Tak Hanya Nikel! Indonesia Siapkan Diversifikasi Hilirisasi Mineral Kritis

viva.co.id
3 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA - Pemerintah menyiapkan pengembangan rantai industri mineral kritis yang lebih beragam dengan mendorong hilirisasi bauksit, tembaga, dan timah di luar nikel. Hal ini diungkap Koordinator Kerja Sama dan Investasi Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yan Abrar kepada awak media, Jmuat (6/11/2026).

Bahkan kata dia, strategi ini diarahkan untuk memperkuat pasokan bahan baku industri masa depan sekaligus meningkatkan nilai tambah mineral melalui pengolahan, pengembangan material maju, hingga manufaktur.

Baca Juga :
Sidang Putusan Eks Ketua Ombudsman soal Korupsi Tambang Nikel Digelar Hari Ini
Kejagung Periksa Pejabat ESDM terkait Dugaan Korupsi Tambang Batu Bara PT CCM

Lebih lanjut ia menjelaskan, Indonesia memiliki basis sumber daya mineral yang beragam untuk dikembangkan guna memenuhi kebutuhan industri masa depan. Pengembangan tersebut perlu diarahkan tidak hanya pada peningkatan produksi bahan mentah, tetapi juga pada penguatan rantai pengolahan dan pemanfaatan mineral di dalam negeri.

"Bauksit, tembaga, dan timah merupakan sejumlah komoditas yang memiliki peluang untuk memperkuat portofolio industri mineral nasional. Pengembangan komoditas tersebut perlu disesuaikan dengan karakteristik sumber daya, kebutuhan pasar, kesiapan teknologi, dan kelayakan ekonomi," jelasnya.

Untuk diketahui, berdasarkan materi Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Ditjen Minerba), produksi mineral Indonesia hingga September 2026 mencakup 23,43 juta ton bijih bauksit, 114,9 juta ton bijih tembaga, dan 57,24 ribu ton bijih timah. Sementara itu, produksi bijih nikel tercatat mencapai 225,3 juta ton.

Keragaman basis produksi tersebut membuka peluang bagi Indonesia untuk mengembangkan industri mineral yang tidak hanya bertumpu pada nikel.

Bauksit dapat menjadi bahan baku industri alumina dan aluminium yang dibutuhkan sektor konstruksi, kelistrikan, dan manufaktur. Tembaga berperan penting dalam pengembangan jaringan listrik, infrastruktur energi, dan perangkat elektronik. Adapun timah dibutuhkan dalam industri elektronik dan berbagai produk manufaktur.

Peluang pengembangan tersebut semakin besar seiring meningkatnya kebutuhan mineral untuk kendaraan listrik, sistem penyimpanan energi, energi terbarukan, jaringan listrik, pusat data, dan industri elektronik.

Menjelang 2030, perkembangan sektor-sektor tersebut diperkirakan mendorong permintaan berbagai jenis mineral dengan spesifikasi dan kualitas tertentu.

Menurut Yan, peningkatan kebutuhan global perlu direspons dengan memperkuat daya saing industri mineral nasional. Hal itu dilakukan melalui peningkatan volume produksi tambang, serta penguatan kualitas cadangan, pengembangan produk, ketersediaan energi, kesiapan infrastruktur, dan efisiensi logistik.

Baca Juga :
Bahlil Tegaskan Pentingnya Hilirisasi, MIND ID Tunjukkan Manfaat Mineral di Minerba Convex 2026
Hilirisasi Bahan Bakar Nabati Digenjot, Kapasitas Produksi Dibidik Naik
Bukan Cuma Rokok, Tembakau Punya Potensi Jadi Bahan Baku Obat, Kosmetik hingga Bioenergi

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
KPK Sita Rp2 Miliar dari Dirut KAI terkait Kasus Korupsi Digitalisasi SPBU
• 6 jam lalu
0
thumb
Kepala Keamanan Iran Temui Putin di Moskow, Bahas Apa?
• 3 jam lalu
0
thumb
Pria di Bekasi Diculik hingga Diperas Polisi Gadungan, 4 Pelaku Ditangkap!
• 16 jam lalu
0
thumb
The 26th ICMSS Open: Blue in One, Dorong Koneksi, Kepedulian Sosial, dan Kontribusi
• 4 jam lalu
0
thumb
5 Kebiasaan Orang Benar-Benar Baik Hati di Lingkungan Pertemanan
• 22 jam lalu
0
Berhasil disimpan.