Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan mengevaluasi kuota produksi batu bara melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2027. Pemerintah menilai pengajuan produksi dari para penambang cenderung terlalu tinggi sehingga perlu disesuaikan dengan kebutuhan pasar.
Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba), Tri Winarno, mengatakan pemerintah tidak bisa hanya mengikuti besarnya target produksi yang diajukan oleh perusahaan tambang. Pemerintah akan mempertimbangkan kebutuhan produksi yang sesuai sebelum menetapkan kuota batu bara tahun depan.
Menurut Tri, pemerintah perlu mengevaluasi jumlah produksi yang ideal agar kuota yang ditetapkan tidak terlalu tinggi dibandingkan kebutuhan pasar. “Kalau misalnya pemerintah mengikuti kemauan (penambang), terlalu tinggi sekali. Jadi kami kemungkinan akan evaluasi terkait dengan kebutuhan yang pas di angka berapa,” kata Tri di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, pada Jumat (6/11).
Sementara itu, kuota produksi batu bara melalui RKAB tahun ini tercatat sedikit di atas 700 juta ton. Namun, Tri belum dapat memastikan apakah kuota produksi pada 2027 akan lebih rendah dibandingkan tahun ini. "Belum (ada estimasi volume RKAB 2027)," ujarnya.
Produksi Batu Bara RI hingga Juli 2026Kementerian ESDM memproyeksikan jumlah produksi batu bara mencapai 720 juta ton hingga akhir 2026. Prediksi ini dihitung berdasarkan jumlah rata-rata produksi bulanan batu bara.
Dirjen Minerba, Tri Winarno, menyebut hingga Juli, jumlah produksi batu bara sudah sebanyak 423 juta ton. Jika dibagi sama besar, maka rata-rata produksi batu bara sebesar 60 juta per bulan. “Prediksi (produksi hingga akhir tahun) itu 60 juta ton dikalikan 12 bulan, ya 720 juta ton kira-kira,” kata Tri saat ditemui di Jiexpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (10/9).
Tri merinci dari produksi 423 juta ton, 63,82% atau 270 juta ton batu bara diekspor. Sisanya 113, 8 juta ton atau 26,86% diperuntukkan untuk kebutuhan domestik dan 39,51 juta ton atau 9,32% dijadikan stok.
Dia menyebut India dan Cina masih menjadi pasar ekspor utama batu bara Indonesia. Jika dibandingkan tahun lalu, maka jumlah produksi total batu bara tahun ini turun 100 juta ton atau turun 8 juta ton per bulan. Sebab pada 2025 jumlah produksi mencapai 817 juta ton, atau 68 juta ton per bulan.





Komentar (0)