Pendidikan Tinggi Atasi Kesenjangan Keterampilan Lulusan dengan Dunia Kerja

kompas.id
6 jam lalu
Cover Berita

Pendidikan tinggi memiliki kekuatan untuk mengubah kehidupan warga menjadi lebih baik. Untuk itu, perguruan tinggi dituntut memperkuat keterampilan teknis dan nonteknis para mahasiswa agar tidak ada kesenjangan antara kompetensi lulusan dan kebutuhan dunia kerja.

Kesiapan perguruan tinggi mengembangkan sejumlah keterampilan yang krusial di era digital, terutama di Asia Pasifik, menjadi topik bahasan utama dalam QS Higher Ed Summit: Asia Pasific 2026, dengan Binus University sebagai penyelenggara, di Nusa Dua, Bali, 3-5 November 2026.  

Dalam diskusi pengantar, Vasanth Sreeram, mahasiswa Nanyang Technological University (NTU) Singapura, mengungkapkan, pendidikan yang mengubah hidupnya. Ayahnya yang tidak lulus sekolah dasar (SD) dan menjadi pendatang di Singapura, bekerja sebagai pekerja konstruksi.

Vasanth mengutarakan, sistem pendidikan, termasuk pendidikan tinggi, cenderung tradisional, yakni kompetitif dan kaku, serta tak ramah bagi mahasiswa neurodivergen atau memiliki gaya belajar mandiri. Padahal, pendidikan yang hanya berorientasi pada pencapaian akademik  bisa membuat potensi  siswa tak berkembang.

Keterampilan mahasiswa akan lebih berkembang dalam proyek wirausaha atau proyek lain. ”Ketika mengerjakan proyek, Anda mendalami prinsip dasar dari berbagai hal, melihat hal-hal nyata bekerja, dan bertemu orang-orang yang bekerja di garda terdepan. Hal ini dapat mengajarkan Anda hal-hal jauh lebih besar dan berdampak,” tuturnya.

Baca JugaKemajuan Negara yang Ditopang Perguruan Tinggi, Jangan Lagi Sekadar ”Omon-omon”
Baca JugaKehadiran Perguruan Tinggi  Dituntut Menavigasi Perubahan

Vasanth menambahkan, mahasiswa membutuhkan wadah simulasi di kehidupan nyata saat bekerja. Namun kadang realitas buatan (fabricated reality) ini bukan cara paling efektif untuk memahami bagaimana sistem kehidupan nyata berperilaku.

”Itulah mengapa penting bagi lebih banyak mahasiswa untuk keluar dari sistem pendidikan mereka dan menjelajahi apa yang ditawarkan dunia. Dunia memiliki jauh lebih banyak hal untuk ditawarkan daripada sekadar apa yang dapat dipandu sekolah atau kampus,” ujarnya.

”Ketika mahasiswa mengeksplorasi sendiri dengan nilai intrinsik mereka, maka para dosen bisa terkejut melihat seberapa banyak yang dapat mahasiswa pelajari, termasuk ketika gagal atau salah,” katanya.

Kesenjangan keterampilan

Namun, CEO QS Quacquarelli Sydmon Jessica Turner memaparkan, saat ini tetap ada keluhan kesenjangan dari keterampilan yang dibangun di kampus dengan yang dibutuhkan di dunia kerja.

”Tuntutan keterampilan dari lulusan dari dunia kerja saat ini begitu tinggi, padahal mereka baru lulus. Ini tidak bisa jadi pekerjaan perguruan tinggi saja, tapi ekosistem dari pemerintah dan industri juga perlu mendukung perguruan tinggi,” kata Jessica.

Dari kajian QS, pada tahun 2030 ekspansi angkatan kerja di seluruh Asia Pasifik diperkirakan terkonsentrasi di sejumlah sektor dengan pertumbuhan tinggi. Sektor ekonomi utama yang tumbuh, yakni kesehatan, teknologi, pendidikan, hingga bisnis. 

Di Asia Timur dan Pasifik diproyeksikan akan mengalami pertumbuhan terkuat di sektor bisnis (hampir 350 juta dalam volume angkatan kerja), sedangkan Asia Selatan  di bidang infrastruktur (sekitar 350 juta pekerja).

”Disrupsi yang didorong kecerdasan buatan atau AI secara berkelanjutan akan membentuk kembali persyaratan keterampilan di berbagai sektor. Ini membuat lembaga pendidikan tinggi harus menyelaraskan jalur pembelajaran dengan kebutuhan industri yang berkembang,” kata Jessica.

Baca JugaProgram Magang, Jembatan Peningkatan Keterampilan Pengangguran Terdidik
Baca JugaMengejar Dampak Pendidikan Tinggi bagi Kemajuan Bangsa

Para pemberi kerja di berbagai sektor ini memprioritaskan serangkaian keterampilan yang bisa ditransfer. Menurut Survei Pemberi Kerja Global QS, keterampilan kerja tim, pemecahan masalah, dan keterampilan komunikasi muncul sebagai prioritas yang berulang di sektor teknologi, kesehatan atau medis, dan keuangan atau perbankan.

Disrupsi yang didorong kecerdasan buatan atau AI secara berkelanjutan akan membentuk kembali persyaratan keterampilan di berbagai sektor.

Pembelajar aktif juga penting bagi para pemberi kerja di bidang teknologi, sementara etika dan tanggung jawab sosial sangat penting di antara mereka yang berada di bidang kesehatan atau medis.

Namun, dua kesenjangan keterampilan terbesar di industri teknologi, keuangan/perbankan, dan kesehatan/medis adalah berpikir kritis dan pemecahan masalah, dengan komunikasi juga menjadi fitur yang menonjol.

Hal ini menunjukkan pemberi kerja makin ditantang oleh keahlian teknis serta kemampuan lulusan menganalisis masalah kompleks dan berkolaborasi secara efektif. Seiring dengan otomatisasi tugas-tugas rutin oleh AI, keterampilan kognitif dan interpersonal tingkat tinggi jadi amat penting, terutama dalam tim berkinerja tinggi.

”Bagi lembaga pendidikan tinggi, kebutuhan untuk mengembangkan individu yang dapat berpikir kritis, memecahkan masalah, dan berkomunikasi secara efektif di berbagai konteks sangat jelas,” ujarnya.

Dari kajian QS, Indonesia menunjukkan profil keterampilan yang relatif kompetitif di kawasan Asia Pasifik, khususnya dalam kerja tim, pemecahan masalah, dan komunikasi.

Meski tertinggal dari Thailand, India, dan Tiongkok di bidang-bidang ini, Indonesia berkinerja lebih baik daripada rata-rata global dalam tujuh dari sepuluh keterampilan yang paling dibutuhkan sehingga memberikan fondasi yang kuat untuk pengembangan tenaga kerja di masa depan.

Namun, kesenjangan penting masih ada di sejumlah bidang, antara lain, kecerdasan emosional, pola pikir keberlanjutan, serta etika dan tanggung jawab sosial. Skor kesenjangan tiga keterampilan tersebut melebihi tolok ukur global.

Hal ini memperkuat meningkatnya permintaan akan lulusan yang dapat melengkapi keahlian teknis dengan keterampilan berpusat pada manusia dan didorong nilai-nilai.

”Pendidikan tinggi di Indonesia perlu memperkuat lulusan dalam pengembangan kecerdasan emosional, kesadaran keberlanjutan, dan pengambilan keputusan etis, sambil meningkatkan keterampilan dasar seperti pemecahan masalah dan komunikasi jadi kunci,” kata Jessica.

Presiden Direktur HP Indonesia Juliana Cen mencontohkan, di satu sisi gen Z di dunia kerja saat ini bisa menggunakan teknologi untuk membantu riset dan presentasi. Namun ketika sudah bekerja, itu hal yang berbeda. Ada keahlian berbeda yang akan dibutuhkan.

”Sebagai contoh, bagaimana Anda membawa ide ini menjadi kenyataan saat Anda membangun hubungan atau berkomunikasi dengan mitra Anda. Itu adalah keahlian lainnya. Kita sebagai manusia tetap perlu menaruh penilaian (judgment) di sana, hubungan, komunikasi, dan empati,” katanya.

Sementara Country Manager INTEL Indonesia Harry K Nugraha menegaskan, dunia kerja saat ini membutuhkan keseimbangan antara pengetahuan fundamental, lalu memanfaatkan AI sebagai alat bantu kerja.

”Di atas semua itu adalah kemampuan keahlian manusia untuk memberikan penilaian. Sebab, mengandalkan AI sepenuhnya tanpa memiliki fundamental yang baik pada dasarnya sangatlah dangkal,” kata Harry menambahkan.

Langkah perguruan tinggi

Rektor Binus University Nelly mengatakan langkah konkret yang diterapkan Binus University untuk mengatasi kesenjangan keterampilan lulusan yang diharapkan dunia kerja, yakni dengan merancang formula khusus atribut lulusan.

Setiap mahasiswa tidak hanya wajib memiliki kompetensi teknis, tetapi juga keahlian nonteknis (soft skills), meliputi kemampuan beradaptasi, kepemimpinan, literasi digital dan teknologi, hingga kolaborasi, kerja tim (teamwork), dan berpikir kritis.

Baca JugaInflasi Kompetensi Lulusan Perguruan Tinggi
Baca JugaIroni Pengangguran Berpendidikan Tinggi di Provinsi dengan Pertumbuhan Tinggi

Selain itu, perlu ada penanaman nilai karakter untuk membangun ketahanan mental mahasiswa menghadapi kegagalan di dunia nyata. ”Kami melatih nilai-nilai karakter dalam tiap aktivitas mahasiswa agar jadi kebiasaan, dari berjuang untuk keunggulan, kegigihan atau pantang menyerah, integritas, inovasi, dan rasa hormat,” kata Nelly.

Ada juga program Wajib ”2+1+1”  atau pembelajaran terintegrasi kerja.  Sistem akademik memberi kesempatan mahasiswa untuk belajar langsung di luar kampus selama 1-2 semester (satu tahun penuh).

Mahasiswa dibebaskan memilih jalur perjalanan (student journey) mereka, magang langsung di industri (internship), menjalankan rintisan bisnis (entrepreneurship), atau belajar di luar negeri (study abroad).

”Ada juga mentorship (bimbingan) bersama antara kampus dan industri. Dalam menyelesaikan masalah nyata di lapangan, mahasiswa Binus tidak dilepas sendiri, tetapi dibimbing secara kolaboratif oleh dosen universitas bersama dengan praktisi dari industri mitra untuk meningkatkan kemampuan mereka memecahkan masalah,” ujarnya.

 

 


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
BKPM Minta Hilirisasi Timah Tak Hanya Mentok di Produk Solder
• 23 jam lalu
0
thumb
Jakarta siap sambut peluang kemitraan baru dari Hangzhou China
• 6 jam lalu
0
thumb
Airlangga ungkap alasan peserta magang nasional masuk kategori pekerja
• 12 jam lalu
0
thumb
AZ Alkmaar Vs Juventus: Spalletti bakal Rotasi Pemain Bianconeri
• 21 jam lalu
0
thumb
Ledakan Gas di Kebon Jeruk Rusak 9 Rumah, 7 Warga Luka-luka hingga Dilarikan ke Rumah Sakit
• 3 jam lalu
0
Berhasil disimpan.