Bentara Budaya dan House of Tugu Old Town Jakarta Rayakan Keberagaman lewat Pameran Batik Peranakan

kompas.tv
9 jam lalu
Cover Berita
Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha bersama para pengunjung melihat detail Batik Peranakan dalam pembukaan pameran Harmony in Diversity, Kamis (5/11/2026) (Sumber: Dokumentasi Bentara Budaya)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Bentara Budaya bersama dengan House of Tugu Old Town Jakarta membuka Pameran Batik Peranakan bertajuk “Harmony in Diversity”, Kamis (6/11/2026) dalam rangka peringatan dua tahun House of Tugu Old Town Jakarta.

Diselenggarakan dalam rangka memperingati dua tahun House of Tugu Old Town Jakarta, pameran ini dibuka pada Kamis (5/11/2026) di House of Tugu Old Town Jakarta dan diresmikan oleh Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI Veronica Tan dan Wakil Menteri Kebudayaan RI Giring Ganesha.

“Kita harus sepakat bahwa batik ini bukan hanyalah karya seni, tetapi salah satu cara untuk tetap menjaga ingatan terhadap asal usul nilai budaya yang diwariskan generasi sebelumnya,” tutur Giring Ganesha, dikutip dari siaran pers yang KompasTV terima.

Baca Juga: Tanggal 10 November Hari Pahlawan 2026 Apakah Libur? Cek Ketetapan SKB 3 Menteri

Pameran yang berlangsung sampai 12 November 2026 ini menghadirkan karya tujuh seniman dan rumah batik dari Jakarta, Cirebon, Pekalongan, dan Lasem. 

Ketujuh seniman batik yang terlibat adalah Dave Tjoa, seniman batik kontemporer dari Jakarta; Giok/Indrawati, seniman batik Kanoman asal Cirebon; Liem Po Hien dari Batik Liem Ping Wie, Pekalongan; Valentina Ekawatiningsih dari Batik Lumintu, Lasem; Sulistyono dari Batik Nyah Kiok, Lasem; Ho Som Nio/Mak Som dari Batik Surya Kencana, Lasem; dan Rudi Siswanto dari Batik Kidang Mas, Lasem.

Keberagaman dalam Selembar Batik

Batik dari ketujuh seniman tersebut menunjukkan kekayaan Batik Peranakan sebagai salah satu wujud perjumpaan budaya Tionghoa dengan tradisi lokal Nusantara. Pengaruh budaya Tionghoa antara lain terlihat pada penggunaan motif burung hong, naga, bunga teratai, serta warna-warna cerah seperti merah, biru, dan hijau yang berpadu dengan unsur-unsur visual setempat.

Kurator Bentara Budaya Frans Sartono, memandang Batik Peranakan sebagai salah satu hasil perjumpaan panjang kebudayaan Tionghoa dengan beragam tradisi lokal Nusantara. Menurut Frans, proses akulturasi tersebut berlangsung selama berabad-abad, tidak hanya melalui kesenian, tetapi juga dalam kehidupan sosial dan tradisi kuliner.

Corporate Communication Director Kompas Gramedia Glory Oyong turut menyampaikan rasa syukurnya masih ada seniman batik peranakan yang merawat kekayaan budaya ini sehingga bisa diapresiasi oleh publik.

Baca Juga: Mahfud MD Ungkap 3 Budaya yang Merusak Profesionalitas Polri, Suap hingga Geng-gengan

"Batik Peranakan ini mencerminkan keterbukaan para seniman, ragam budaya yang meleburkan budaya Tionghoa dengan budaya Indonesia, menjadi batik yang indah yang bisa kita nikmati pada sore ini,” tutur Glory.

Pameran Batik Peranakan “Harmony in Diversity” berlangsung pada 5–12 November 2026 di House of Tugu Old Town Jakarta, Jalan Kali Besar Barat No. 26, Roa Malaka, Tambora, Jakarta Barat.

 

Download KompasTV Apps di TV kamu, sekarang juga di https://app.kompas.tv/. Satu apps untuk semua Video Premium, Breaking News, dan Live Streaming 24/7 dari Kompas Gramedia.

Penulis : Gregorius Tri Hendrawan Manurung Editor : Desy-Afrianti

Sumber : Siaran Bentara Budaya

Tag
  • Batik Peranakan
  • Bentara Budaya
  • House of Tugu Old Town
  • Batik Lasem
  • Batik Pekalongan
Selengkapnya


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Kemendikdasmen Anggarkan Rp12 Triliun Untuk Revitalisasi Bangunan PAUD Se-Indonesia Tahun Ini
• 6 jam lalu
0
thumb
Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi Menutup Karier Internasional
• 20 jam lalu
0
thumb
Prabowo Ingin Bangun Museum Pusat Sejarah Skala Besar di Monas
• 11 jam lalu
0
thumb
Ancaman Bom Kembali Hantui Eropa, Bandara di Denmark dan Ceko Jadi Sasaran
• 5 jam lalu
0
thumb
Menguji Hasil Reformasi Fiskal Indonesia
• 18 jam lalu
0
Berhasil disimpan.