampilkan berbagai produk inovatif yang dikembangkan dari potensi dan kebutuhan masyarakat.
Salah satu inovasi yang ditampilkan adalah sabun berbahan dasar minyak jelantah atau minyak goreng bekas yang dikembangkan oleh Suci Zaitiani, mahasiswi UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, bersama tiga rekannya.
Produk tersebut dikembangkan sebagai bentuk pemanfaatan limbah rumah tangga menjadi barang yang memiliki nilai guna.
Suci menjelaskan bahwa gagasan pembuatan sabun tersebut berawal dari upaya memanfaatkan minyak goreng bekas yang selama ini kerap dibuang setelah digunakan.
Melalui proses pengolahan dan sejumlah percobaan, minyak jelantah kemudian dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan sabun.
Pengembangan produk tersebut membutuhkan waktu sekitar dua bulan hingga Suci dan rekan-rekannya menemukan formula yang dinilai tepat.
"Saya bersama tiga rekan saya, mengembangkan produk tersebut selama sekitar dua bulan melalui sejumlah percobaan hingga menemukan formula yang tepat," ujar Suci.
Inovasi tersebut menjadi salah satu contoh kreativitas mahasiswa dalam mengolah bahan limbah menjadi produk yang memiliki manfaat.
Kehadiran produk inovatif dalam kegiatan IDE.IND juga memperlihatkan potensi generasi muda untuk berkontribusi dalam pengembangan ekonomi kreatif Kota Cirebon.
Konsep Ekonomi Kreatif Cirebon Ditargetkan Diajukan Desember 2026Disbudpar Kota Cirebon terus merumuskan konsep pengembangan ekonomi kreatif dengan mengoptimalkan berbagai potensi yang telah dimiliki daerah.
Kekayaan budaya, kawasan cagar budaya, ruang edukasi, kuliner tradisional, serta inovasi masyarakat akan menjadi bagian dari pendekatan pengembangan ekosistem kreatif tersebut.
Kolaborasi pemerintah daerah, dunia usaha, komunitas, perguruan tinggi, dan media juga akan menjadi salah satu unsur penting dalam mendukung pelaksanaan program.
Pengajuan konsep kepada Kemenekraf pada Desember 2026 diharapkan menjadi langkah awal untuk mendorong Kota Cirebon sebagai model ekonomi kreatif nasional.
Melalui rencana tersebut, Disbudpar Kota Cirebon berupaya memperkuat pemanfaatan potensi budaya lokal dan kreativitas masyarakat untuk mendukung pertumbuhan kegiatan ekonomi kreatif yang berkelanjutan.





Komentar (0)