JAKARTA -- Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengungkapkan pergerakan rupiah pada Jumat (6/11/2026) dipengaruhi hasil pemilu paruh waktu AS yang dimenangkan oleh Partai Demokrat. Hasil pemilu tersebut dinilai memberikan pengaruh langsung terhadap dinamika pasar keuangan.
“Hasil pemilu tersebut pada awalnya meningkatkan selera risiko di pasar keuangan global, ditambah dengan berlanjutnya penurunan harga minyak dunia,” kata Josua.
Baca Juga
Peretasan Binance Rugikan Triliunan Rupiah, OJK Ingatkan Industri Kripto RI
Rupiah Masih Berkutat di Rp 18.100-an, Ketegangan Politik Dalam Negeri Turut Beri Tekanan
Sorotan MSCI, Hashim Ingatkan Risiko Rupiah Melemah hingga Rp 21 Ribu
Investor disebut mulai mencermati kembali implikasi dari kemenangan telak Partai Demokrat dalam midterm elections di AS. Kondisi ini memicu aksi jual secara luas di pasar saham AS. Pelaku pasar mulai mengalihkan investasi dari saham-saham terkait Artificial Intelligence (AI) ke aset-aset safe haven. Pengalihan ini terjadi di tengah kekhawatiran sejumlah pejabat Partai Demokrat yang baru terpilih berpotensi mendorong kebijakan yang lebih ketat terhadap industri AI.
Di samping itu, sentimen juga berasal dari rilis data Badan Pusat Statistik (BPS) terkait pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2026 yang secara mengejutkan meningkat menjadi 5,47 persen year on year (yoy) dari 5,29 persen yoy pada kuartal sebelumnya. Akselerasi tersebut terutama ditopang oleh peningkatan pertumbuhan ekspor dan perubahan inventori, di tengah melemahnya permintaan domestik.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
“Untuk perdagangan hari ini, rupiah diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp 18.025–Rp 18.125 per dolar AS,” tutur Josua.
Untuk yield obligasi pemerintah Indonesia sendiri mengalami penurunan di seluruh tenor pada perdagangan Kamis (5/11/2026), didukung oleh membaiknya sentimen risiko di pasar keuangan global serta berlanjutnya penurunan harga minyak dunia. Yield obligasi pemerintah benchmark tenor 5 tahun, 10 tahun, 15 tahun, dan 20 tahun masing-masing turun sebesar 20 basis points (bps), 8 bps, 2 bps, dan 7 bps menjadi 7,38 persen, 7,66 persen, 7,73 persen, dan 7,69 persen.
Sementara itu, aktivitas perdagangan obligasi pemerintah meningkat yang tercermin dari kenaikan total volume transaksi menjadi Rp 25,9 triliun dari Rp 19,46 triliun pada perdagangan sebelumnya. Tren positif perdagangan ini menunjukkan tingginya dinamika transaksi obligasi di pasar modal.
“Namun demikian, kepemilikan investor asing pada obligasi pemerintah Indonesia tercatat turun sebesar Rp 0,68 triliun menjadi Rp 915 triliun per 4 November 2026, setara dengan 12,97 persen dari total outstanding,” katanya.
Komentar (0)