Dampak tersebut tidak hanya muncul ketika HP lama dibuang. Proses pembuatan handphone juga membutuhkan bahan tambang, energi, dan berbagai sumber daya alam. Ketika perangkat diganti sebelum masa pakainya berakhir, kebutuhan untuk memproduksi perangkat baru pun terus meningkat.
Mengutip dari laman United Nations Environment Programme (UNEP) pada Jumat, 6 November 2026, sekitar 80 persen jejak karbon sebuah handphone berasal dari proses manufaktur, sedangkan penggunaan perangkat menyumbang sekitar 16 persen dan transportasi sekitar 3 persen.
Baca Juga :
Schneider Electric Catat Kemajuan Kinerja Keberlanjutan Q3 2026Salah satu dampak lingkungan dari kebiasaan mengganti HP terlalu sering adalah meningkatnya kebutuhan akan perangkat baru. Padahal, produksinya melibatkan berbagai material, termasuk emas, perak, kobalt, timah, tantalum, tungsten, dan tembaga. Penambangan bahan-bahan tersebut membutuhkan sumber daya dan dapat menimbulkan dampak lingkungan.
UNEP menjelaskan bahwa ekstraksi mineral untuk perangkat elektronik berkaitan dengan penggunaan energi dan persoalan lingkungan di sepanjang rantai pasok. Artinya, dampak sebuah HP sudah muncul bahkan sebelum perangkat tersebut sampai ke tangan konsumen.
Masalah berikutnya muncul ketika HP lama tidak lagi digunakan. Perangkat yang dibuang menjadi bagian dari sampah elektronik atau electronic waste (e-waste). Jenis sampah ini mengandung material bernilai yang sebenarnya dapat dipulihkan, tetapi juga bisa mengandung zat berbahaya sehingga membutuhkan penanganan yang tepat.
Mengutip laporan The Global E-waste Monitor 2024 yang disusun oleh International Telecommunication Union (ITU) dan United Nations Institute for Training and Research (UNITAR), dunia menghasilkan 62 juta ton sampah elektronik pada 2022. Dari jumlah tersebut, hanya 22,3 persen yang terdokumentasi dikumpulkan dan didaur ulang secara formal dengan cara yang ramah lingkungan.
Laporan yang sama memperkirakan timbulan sampah elektronik global dapat mencapai 82 juta ton pada 2030 jika tren yang ada berlanjut. Angka ini mencakup berbagai jenis perangkat elektronik, bukan hanya handphone.
Indonesia juga menghadapi tantangan serupa. Data ITU menunjukkan Indonesia menghasilkan sekitar 1,886 juta ton sampah elektronik pada 2022, menjadikannya penghasil sampah elektronik terbesar di Asia Tenggara.
Baca Juga :
Green Flag! Western Sydney University Tembus Top 3 THE Sustainability Impact Ratings 2026Mengurangi dampak lingkungan tidak selalu berarti harus berhenti membeli HP baru. Berikut beberapa alternatif yang dapat dipertimbangakan untuk mengurangi sampah elektronik.
- Gunakan HP lebih lama. Pertimbangkan mengganti perangkat ketika benar-benar dibutuhkan, bukan semata-mata karena model terbaru telah dirilis.
- Rawat perangkat dengan baik. Gunakan pelindung, hindari paparan suhu ekstrem, dan jaga kondisi baterai agar perangkat dapat digunakan lebih lama.
- Jual atau berikan HP lama yang masih berfungsi. Cara ini dapat memperpanjang masa penggunaan perangkat oleh orang lain.
- Salurkan HP rusak ke pengelola sampah elektronik yang tepat. Jangan membuangnya sembarangan bersama sampah rumah tangga karena perangkat elektronik memerlukan penanganan khusus.
- Pertimbangkan kemudahan perbaikan saat membeli HP. Dukungan pembaruan perangkat lunak, ketersediaan suku cadang, dan kemudahan servis dapat membantu memperpanjang masa pakai.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
- URL Berhasil di Salin Sisi Gelap Tren Ganti HP Tiap Tahun: Ancaman Nyata di Balik Gaya Hidup Digital Klik untuk baca: https://www.medcom.id/ekonomi/global/0k8dnXgk-sisi-gelap-tren-ganti-hp-tiap-tahun-ancaman-nyata-di-balik-gaya-hidup-digital
(ANN)






Komentar (0)