Jakarta, VIVA - Secangkir kopi dengan karakter rasa yang nikmat tidak hanya ditentukan oleh kualitas biji kopi. Di balik hasil seduhan yang seimbang, ada berbagai faktor yang saling berkaitan, mulai dari tingkat kehalusan gilingan, suhu air, rasio kopi dan air, hingga teknik penyeduhan yang digunakan.
Menariknya, dua orang bisa menggunakan biji kopi yang sama, tetapi menghasilkan cita rasa yang berbeda. Ada seduhan yang terasa lebih manis, sementara lainnya cenderung asam atau memiliki rasa pahit yang lebih dominan. Perbedaan tersebut salah satunya dipengaruhi oleh pemahaman dan keterampilan orang yang menyeduhnya.
Dalam dunia kopi, kemampuan ini dikenal sebagai bagian dari keterampilan seorang brewer. Mereka tidak sekadar mengikuti resep, tetapi juga harus mampu membaca karakter biji kopi dan menentukan teknik yang sesuai untuk mengeluarkan potensi rasa terbaiknya.
Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah proses ekstraksi. Jika ekstraksi tidak berlangsung optimal, karakter rasa kopi bisa berubah. Ekstraksi yang terlalu rendah dapat membuat kopi terasa asam dan kurang berkembang. Sebaliknya, ekstraksi berlebihan berpotensi menghasilkan rasa pahit yang mengganggu keseimbangan seduhan.
Karena itu, seorang brewer perlu memahami bagaimana suhu air, ukuran gilingan atau grind size, serta agitasi memengaruhi hasil akhir. Kemampuan menyesuaikan berbagai variabel tersebut menjadi pembeda antara sekadar menyeduh kopi dan benar-benar memahami proses pembuatannya.
Kemampuan Beradaptasi Menentukan Kualitas SeduhanMenurut Sendydjaja, National Judge Coordinator yang aktif dalam kompetisi brewing Indonesia sejak 2016, kemampuan beradaptasi merupakan salah satu keterampilan penting yang harus dimiliki brewer.
"Compulsory itu tentang skill, experience, dan knowledge. Brewer yang baik, diberi beans apa pun, bisa beradaptasi, membaca beans-nya, lalu menghasilkan brew terbaik," ujarnya.
Kemampuan tersebut dapat terlihat ketika seorang brewer harus menghadapi biji kopi dengan karakter yang belum pernah digunakan sebelumnya. Mereka dituntut melakukan penyesuaian agar rasa yang dihasilkan tetap seimbang.
"Misalnya kopi ini kurang manis, bagaimana membuatnya lebih manis? Atau terlalu asam, perlu diredam. Kemampuan decision making dan adaptasi itulah yang dibutuhkan. Event ini menjadi platform untuk latihan sekaligus benchmark dari feedback juri yang kompeten," tambahnya.






Komentar (0)